Pena Montblanc Milik Lee Kuan Yew Dilelang Lagi, Tawaran Capai Rp 500 Juta
Baca dalam 60 detik
- Pena milik PM pertama Singapura itu kembali dilelang setelah 21 tahun, dengan tawaran tertinggi S$41.000.
- Lelang ini menegaskan tren kolektor Asia yang kian mengincar memorabilia bersejarah, bukan sekadar barang mewah.
- Minat tinggi pada benda bersejarah bisa mendorong apresiasi nilai koleksi di kawasan, termasuk Indonesia.

Sebuah pena bulu emas Montblanc yang pernah menjadi milik Lee Kuan Yew, perdana menteri pertama Singapura, kembali menjadi sorotan dalam lelang daring yang digelar rumah lelang Hotlotz. Hingga berita ini diturunkan, tawaran tertinggi untuk benda bersejarah itu telah menembus S$41.000 atau setara dengan lebih dari Rp 500 juta.
Pena model Meisterstuck No. 146 ini memiliki ukiran "SM Lee Kuan Yew" yang merujuk pada masa jabatannya sebagai Senior Minister. Sebelumnya, pena ini pernah dilego dalam lelang amal Keluarga Lee Kuan Yew pada Juli 2003. Kini, benda tersebut menjadi salah satu daya tarik utama dalam ajang Interiors & Collectibles โ August: Fine Art Focus yang berlangsung sejak Selasa (4/8) hingga 16 Agustus mendatang.
Menurut keterangan Hotlotz, pena ini menggunakan sistem piston-filling dengan aksen emas dan emblem khas Montblanc berupa puncak salju putih. Untuk model yang sama, harga pasaran biasanya berkisar antara US$500 hingga lebih dari US$2.500 tergantung edisi dan kondisi. Namun, nilai historis yang melekat pada pena milik tokoh pendiri Singapura ini jelas melampaui harga pasaran umumnya.
Fenomena ini menarik untuk dicermati, terutama bagi para kolektor di Indonesia. Benda-benda bersejarah yang pernah digunakan oleh tokoh besar kerap kali memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi dibandingkan nilai intrinsiknya. Hal ini sejalan dengan tren global di mana memorabilia politik dan sejarah semakin dilirik sebagai instrumen investasi alternatif.
Selain pena bersejarah tersebut, lelang Hotlotz kali ini juga menampilkan karya-karya seniman kenamaan Singapura. Di antaranya dua lukisan tinta dari Lim Tze Peng, karya realis sosial Chua Mia Tee yang menggambarkan kawasan Chinatown Singapura, lukisan Gibbons dari seniman avant-garde Chen Wen Hsi, serta karya keramik dari penerima Cultural Medallion, Iskandar Jalil. Kehadiran karya-karya ini menambah daya tarik lelang bagi para kolektor seni di kawasan Asia Tenggara.
Bagi para kolektor yang berminat, pena Lee Kuan Yew dapat dilihat langsung di ruang pamer Hotlotz di Bukit Merah, Singapura. Benda tersebut tercatat sebagai Lot 51 dan penawaran akan ditutup pada 16 Agustus pukul 18.00 waktu setempat. Dengan animo yang sudah terlihat sejak awal, bukan tidak mungkin harga akhir akan melampaui perkiraan banyak pihak.
Lelang ini menjadi pengingat bahwa nilai sebuah benda tidak hanya ditentukan oleh materialnya, tetapi juga oleh jejak sejarah yang melekat padanya. Di tengah maraknya investasi alternatif, memorabilia bersejarah seperti pena ini bisa menjadi pilihan menarik. Namun, para kolektor perlu cermat menilai keaslian dan legalitas benda yang dibeli, terutama jika berniat menjualnya kembali di kemudian hari.
Ke depannya, tren ini berpotensi mendorong semakin banyaknya lelang benda bersejarah di Asia Tenggara. Apakah kolektor Indonesia akan ikut meramaikan panggung lelang internasional? Waktu yang akan menjawab, tetapi minat terhadap benda-benda bersejarah tampaknya tidak akan surut.



