Lewis Capaldi Siap Rilis Album Baru Usai Pulih dari Gangguan Mental
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi Skotlandia Lewis Capaldi mengumumkan akan memulai pengerjaan album studio ketiga setelah tur musim panasnya berakhir.
- Keputusan ini diambil setelah ia menjalani masa pemulihan dari gangguan mental pasca album 'Broken by Desire to Be Heavenly Sent' pada 2023.
- Capaldi mengaku kini lebih fokus pada kualitas artistik dan tidak lagi mengejar hits, terinspirasi oleh Sam Fender dan Grian Chatten.

Lewis Capaldi, penyanyi-penulis lagu asal Skotlandia yang dikenal lewat tembang 'Someone You Loved', mengumumkan rencananya untuk kembali ke studio rekaman setelah rangkaian konser musim panasnya selesai. Album studio ketiga ini akan menjadi proyek penuh pertamanya sejak ia mengambil jeda panjang akibat gangguan kesehatan mental yang parah pasca album 'Broken by Desire to Be Heavenly Sent' pada 2023.
Dalam penampilannya di festival TRNSMT di Glasgow, Minggu malam (21/6), Capaldi secara terbuka menceritakan masa kelam yang dialaminya. "Saya mengalami gangguan mental total," ujarnya di hadapan penonton. Ia menambahkan bahwa dua tahun terakhir bukanlah masa yang mudah, namun kini ia merasa lebih baik dan "siap bekerja dengan kapasitas penuh". Capaldi juga mengungkapkan bahwa ia menderita sindrom Tourette dan kecemasan yang memperburuk kondisinya saat itu.
Setelah hiatus, Capaldi kembali pada 2025 dengan merilis EP 'Survive' yang memuat lagu-lagu emosional seperti 'Something in the Heavens', 'Almost', dan 'The Day That I Die'. Kini, ia bertekad untuk segera mengerjakan album baru. "Saya akan pergi sebentar dan membuat album," katanya singkat.
Yang menarik, Capaldi mengaku telah mengubah pendekatan kreatifnya. Ia tidak lagi terobsesi mengejar lagu hits. Dalam wawancara dengan Billboard UK, ia menyebut dua rekannya, Sam Fender dan Grian Chatten, sebagai sumber inspirasi. "Mereka benar-benar peduli dengan setiap karya yang dirilis. Itu sangat menginspirasi. Mereka menanamkan dalam diri saya untuk benar-benar meluangkan waktu di studio dan mulai peduli dengan apa yang saya katakan dan bagaimana lagu-lagu itu terdengar," ungkapnya.
Capaldi mengakui bahwa pada album keduanya, ia terlalu fokus mengejar kesuksesan komersial sehingga mengabaikan kualitas. "Saya mengerjakan sesuatu dengan tergesa-gesa dan menyerahkan lagu ke produser. Saya tidak ingin lagi asal-asalan. Pendengar saya pantas mendapatkan yang lebih baik; saya pun pantas mendapatkan yang lebih baik," tegasnya. Ia berencana untuk terlibat dalam setiap aspek produksi dan tidak akan berkompromi dengan proses rekaman.
Bagi penggemar di Indonesia, kabar ini menjadi angin segar. Capaldi memiliki basis penggemar yang cukup besar di tanah air, terutama melalui platform streaming. Perubahan pendekatan artistiknya diharapkan menghasilkan karya yang lebih matang dan personal, yang mungkin akan lebih mudah diterima oleh pendengar yang mendambakan musik dengan kedalaman emosi. Namun, belum ada kepastian apakah album barunya akan menyertakan tur ke Asia, termasuk Indonesia.
Dengan semangat baru dan pelajaran berharga dari masa lalu, Capaldi seolah ingin membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar mesin penghasil hits. Pertanyaannya, akankah pendekatan baru ini mampu mempertahankan popularitasnya di tengah industri musik yang terus berubah? Atau justru akan melahirkan karya yang lebih abadi?



