Sheikh Haikel Terpaksa Pindah Gerai Nasi Ayam: Rentang Sewa dan Nasib Pengusaha Kecil
Baca dalam 60 detik
- Rapper Sheikh Haikel dan istrinya harus menutup gerai Hai Ge Ji di North Bridge Road setelah pemilik kontrakan menolak memperpanjang sewa tanpa alasan jelas.
- Pasangan ini nyaris menyerah, namun berhasil mendapatkan lokasi baru di Bussorah Street dengan sewa lebih tinggi dan renovasi lebih mahal.
- Kisah ini menyoroti kerentanan pengusaha F&B terhadap fluktuasi sewa dan kebutuhan akan dukungan finansial serta hukum yang lebih baik.

Sheikh Haikel, rapper Singapura yang kini merambah bisnis kuliner, harus menutup gerai nasi ayam halalnya di North Bridge Road setelah pemilik kontrakan memberi waktu sebulan untuk pindah—sebuah keputusan sepihak yang membuat pasangan ini hampir menyerah.
Hai Ge Ji Hainanese Chicken Rice, yang baru berjalan dua tahun, tutup pada 7 Juni lalu. Gerai itu akan dibuka kembali di Bussorah Street pada awal Juli, tetapi perpindahan ini bukan karena pilihan. Anna Belle Francis, istri Sheikh Haikel, mengungkapkan bahwa pada April lalu mereka diberitahu untuk meninggalkan tempat tersebut dalam bulan yang sama. “Saya harus memohon agar diizinkan tinggal satu bulan lagi,” ujarnya. Tidak ada alasan yang diberikan, dan negosiasi buntu. Francis menduga ada tawaran sewa lebih tinggi dari calon penyewa lain.
Pasangan ini mengaku lengah dengan masa berlaku kontrak. “Saya mengabaikan tanggal berakhirnya sewa dan mengira akan diperpanjang,” kata Francis. Namun, saat mencoba berdiskusi, pemilik kontrakan berkata, “Saya tidak menjalankan badan amal.” Pernyataan itu, menurut Francis, sangat menyakitkan. Ia merasa rentan sebagai penyewa, selalu bergantung pada kemurahan hati pemilik properti.
Dalam situasi sulit itu, pasangan ini hampir menyerah. “Saya tidak percaya baru dua tahun kami menjalankan bisnis ini,” keluh Francis. Namun, mereka memilih untuk bangkit. Dalam hitungan minggu, mereka harus mencari dapur baru, menyiapkan uang muka, dan menghadapi kenaikan harga pemasok. Francis menekankan perlunya dukungan nyata bagi pengusaha F&B lokal—bukan sekadar bantuan, tetapi akses ke pinjaman, mentor, pengacara, dan penasihat keuangan.
Kabar baik datang ketika seorang teman menemukan unit kosong di Bussorah Street, hanya enam menit berjalan kaki dari lokasi lama. Meski sewa lebih tinggi, dapur yang lebih besar membuka peluang menu baru. Gerai baru itu akan menyatukan menu nasi ayam dan mi sapi dalam satu atap, dengan kapasitas tempat duduk yang sama seperti sebelumnya. Pada akhir pekan, mereka berencana menambah kursi di luar hingga larut malam. “Kami ingin menghadirkan kembali identitas Singapura ke Kampong Glam,” kata Sheikh Haikel.
Untuk menutup kerugian, pasangan ini menggelar pop-up di One-North bekerja sama dengan IncuBaker, menyajikan nasi ayam Hainan dan aneka lauk. Mereka juga melanjutkan ekspansi yang sudah direncanakan sebelumnya: gerai mi sapi di Plaza Singapura buka pada 2 Juni, menyusul gerai serupa di Yishun yang sudah impas. “Setiap kesempatan harus diambil,” ujar Francis. “Apa cara yang lebih baik untuk membuat makanan kami lebih mudah diakses selain di food court Orchard yang minim pilihan halal?”
Kisah Sheikh Haikel dan istrinya bukan sekadar drama relokasi. Ini cermin kerapuhan usaha kecil di tengah tekanan sewa komersial yang terus naik. Di Indonesia, fenomena serupa juga terjadi: pedagang kaki lima hingga pengusaha restoran skala kecil kerap terusir akibat kenaikan sewa atau pengalihan fungsi lahan. Tanpa regulasi yang melindungi penyewa dan akses pendanaan yang memadai, banyak usaha potensial harus gulung tikar sebelum berkembang.
Ke depan, Hai Ge Ji berencana menghadirkan kolaborasi dengan merek warisan dan menu baru seperti mi sapi mala. Sheikh Haikel menegaskan bahwa ia tidak merasa pahit. “Yang terpenting adalah makanan itu sendiri. Ketika makanan bermakna, ia secara alami menyatukan orang,” katanya. Pertanyaannya, berapa banyak pengusaha F&B lain yang mampu bertahan ketika kontrak sewa menjadi bom waktu?



