Pengetahuan Tanaman Obat Berbak di Jambi Terancam Punah: Butuh Edukasi dan Ekonomi
Baca dalam 60 detik
- Riset etnobotani di Taman Nasional Berbak, Jambi, menemukan 71 spesies tanaman obat yang masih dikenal warga, namun transfer pengetahuan ke generasi muda terhambat.
- Minat rendah anak muda karena anggapan kuno dan dominasi pengobatan modern, sementara nilai ekonomi tanaman obat belum tergarap.
- Para peneliti merekomendasikan integrasi pengetahuan tradisional ke kurikulum sekolah dan kemitraan dengan industri herbal untuk menyelamatkan warisan ini.

Warisan pengetahuan tanaman obat tradisional masyarakat di sekitar Taman Nasional Berbak, Jambi, perlahan memudar seiring enggannya generasi muda meneruskan tradisi yang dianggap ketinggalan zaman. Temuan penelitian etnobotani pada April 2026 mengungkap bahwa dari 71 spesies tumbuhan obat yang teridentifikasi, sebagian besar hanya dikuasai oleh tiga orang informan berusia 30–80 tahun di Desa Sungai Rambut, sementara di Desa Rantau Rasau pengetahuan itu nyaris punah setelah tokoh pengobatan tradisional terakhir meninggal pada 2025.
Penelitian yang dilakukan tim dari sejumlah perguruan tinggi ini menyisir dua desa penyangga taman nasional—Desa Sungai Rambut dan Rantau Rasau—tanpa harus masuk ke kawasan hutan lindung yang telah ditetapkan sejak 1935. Tanaman seperti dadap (Erythrina orientalis), sekejut (Mimosa pudica), lempuyang (Zingiber sp.), leletup (Physalis angulata), dan spirtus (masih dalam identifikasi) digunakan untuk mengobati demam, sakit perut, gatal, diare, hingga lemah tulang. Cara pengolahannya pun beragam: dari daun diremas dan ditempel, akar direbus diminum, hingga daun dilayur di atas api.
Spirtus menjadi salah satu kandidat yang menarik perhatian peneliti karena klaim warga mampu menyembuhkan eksim. Daunnya diremas, dicampur minyak tanah, lalu dioleskan ke bagian yang gatal. Rencananya, tim akan menguji fitosterol pada daun spirtus di laboratorium untuk membuktikan khasiatnya secara ilmiah. Namun, di balik potensi itu, ancaman kepunahan pengetahuan justru datang dari dalam komunitas sendiri.
Seorang perempuan muda yang menjadi pendamping penelitian dengan tegas menolak menjadi penerus pengobatan tradisional. "Tidak mau jadi penerus Nyai, Pak. Orang-orang tua saja. Kami masih muda, nanti mati gaya," ujarnya, mencerminkan rendahnya kebanggaan terhadap warisan leluhur. Dominasi puskesmas yang dianggap lebih praktis dan modern turut mengikis kepercayaan diri masyarakat. Akibatnya, warga lebih memilih menanam pinang dan kelapa sawit yang hasilnya pasti ketimbang merawat tanaman obat yang belum jelas nilai ekonominya.
Fenomena ini, menurut peneliti, menuntut pendekatan etnobiopedagogi transformatif—menggabungkan pelestarian tumbuhan, pengetahuan tradisional, pendidikan, dan dukungan ekonomi secara simultan. Tren global pascapandemi Covid-19 yang kembali ke pengobatan herbal dan fitofarmaka justru membuka peluang besar. Industri farmasi dunia mulai melirik bahan baku alami, dan Indonesia memiliki kekayaan yang belum tergarap optimal.
Langkah pertama adalah memasukkan pengetahuan obat tradisional ke dalam muatan lokal di sekolah-sekolah sekitar taman nasional. Edukasi ini diharapkan membangkitkan kembali rasa bangga anak muda terhadap kearifan lokal. Kedua, pelaku industri herbal perlu hadir—baik melalui undangan pemerintah maupun program CSR—untuk menjembatani kebutuhan pasar dengan budidaya tanaman obat oleh masyarakat. Kemitraan langsung antara perusahaan dan warga Berbak untuk membudidayakan tanaman tertentu sesuai permintaan industri bisa menjadi solusi berkelanjutan.
Pertanyaan besarnya, mampukah sinergi antara pendidikan, konservasi, dan industri menyelamatkan pengetahuan yang hampir putus ini sebelum generasi tua yang menjadi penjaganya tiada? Waktu terus berjalan, dan setiap tahun tanpa aksi nyata berarti satu lapis kearifan lokal yang lenyap.



