Kontroversi AI di Cover Kingdom Hearts: Square Enix Diam-Diam Revisi Ilustrasi
Baca dalam 60 detik
- Square Enix mengganti sampul Kingdom Hearts Collection I–III setelah penggemar mendeteksi keanehan yang diduga hasil AI.
- Perubahan dilakukan tanpa pernyataan resmi, memicu spekulasi bahwa ilustrasi asli Tetsuya Nomura dimodifikasi dengan AI.
- Kasus ini menambah daftar kekhawatiran industri game global tentang penggunaan AI dalam aset visual tanpa transparansi.

Square Enix diam-diam merevisi sampul Kingdom Hearts Collection I–III untuk Nintendo Switch 2 setelah penggemar mencurigai adanya penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam ilustrasi tersebut. Perubahan ini dilakukan tanpa pernyataan resmi dari penerbit Jepang itu, meninggalkan tanda tanya besar di kalangan komunitas gim.
Koleksi yang dijadwalkan rilis 8 Oktober ini menghimpun seluruh judul utama seri Kingdom Hearts. Namun, perhatian publik justru tertuju pada sampul gim yang menampilkan karakter utama Sora, Riku, dan Kairi. Penggemar yang jeli menemukan ketidakwajaran pada proporsi tangan, posisi jari, dan detail rambut yang tampak tidak natural. Dugaan menguat bahwa ilustrasi asli karya Tetsuya Nomura—sosok legendaris di balik desain karakter Kingdom Hearts—telah diproses ulang menggunakan AI untuk mengubah tata letak karakter.
Alih-alih memberikan klarifikasi, Square Enix memilih mengganti sampul tersebut dengan versi baru yang lebih rapi. Langkah ini dinilai sebagai pengakuan tidak langsung atas kesalahan, namun tanpa transparansi yang diharapkan publik. Dalam industri kreatif yang semakin sensitif terhadap etika AI, respons semacam ini justru memicu spekulasi lebih lanjut.
Kontroversi ini bukanlah yang pertama di industri gim. Beberapa pengembang besar sebelumnya dituduh menggunakan AI untuk aset konsep atau promosi tanpa izin, memicu kekhawatiran tentang hak cipta dan orisinalitas karya seniman. Di Indonesia, perdebatan serupa mulai mengemuka seiring maraknya penggunaan AI dalam pengembangan gim lokal. Beberapa studio independen memanfaatkan AI untuk mempercepat produksi, namun komunitas kreatif masih terbelah antara efisiensi dan perlindungan terhadap pekerja seni.
Menurut analis industri gim, langkah Square Enix menunjukkan bahwa tekanan publik masih menjadi alat efektif untuk mengoreksi keputusan kontroversial. Namun, tanpa pengakuan resmi, kasus ini berpotensi menurunkan kepercayaan terhadap komitmen perusahaan terhadap kualitas dan etika. “Jika perusahaan besar seperti Square Enix tidak transparan, bagaimana dengan studio kecil yang mungkin mengikuti jejak serupa?” ujar seorang pengamat yang enggan disebut namanya.
Ke depannya, publik akan mengawasi apakah Square Enix akan mengeluarkan pernyataan resmi atau justru mengulangi praktik serupa. Pertanyaan mendasar tetap menggantung: sejauh mana AI dapat digunakan dalam seni gim tanpa mengkhianati kepercayaan penggemar dan menghormati karya orisinal?



