Gempa Ganda 7,2 dan 7,5 SR Hantam Venezuela: Ratusan Tewas, Ribuan Terjebak Reruntuhan
Baca dalam 60 detik
- Dua gempa kuat mengguncang Venezuela pada 24 Juni 2026, menyebabkan kerusakan parah di Caracas dan sekitarnya dengan korban jiwa diperkirakan mencapai puluhan ribu.
- Pemerintah Venezuela menyatakan keadaan darurat dan meminta bantuan multilateral, sementara operasi penyelamatan masih berlangsung dengan puluhan orang berhasil dievakuasi.
- Dampak terhadap infrastruktur minyak Venezuela belum terlihat, namun pemadaman listrik berkepanjangan dapat mengganggu produksi minyak mentah negara tersebut.

Dua gempa bumi dahsyat berkekuatan 7,2 dan 7,5 skala Richter mengguncang Venezuela pada Rabu (24/6) sore waktu setempat, meruntuhkan bangunan di ibu kota Caracas dan memicu peringatan bencana besar dengan potensi korban jiwa puluhan ribu jiwa. Badan Survei Geologi AS (USGS) mencatat gempa pertama terjadi sekitar 160 kilometer barat Caracas, disusul kurang dari satu menit kemudian oleh guncangan kedua yang lebih kuat.
USGS dalam pernyataan awalnya memperkirakan jumlah korban tewas bisa mencapai 10.000 hingga 100.000 orang, dengan kerusakan yang meluas di seluruh negeri. "Korban jiwa tinggi dan kerusakan parah sangat mungkin terjadi, dan bencana ini kemungkinan besar meluas," demikian peringatan USGS. Pemerintah Venezuela langsung merespons dengan mengumumkan status darurat nasional.
Presiden Interim Delcy Rodriguez dalam pidato nasional menyampaikan belasungkawa dan menyatakan akan meminta dana dari organisasi multilateral untuk mendukung upaya pemulihan. Namun, ia belum memberikan angka pasti jumlah korban tewas atau luka-luka secara nasional. Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello mengonfirmasi bahwa tim penyelamat, pemadam kebakaran, dan polisi telah dikerahkan penuh.
Di Caracas, Wali Kota Chacao, Gustavo Duque, melaporkan beberapa bangunan runtuh dan 18 orang berhasil dievakuasi dari satu gedung saja. Ia mengimbau warga untuk mengungsi ke alun-alun publik karena gempa susulan masih mungkin terjadi. Seorang warga, Astrid Ramirez (41), menggambarkan kepanikan saat gempa terjadi: "Begitu gempa mulai, kami mendengar orang-orang berteriak. Semua orang berlari menuruni tangga."
Venezuela sendiri sedang merayakan hari libur nasional memperingati kemenangan militer tahun 1821 yang mengukuhkan kemerdekaan dari Spanyol. Banyak warga berada di rumah saat gempa melanda. Maria Romero (80) mengaku gempa kali ini lebih mengerikan dibanding gempa 1967 yang menewaskan ratusan orang. "Gempa ini mengerikan, bahkan lebih parah dari tahun 1967," ujarnya.
Dari sisi infrastruktur vital, bandara utama Maiquetia di utara Caracas ditutup sementara karena kerusakan. Sekolah-sekolah diliburkan selama sisa pekan. Namun, fasilitas minyak Venezuelaโtulang punggung ekonomi negaraโtampaknya tidak terdampak langsung. Otoritas sipil di Maracaibo, dekat pusat minyak Danau Maracaibo, melaporkan tidak ada korban jiwa. Meski demikian, sumber menyebut pemadaman listrik berkepanjangan dapat mengganggu produksi minyak mentah. Perusahaan energi asing, termasuk Chevron, masih melakukan pendataan staf sebelum menilai kondisi kilang.
Peringatan tsunami sempat dikeluarkan untuk Puerto Riko dan Kepulauan Virgin, serta Aruba, Curacao, dan Bonaire, namun dicabut sekitar satu jam kemudian. Venezuela terletak di zona seismik aktif pertemuan Lempeng Karibia dan Lempeng Amerika Selatan. Sejarah mencatat gempa besar tahun 1812 menewaskan sekitar 30.000 orang di Merida dan Caracas.
Bagi Indonesia, yang juga berada di kawasan cincin api Pasifik, gempa ganda ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan bencana. Sistem peringatan dini dan konstruksi tahan gempa menjadi krusial, terutama di kota-kota besar dengan kepadatan tinggi. Kejadian ini juga menyoroti kerentanan negara yang sedang dilanda krisis politik dan ekonomi, di mana kapasitas respons bencana mungkin terbatas. Pertanyaan selanjutnya: mampukah Venezuela mengelola bencana ini di tengah keterbatasan sumber daya dan isolasi internasional?



