Jenazah Vlogger Thailand 'Hlun Solo' Dipulangkan dari Georgia: Investigasi Kematian Masih Berlanjut
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Luar Negeri Thailand memfasilitasi pemulangan jenazah Bavorntat Pengsuk, vlogger perjalanan terkenal, dari Tbilisi, Georgia, setelah kematiannya pada 14 Juli 2026.
- Kedutaan Besar Thailand di Ankara bertindak cepat dengan mengirim petugas ke Tbilisi untuk mempercepat investigasi dan mengatasi keterlambatan administratif yang sempat menghambat proses repatriasi.
- Keluarga akan melakukan pemeriksaan forensik menyeluruh di Thailand sebelum jenazah dibawa ke Kalasin untuk upacara pemakaman tradisional, sementara penyebab pasti kematian masih menunggu hasil otopsi.

Kementerian Luar Negeri Thailand akhirnya berhasil memulangkan jenazah Bavorntat Pengsuk, vlogger perjalanan populer yang dikenal dengan nama 'Hlun Solo', dari Tbilisi, Georgia. Kepulangan jenazah ini mengakhiri penantian panjang keluarga dan para penggemarnya yang menanti kejelasan atas kematian pria 27 tahun itu pada 14 Juli 2026.
Proses repatriasi yang sempat terhambat birokrasi ini melibatkan intervensi langsung dari Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Thailand, Sihasak Phuangketkeow. Ia menunjuk Prathuangtip Sirivithes, pelaksana tugas Direktur Jenderal Departemen Konsuler, untuk mengawasi penerimaan jenazah begitu tiba di Thailand. Langkah ini menunjukkan keseriusan pemerintah Thailand dalam menangani kasus yang menyita perhatian publik, terutama di kalangan komunitas kreator konten perjalanan.
Sejak kabar kematian Hlun Solo mencuat, Kedutaan Besar Thailand di Ankara bergerak cepat. Petugas dikirim langsung ke Tbilisi untuk mempercepat penyelidikan penyebab kematian, mengawal proses repatriasi, dan menekan otoritas Georgia atas keterlambatan administratif yang sempat terjadi. Menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri Thailand, Jaithai Upakarnitikaset, komunikasi intensif terus dijaga dengan keluarga korban dan pihak berwenang setempat.
Kematian Hlun Solo tidak hanya mengejutkan penggemarnya di Thailand, tetapi juga memicu pertanyaan tentang keselamatan para pelancong solo di kawasan Kaukasus. Georgia, yang selama ini dikenal sebagai destinasi wisata yang relatif aman, kini mendapat sorotan terkait penanganan kasus kematian warga asing. Beberapa pengamat menilai respons lambat otoritas Georgia dalam proses administrasi awal menjadi catatan penting bagi wisatawan yang berencana berkunjung ke sana.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya perlindungan WNI di luar negeri. Meski Kementerian Luar Negeri Indonesia memiliki mekanisme serupa melalui Perwakilan RI, kasus seperti ini menegaskan perlunya koordinasi cepat antara keluarga, otoritas setempat, dan perwakilan diplomatik. Pengalaman Thailand menunjukkan bahwa intervensi tingkat menteri dapat mempercepat proses yang rumit, terutama ketika menghadapi hambatan birokrasi di negara lain.
Setelah jenazah tiba di Thailand, keluarga Bavorntat berencana melakukan pemeriksaan forensik menyeluruh untuk memastikan penyebab kematian. Hasil otopsi ini akan menjadi kunci untuk menjawab spekulasi yang beredar di media sosial. Selanjutnya, jenazah akan dibawa ke kampung halamannya di Distrik Somdet, Provinsi Kalasin, untuk menjalani upacara keagamaan tradisional. Prosesi pemakaman ini diharapkan menjadi penutup yang layak bagi seorang kreator yang telah menginspirasi banyak orang melalui petualangannya.
Ke depan, publik menanti transparansi penuh dari hasil investigasi. Apakah penyebab kematian Hlun Solo akan terungkap jelas? Dan bagaimana respons otoritas Georgia terhadap temuan tersebut? Pertanyaan-pertanyaan ini masih menggantung, dan jawabannya akan menentukan apakah kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi perlindungan wisatawan di kawasan itu.



