Ketegangan Timur Tengah dan Inflasi AS Bikin Bursa Asia Terbelah: Nikkei Menguat, Kospi Tertekan
Baca dalam 60 detik
- Bursa Asia dibuka bervariasi pada awal pekan, dengan Nikkei Jepang melesat 0,89% sementara Kospi Korea Selatan terperosok 0,79% akibat kekhawatiran geopolitik dan antisipasi data inflasi AS.
- Ancaman serangan baru AS terhadap Iran mendorong harga minyak mentah WTI naik hampir 3% ke US$78 per barel, menambah tekanan pada pasar regional yang bergantung pada energi.
- Investor di Indonesia perlu mewaspadai efek rambatan dari kenaikan harga minyak dan potensi pengetatan moneter The Fed, yang bisa mempengaruhi nilai tukar rupiah dan arus modal asing.

Pergerakan bursa saham Asia pada Senin pagi menunjukkan peta yang tidak seragam, dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan antisipasi pasar terhadap data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis pekan ini. Indeks Nikkei 225 Jepang menjadi bintang dengan lonjakan signifikan, sementara indeks KOSPI Korea Selatan justru terpuruk, mencerminkan sentimen risk-off yang menyelimuti sebagian besar kawasan.
Hingga pukul 09.30 waktu Tokyo, Nikkei 225 melesat 631,74 poin atau 0,89% ke level 71.881,80. Kenaikan ini didorong oleh sektor teknologi dan eksportir yang diuntungkan oleh pelemahan yen. Namun, di kutub lain, KOSPI Korea Selatan ambles 71,34 poin atau 0,79% ke 8.981,08, tertekan oleh kekhawatiran akan dampak konflik Iran-AS terhadap rantai pasok semikonduktor dan energi. Sementara itu, indeks Shanghai Composite dan Hang Seng China-Hong Kong nyaris tak bergerak, masing-masing di 4.090,48 dan 23.924,81, menandakan kehati-hatian investor menjelang data ekonomi penting.
Pasar Asia Tenggara juga tak luput dari tekanan. Indeks Straits Times Singapura turun 20,14 poin atau 0,39% ke 5.192,70, sedangkan S&P/ASX 200 Australia melemah 13,40 poin atau 0,15% ke 8.815,30. Pergerakan ini terjadi di tengah lonjakan harga minyak mentah global: West Texas Intermediate (WTI) melonjak hampir 3% ke kisaran US$78 per barel, sementara Brent naik lebih dari 1% ke sekitar US$81 per barel. Pemicunya adalah ancaman Presiden Donald Trump pada Minggu untuk melancarkan serangan baru terhadap Iran jika kelompok proksinya di Lebanon tidak dihentikan. Ancaman itu muncul saat Wakil Presiden JD Vance bertemu dengan pejabat Iran di Swiss untuk putaran pertama negosiasi, setelah pembicaraan sebelumnya gagal.
Bagi investor Indonesia, situasi ini memiliki implikasi langsung. Kenaikan harga minyak berpotensi memperlebar defisit neraca perdagangan dan menekan nilai tukar rupiah, sementara ketidakpastian suku bunga AS bisa memicu arus modal keluar dari pasar emerging market. Data Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) inti AS untuk Mei, yang akan dirilis Kamis, menjadi katalis utama. Ekonom yang disurvei FactSet memperkirakan PCE inti meningkat dari bulan sebelumnya, memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga lebih cepat—kemungkinan pada Oktober—setelah pertemuan hawkish pekan lalu.
Kepala riset Fundstrat Global Advisors, Tom Lee, dalam wawancara dengan CNBC, menyebutkan bahwa meskipun ada risiko seperti pembentukan gugus tugas di Federal Reserve dan potensi penutupan Selat Hormuz yang mengganggu rantai pasok, ia masih optimistis terhadap pasar. "Kami meyakini akan terjadi perubahan mendadak pada akhir tahun yang terasa seperti pasar bearish, tapi kami tidak terburu-buru memprediksi puncak," ujarnya. Pernyataan ini mencerminkan dilema investor: di satu sisi data fundamental masih positif, di sisi lain risiko geopolitik dan moneter mengintai.
Ke depan, fokus pasar akan tertuju pada data PCE AS dan perkembangan negosiasi AS-Iran. Jika inflasi terbukti stubborn dan konflik Timur Tengah memanas, volatilitas diperkirakan meningkat, menguji ketahanan bursa Asia termasuk Indonesia. Pertanyaannya, akankah investor domestik mampu memanfaatkan koreksi sebagai peluang akumulasi, atau justru terjebak dalam arus jual asing?



