Ekonomi RI Tumbuh 5,29% di Kuartal II, Menkeu: Masih di Bawah Target 6%
Baca dalam 60 detik
- Pertumbuhan ekonomi kuartal II 2026 tercatat 5,29% (yoy), melambat dari kuartal sebelumnya yang mencapai 5,61%.
- Menteri Keuangan menilai capaian ini belum optimal dan berkomitmen mendorong akselerasi di semester II untuk mendekati target 6%.
- Pemerintah mengandalkan injeksi dana SAL ke perbankan dan penurunan bunga deposito untuk merangsang kredit dan konsumsi.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 mencapai 5,29 persen secara tahunan (year-on-year). Angka ini sedikit lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar 5,12 persen, namun masih di bawah laju pertumbuhan triwulan I 2026 yang menembus 5,61 persen.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai realisasi tersebut belum cukup kuat untuk mengakselerasi perekonomian nasional. Dalam keterangannya, ia mengakui bahwa di tengah gejolak geopolitik globalโterutama konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, dan Israelโkinerja ekspor Indonesia ikut tertekan. Meski demikian, ia menegaskan bahwa capaian 5,29 persen masih tergolong baik mengingat kondisi eksternal yang tidak menentu.
"Kita bisa tembus 5,29 persen itu sudah cukup baik dengan harga yang seperti itu," ujar Purbaya dalam media briefing, Kamis (6/8/2026). Namun, ia dengan tegas menyatakan bahwa target pertumbuhan 6 persen pada akhir tahun tetap menjadi prioritas. "Kita ingin tumbuh lebih cepat lagi," tambahnya.
Untuk mencapai target tersebut, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah strategis di semester II. Salah satunya adalah menempatkan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) di lima bank milik negara (himbara) guna mempercepat penyaluran kredit. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan likuiditas di sektor perbankan sehingga mendorong investasi dan konsumsi domestik.
Selain itu, Kementerian Keuangan juga meminta bank-bank BUMN untuk menekan suku bunga deposito, khususnya bagi lembaga atau badan usaha khusus (Special Mission Vehicle/SMV) di bawah kementerian. Kebijakan ini bertujuan menurunkan biaya dana (cost of fund) perbankan, sehingga pada gilirannya bank dapat menawarkan bunga kredit yang lebih rendah kepada masyarakat dan dunia usaha.
Purbaya optimistis bahwa pada kuartal III dan IV, pertumbuhan ekonomi akan berakselerasi menuju level 6 persen. "Kita akan dorong ke arah yang lebih cepat dengan memaksimalkan semua engine of growth yang ada di perekonomian," tegasnya. Meski begitu, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa target tersebut tidak mudah dicapai mengingat tekanan eksternal dan pelemahan daya beli masyarakat kelas menengah.
Konteks domestik menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan, namun kontribusinya cenderung stagnan. Sementara itu, investasi dan ekspor masih dibayangi ketidakpastian global. Kebijakan moneter Bank Indonesia yang cenderung ketat juga menjadi faktor yang perlu dicermati dalam mendorong ekspansi kredit.
Ke depan, efektivitas kebijakan fiskal dan moneter yang terkoordinasi akan menjadi kunci. Pertanyaannya, mampukah pemerintah menjaga momentum pertumbuhan di tengah gejolak global dan tekanan fiskal? Jawabannya akan terlihat pada data kuartal III yang dirilis November mendatang.



