Fenomena 'Sister Commission' di China: Perempuan Muda Bayar Kakak Angkat untuk Curhat
Baca dalam 60 detik
- Perempuan China berusia 30-40 tahun menawarkan jasa 'kakak angkat' berbayar untuk mendengarkan keluh kesah generasi muda, dengan tarif Rp330-Rp660 ribu per sesi.
- Tren ini merefleksikan krisis dukungan emosional di tengah tekanan sosial dan kesepian yang melanda anak muda China, terutama perempuan.
- Munculnya grup eksklusif perempuan di platform Douban memperkuat solidaritas gender, namun juga menimbulkan pertanyaan tentang komersialisasi relasi personal.

Di China, fenomena perempuan dewasa yang 'menyewakan' waktu dan pengalaman hidup mereka kepada kaum muda tengah menjadi sorotan. Layanan yang dikenal sebagai 'sister commission' atau komisi kakak ini menawarkan telinga yang mau mendengar, nasihat berdasarkan pengalaman, atau sekadar teman ngobrol dalam suasana hangat. Para penyedia jasa, yang kebanyakan berusia 30-40 tahun, memasang tarif mulai 150 yuan (sekitar Rp330 ribu) per pertemuan hingga 300 yuan (Rp660 ribu) per jam. Ada pula yang menggratiskan jasanya, asalkan klien menanggung biaya makan atau aktivitas bersama.
Fenomena ini viral setelah sejumlah perempuan mengiklankan layanan tersebut di media sosial. Salah satunya adalah Kiki, lulusan Universitas Fudan bergelar master yang sebelumnya bekerja sebagai cosplayer karakter pacar virtual. Kini, ia memilih tampil sebagai dirinya sendiri untuk melayani 'adik-adik' perempuannya. "Saya ekstrovert dan tidak akan membuat adik merasa tidak direspons atau canggung," ujarnya. Kiki mengaku usianya yang 27 tahun sangat pas untuk mendengarkan dengan penuh perhatian tanpa terkesan menggurui.
Para klien mengaku merasa lebih diterima dan tidak dihakimi. "Dia tidak menekan saya seperti orang tua," kata seorang pengguna. Psikolog Li menilai praktik ini mencerminkan kebutuhan anak muda akan relasi yang mengompensasi kesepian dan minimnya dukungan emosional di tengah tekanan interpersonal. Fenomena ini sejalan dengan gerakan 'girls help girls' yang marak di China, di mana perempuan saling mendukung di ruang digital.
Di platform Douban, misalnya, telah terbentuk sekitar 500 grup khusus perempuan. Hanya anggota perempuan yang bisa bergabung, dengan pertanyaan penyaringan seputar topik yang hanya diketahui perempuan, seperti siklus menstruasi. Para pengelola grup menyatakan tujuannya adalah menciptakan ruang aman di tengah masyarakat yang didominasi laki-laki. Anggota grup merasa lega bisa berbagi masalah tanpa takut mendapat komentar toksik dari pria. Peneliti dari Southeast University China menyimpulkan bahwa grup-grup ini memberdayakan anggota untuk belajar tentang feminisme dan hak-hak perempuan, serta mendorong mereka memperjuangkan haknya.
Fenomena serupa sebenarnya juga mulai terlihat di Indonesia, meski dalam skala lebih kecil. Maraknya komunitas virtual seperti 'Perempuan Berkisah' atau layanan konseling sebaya di kampus menunjukkan kebutuhan serupa akan ruang curhat yang aman. Namun, komersialisasi relasi personal seperti sister commission masih langka. Pertanyaannya, apakah model ini akan diadopsi di Indonesia? Atau justru memperkuat tren terapi berbayar yang sudah ada? Yang jelas, kebutuhan akan dukungan emosional di kalangan anak muda urban adalah nyata, dan inovasi sosial seperti ini patut dicermati.



