Gelombang Panas Eropa Makin Ekstrem: Prancis Tutup Sekolah, Belgia Hentikan Kereta
Baca dalam 60 detik
- Prancis menaikkan status siaga merah di 49 departemen dan menutup 845 sekolah saat suhu menembus 40°C pada Juni, memicu kekhawatiran akan krisis serupa 2003 yang menewaskan 15.000 jiwa.
- Belgia dan Spanyol memangkas layanan kereta serta membatalkan acara publik, sementara Inggris memperkirakan rekor suhu Juni akan hancur dengan prediksi 38-39°C.
- Para ilmuwan menegaskan perubahan iklim akibat aktivitas manusia menjadi pemicu utama intensitas panas ekstrem yang terjadi lebih awal dan lebih ganas dari biasanya.

Gelombang panas yang melanda Eropa Barat sejak akhir pekan diprediksi akan semakin menggila dalam beberapa hari ke depan, memaksa sejumlah negara mengambil langkah darurat yang belum pernah terjadi sebelumnya di awal musim panas. Prancis, Belgia, Spanyol, dan Inggris bersiap menghadapi suhu yang tidak hanya memecahkan rekor, tetapi juga mengancam keselamatan jiwa.
Prancis menjadi episentrum krisis dengan 49 dari 96 departemen di daratan utama berada dalam status siaga merah—level tertinggi peringatan cuaca. Otoritas setempat menutup 845 sekolah pada Senin (22/6) dan memperbolehkan 1.800 sekolah lainnya meliburkan siswa lebih awal. Di Gironde, barat daya Prancis, tiga orang lanjut usia (80-95 tahun) dilaporkan tewas, dan pihak berwenang menyebut panas ekstrem sebagai faktor penyebabnya. Pemerintah juga melarang konsumsi alkohol di tempat umum di wilayah-wilayah yang terkena siaga merah, serta membatalkan festival musik tahunan di sejumlah kota.
Menteri Muda Ekologi Prancis Mathieu Lefevre menggambarkan gelombang panas ini sebagai fenomena yang "sangat intens dan sangat awal". Badan meteorologi Prancis memperingatkan bahwa situasi saat ini berpotensi menyamai tragedi Agustus 2003, ketika hampir 15.000 orang meninggal akibat panas berlebih. Suhu di beberapa titik telah melampaui 40°C—angka yang luar biasa untuk bulan Juni.
Belgia tidak kalah waspada. Perusahaan kereta nasional SNCB membatalkan sejumlah perjalanan kereta pada jam sibuk Senin dan Selasa untuk mengurangi risiko kerusakan yang dapat memblokir jalur. David Dehenauw, kepala prakiraan di Institut Meteorologi IRM, menyatakan suhu di Belgia pekan ini diperkirakan menjadi "yang terpanas yang pernah tercatat". Sementara itu, Spanyol melalui badan cuaca Aemet memperingatkan suhu "sangat tinggi" siang dan malam hingga Rabu, dengan potensi mencapai 44°C di beberapa daerah. Di Madrid, pemutaran pertandingan Piala Dunia Spanyol melawan Arab Saudi di layar raksasa pada Minggu terpaksa dibatalkan karena panas ekstrem.
Di Inggris, Liz Bentley, CEO Royal Meteorological Society, memprediksi rekor suhu Juni akan "hancur lebur". "Pekan ini akan membawa gelombang panas yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan suhu kemungkinan mencapai 38-39°C," katanya. Rekor saat ini adalah 35,6°C. Ia menambahkan bahwa ini akan menjadi dua bulan berturut-turut—Mei dan Juni—di mana rekor suhu Inggris terpangkas lebih dari 2°C.
"Perubahan iklim akibat ulah manusia telah menyediakan landasan bagi peristiwa ini, membebani atmosfer dengan panas ekstra dan membuat suhu ekstrem jauh lebih intens daripada yang seharusnya terjadi di masa lalu," ujar Akshay Deoras, peneliti senior di Pusat Sains Atmosfer Nasional Universitas Reading.
Fenomena ini menjadi pengingat bagi Indonesia, yang juga kerap dilanda gelombang panas meski dengan karakteristik berbeda. Meskipun secara geografis Indonesia tidak mengalami suhu ekstrem seperti Eropa, perubahan iklim global tetap berdampak pada peningkatan suhu rata-rata dan cuaca ekstrem di Tanah Air. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya mencatat bahwa suhu maksimum di beberapa wilayah Indonesia bisa mencapai 38°C pada musim kemarau. Pemerintah dan masyarakat perlu meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi gelombang panas, terutama di daerah perkotaan yang rentan terhadap efek pulau panas.
Ke depan, para ahli memperingatkan bahwa gelombang panas seperti ini akan semakin sering terjadi jika emisi gas rumah kaca tidak segera ditekan. Pertanyaannya, apakah negara-negara Eropa—dan dunia—cukup cepat beradaptasi untuk melindungi warganya dari ancaman iklim yang kian nyata?



