Fitch: Target Pertumbuhan Ekonomi Vietnam 2026 Tekan Likuiditas Perbankan
Baca dalam 60 detik
- Lembaga pemeringkat Fitch memperkirakan pertumbuhan kredit Vietnam 2026 mencapai 18%, melampaui pedoman bank sentral sebesar 15%, sehingga berpotensi memicu ketegangan likuiditas.
- Target pertumbuhan ekonomi ganda (double-digit) pemerintah Vietnam dinilai membebani perbankan domestik yang rentan terhadap guncangan eksternal dibandingkan negara tetangga.
- Fitch memproyeksikan ekonomi Vietnam tumbuh 6,8% pada 2026 dan 6,7% pada 2027, dengan infrastruktur menjadi pendorong utama, namun tekanan pada margin bunga bersih perbankan diperkirakan berlanjut.

Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings memperingatkan bahwa sistem perbankan Vietnam akan menghadapi tekanan signifikan dalam mendanai perekonomian, seiring ambisi pemerintah mengejar pertumbuhan ekonomi dua digit pada 2026. Peringatan ini muncul di tengah sinyal perlambatan ekonomi global dan meningkatnya kebutuhan pembiayaan infrastruktur yang masif.
Dalam pernyataan resminya, Fitch menilai bank-bank di Vietnam masih lebih rentan terhadap guncangan eksternal dibandingkan dengan negara tetangga. Kondisi ini diperparah oleh target pertumbuhan ekonomi yang ambisius, di mana pemerintah Vietnam menargetkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) mencapai dua digit pada tahun depan. Padahal, pada semester pertama tahun ini, pertumbuhan ekonomi Vietnam baru mencapai 8,18 persen, dan untuk mencapai target tersebut, pertumbuhan kuartal kedua harus mencapai minimal 11,9 persen.
Fitch memperkirakan pertumbuhan kredit sistem perbankan Vietnam pada 2026 akan mencapai sekitar 18 persen, lebih tinggi dari pedoman bank sentral yang sebesar 15 persen. Angka ini mencerminkan agresivitas bank-bank domestik dalam mengejar ekspansi, namun di sisi lain memicu kekhawatiran akan ketidakseimbangan antara pertumbuhan kredit dan pertumbuhan dana pihak ketiga. Pertumbuhan kredit yang cepat telah melampaui pertumbuhan simpanan, sehingga menyebabkan likuiditas semakin ketat dan margin bunga bersih (net interest margin) menyempit.
"Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan bank-bank domestik untuk memenuhi permintaan kredit yang tinggi dari dunia usaha dan individu semakin tertekan," demikian pernyataan Fitch, seperti dikutip dalam laporan tersebut. Tekanan ini tidak hanya berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan, tetapi juga dapat menghambat efektivitas kebijakan moneter dalam mendukung pertumbuhan ekonomi.
Di sisi lain, Fitch memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Vietnam akan mencapai 6,8 persen pada 2026 dan 6,7 persen pada 2027, dengan sektor infrastruktur menjadi salah satu pendorong utama. Pemerintah Vietnam telah menaikkan target investasi infrastruktur menjadi 7 persen dari PDB tahun lalu untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi yang ambisius tersebut. Namun, kebutuhan pembiayaan yang besar ini justru menjadi beban tambahan bagi sektor perbankan yang sudah padat.
Konteks ini relevan bagi Indonesia, yang juga tengah gencar mendorong pertumbuhan ekonomi melalui proyek infrastruktur dan hilirisasi. Perbankan nasional dihadapkan pada tantangan serupa: menjaga likuiditas di tengah permintaan kredit yang tinggi, sambil tetap mematuhi ketentuan rasio pembiayaan yang prudent. Pengalaman Vietnam dapat menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya keseimbangan antara target pertumbuhan dan stabilitas sektor keuangan.
"Bank-bank di Vietnam tetap lebih rentan terhadap guncangan eksternal dibandingkan negara tetangga mereka," ujar Fitch Ratings dalam pernyataannya.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah bank sentral Vietnam akan mengambil langkah-langkah untuk mengerem laju kredit, atau justru melonggarkan kebijakan untuk mendukung target pemerintah. Keputusan ini akan menentukan apakah tekanan pada likuiditas perbankan akan mereda atau semakin dalam, serta bagaimana hal itu berdampak pada perekonomian Vietnam secara keseluruhan.



