Naira Nigeria Terjun Bebas ke N1392, Krisis Likuiditas Valas Makin Parah
Baca dalam 60 detik
- Naira Nigeria melemah ke level N1392 per dolar AS di pasar valas resmi akibat kekurangan likuiditas dolar yang berkepanjangan.
- Bank Sentral Nigeria (CBN) disebut telah menghentikan intervensi pasar selama lebih dari enam pekan, memperparah tekanan pada mata uang lokal.
- Pelemahan naira terjadi di tengah penguatan dolar global dan penurunan harga minyak mentah, yang berpotensi memicu efek domino pada ekonomi negara berkembang lain, termasuk Indonesia.

Naira Nigeria kembali terperosok ke titik terendah baru setelah menyentuh N1392 per dolar Amerika Serikat di pasar valas resmi pada Rabu (12/3), mencerminkan krisis likuiditas dolar yang kian akut dan minimnya intervensi bank sentral.
Berdasarkan data harian Bank Sentral Nigeria (CBN), nilai tukar naira ditutup pada N1380,0775 per dolar di Nigerian Foreign Exchange Market (NFEM), melemah dari posisi sebelumnya N1370,6373. Sepanjang hari, transaksi berfluktuasi antara N1368 hingga N1392, dengan volume perdagangan antar bank tercatat relatif stabil di angka USD125,588 juta dari 126 kesepakatan, hampir sama dengan hari sebelumnya.
Kondisi ini terjadi ketika CBN disebut telah menghentikan intervensi pasar valas selama lebih dari enam pekan terakhir. Langkah tersebut, menurut para analis, menjadi sinyal bahwa otoritas moneter Nigeria tengah menguji ketahanan pasar atau justru kehabisan amunisi untuk menopang naira. Padahal, cadangan devisa Nigeria justru menunjukkan peningkatan tipis menjadi USD51,142 miliar dari USD51,060 miliar sehari sebelumnya.
Pelemahan naira tidak bisa dilepaskan dari faktor eksternal. Dolar AS yang terus perkasa menyusul sikap hawkish Federal Reserve telah memberi tekanan besar pada mata uang negara berkembang, termasuk sejumlah mata uang Afrika yang terkait dengan komoditas minyak. Di saat bersamaan, harga minyak mentah dunia ambles sekitar 4% pada Rabu, dengan Brent ditutup di USD73,74 per barelโlevel terendah sejak sebelum pecahnya perang antara AS dan Israel melawan Iran pada 28 Februari lalu. West Texas Intermediate (WTI) bahkan sempat menyentuh USD69,63 per barel, pertama kalinya di bawah USD70 sejak awal Maret.
Bagi Indonesia, dinamika serupa patut dicermati. Meski rupiah tidak mengalami depresiasi separah naira, tekanan terhadap mata uang emerging market masih tinggi. Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi ganda di pasar spot dan DNDF, namun jika harga minyak terus turun dan dolar tetap kuat, beban terhadap rupiah bisa meningkat. Apalagi, Indonesia juga mengimpor minyak dalam jumlah signifikan, sehingga penurunan harga minyak sebenarnya bisa meredam tekanan inflasi, tetapi di sisi lain mengurangi pendapatan ekspor migas.
โNigeria menghadapi dilema klasik: cadangan devisa naik tetapi likuiditas pasar tetap ketat karena minimnya intervensi,โ ujar seorang analis pasar uang yang enggan disebut namanya. โIni menunjukkan bahwa intervensi bukan satu-satunya alat; kepercayaan pasar juga penting.โ
Ke depan, arah kebijakan CBN akan menjadi kunci. Apakah bank sentral akan kembali turun tangan atau membiarkan naira menemukan keseimbangan baru? Sementara itu, pasar global masih menunggu sinyal dari Federal Reserve terkait suku bunga, serta perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah yang bisa memengaruhi pasokan minyak. Bagi Indonesia, pelajaran dari Nigeria adalah bahwa intervensi yang tidak konsisten dan ketergantungan pada satu komoditas bisa mempercepat kerentanan nilai tukar.



