IHSG dan Rupiah Tertekan, Emas Anjlok di Bawah USD 4.200: Ketegangan Selat Hormuz Dongkrak Minyak
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah 0,87% ke level 6.123 pada perdagangan Senin (22/6/2026), sementara rupiah terdepresiasi tipis ke Rp 17.785 per dolar AS.
- Harga emas global terperosok ke bawah USD 4.200 per troy ons akibat penguatan dolar AS, namun minyak mentah justru melonjak dipicu eskalasi ketegangan di Selat Hormuz.
- Pelemahan aset safe haven seperti emas dan tekanan pada bursa saham domestik mencerminkan kekhawatiran investor terhadap risiko geopolitik dan dampaknya terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

Pasar keuangan Indonesia memulai pekan ini dengan tekanan di berbagai lini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau melemah 0,87% ke posisi 6.123 pada sesi pertama perdagangan Senin (22/6/2026), sementara nilai tukar rupiah ikut terdepresiasi tipis 0,06% ke level Rp 17.785 per dolar Amerika Serikat. Pelemahan ini terjadi di tengah sentimen global yang tidak menentu, terutama dari pergerakan harga komoditas dan eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Dari sisi komoditas, harga emas dunia mengalami tekanan signifikan dengan anjlok ke bawah level psikologis USD 4.200 per troy ons. Penurunan ini dipicu oleh penguatan dolar AS yang membuat logam mulia menjadi kurang menarik bagi investor. Sebaliknya, harga minyak mentah justru mencatat kenaikan tajam imbas memanasnya kembali situasi di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi lintasan sepertiga pasokan minyak dunia. Ketegangan di wilayah tersebut selalu memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan, sehingga mendorong harga energi melonjak.
Kondisi ini menjadi dilema bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak. Kenaikan harga minyak berpotensi memperlebar defisit neraca perdagangan dan menekan anggaran subsidi energi. Di sisi lain, pelemahan rupiah terhadap dolar AS menambah beban impor, termasuk untuk kebutuhan bahan baku industri. Sementara itu, harga batu bara yang ikut terkoreksi memberikan sedikit angin segar bagi sektor energi domestik, meskipun dampaknya belum signifikan terhadap kinerja bursa saham.
Analis pasar menilai bahwa pergerakan IHSG dan rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama kebijakan moneter AS dan risiko geopolitik. Penguatan dolar AS yang mendorong capital outflow dari pasar emerging market menjadi ancaman serius bagi stabilitas nilai tukar rupiah. Sementara itu, ketidakpastian di Selat Hormuz menambah sentimen negatif bagi investor yang cenderung menghindari risiko.
Bagi investor domestik, situasi ini memerlukan strategi yang lebih hati-hati. Pelemahan emas yang biasanya menjadi aset safe haven justru menunjukkan bahwa investor global lebih memilih dolar AS sebagai tempat berlindung. Di sisi lain, kenaikan harga minyak bisa menjadi peluang bagi sektor energi, namun juga meningkatkan biaya produksi di berbagai industri. Pemerintah Indonesia perlu mewaspadai dampak inflasi yang mungkin timbul dari kenaikan harga energi dan pelemahan rupiah.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada perkembangan situasi di Selat Hormuz serta data ekonomi AS yang dapat mempengaruhi kebijakan suku bunga The Fed. Apakah tekanan terhadap IHSG dan rupiah akan berlanjut, atau justru ada peluang pemulihan jika ketegangan mereda? Investor disarankan untuk tetap waspada dan memantau pergerakan harga komoditas serta nilai tukar secara saksama.



