Film Tiongkok 'Dear You' Menyentuh Hati Penonton Vietnam: Kisah Surat Remitan Lintas Generasi
Baca dalam 60 detik
- Film Tiongkok 'Dear You' tayang perdana di Ho Chi Minh City dan siap edar nasional di Vietnam.
- Kisahnya berpusat pada surat remitan yang menjadi jembatan emosi keluarga Tionghoa perantauan.
- Kesuksesan film ini membuka peluang distribusi film Tiongkok di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Ho Chi Minh City, 6 Agustus 2026 โ Film Tiongkok berjudul "Dear You" resmi memulai debutnya di Vietnam melalui pemutaran perdana di pusat ekonomi selatan negara itu, Selasa (4/8). Langkah ini menjadi batu loncatan sebelum film tersebut dirilis secara luas di bioskop-bioskop Vietnam.
Pemutaran perdana ini merupakan hasil kolaborasi dua distributor Vietnam, Mockingbird Pictures dan Galaxy Studio, dengan dukungan penuh dari Pusat Kebudayaan Tiongkok di Hanoi. Kehadiran hampir seribu tamu, mulai dari pelaku industri film, akademisi budaya, hingga komunitas Tionghoa perantauan, menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap karya sinematik dari negeri tirai bambu ini.
Bagi Mockingbird Pictures, mendapatkan hak distribusi "Dear You" bukan sekadar transaksi bisnis. Doan Thi Trang Anh, wakil CEO perusahaan tersebut, menyebutnya sebagai peluang istimewa. Ia berharap kerja sama ini menjadi pintu masuk bagi lebih banyak film Tiongkok untuk dinikmati penonton Vietnam, sebuah pasar yang semakin terbuka terhadap keragaman cerita Asia.
Secara tematik, "Dear You" yang dalam bahasa Mandarin berjudul "Love Letters to Grandma" mengangkat tradisi surat remitan โ kiriman uang yang disertai pesan pribadi โ sebagai jembatan emosional antara perantau Tionghoa dan keluarga di kampung halaman. Melalui surat-surat itulah tokoh-tokoh dalam film menemukan kembali memori, cinta, dan ikatan keluarga yang rumit namun tulus.
Kekuatan naratif ini berhasil menyentuh hati para penonton, termasuk aktris Vietnam keturunan Tionghoa, Tu Ho. Ia mengaku memiliki keterikatan pribadi yang mendalam dengan kisah tersebut, mengingat neneknya kerap bercerita tentang surat remitan yang dikirim buyutnya dari Vietnam. "Saya sudah menyiapkan tisu, karena saya yakin film ini akan membangkitkan banyak kenangan melalui cerita nenek saya," ujarnya sebelum pemutaran.
Sutradara Vietnam Le Thien Vien, yang turut hadir, memberikan apresiasi terhadap akting para pemain dan keseimbangan antara humor serta emosi dalam film. "Meski durasinya panjang, penonton tetap terlibat penuh," katanya. Ia bahkan mengaku terinspirasi dan mendapatkan motivasi kreatif untuk proyek berikutnya.
Fenomena ini menarik untuk dicermati dari perspektif Indonesia. Pasar film Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sedang bergairah dengan konten lokal dan regional. Kesuksesan "Dear You" di Vietnam bisa menjadi indikator bahwa cerita-cerita bernuansa budaya dan keluarga memiliki daya tarik universal. Bagi sineas dan distributor Indonesia, pelajaran berharga dapat diambil: film dengan akar budaya kuat mampu menembus batas negara.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah distributor Indonesia akan berani mengambil risiko serupa dengan mengimpor film-film Tiongkok yang kaya nilai budaya, atau justru sebaliknya, mendorong produksi lokal dengan tema serupa. Dengan semakin eratnya hubungan ekonomi dan budaya antarnegara ASEAN, kolaborasi di industri kreatif tampaknya akan semakin sering terjadi.



