Bursa Asia Terkoreksi Lagi: Kekhawatiran AI Kembali Menghantui Pasar
Baca dalam 60 detik
- Indeks saham Asia mayoritas melemah pada Kamis (6/8) setelah reli empat hari berakhir, dipicu oleh kinerja buruk emiten teknologi global.
- Kekhawatiran atas profitabilitas investasi AI kembali menguat setelah pendapatan SanDisk dan Western Digital mengecewakan, menyeret saham semikonduktor di Seoul dan Tokyo.
- Pasar menanti data tenaga kerja AS pada Jumat (7/8) untuk mengukur arah kebijakan suku bunga The Fed, sementara ketegangan geopolitik di Selat Hormuz masih membayangi.

Sebagian besar bursa Asia kembali terpuruk pada Kamis (6/8), mengakhiri reli empat hari yang sempat memberi harapan. Tekanan jual kembali menguasai sektor teknologi setelah kinerja keuangan raksasa AS, SanDisk dan Western Digital, mengecewakan pasar. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa investasi besar-besaran di bidang kecerdasan buatan (AI) belum tentu menghasilkan keuntungan sepadan.
Reli yang dimulai Jumat pekan lalu memang sempat mengangkat indeks Seoul hingga nyaris 18 persen, dengan saham semikonduktor seperti SK hynix dan Samsung melonjak lebih dari 25 persen. Namun, euforia itu sirna seketika. Indeks Kospi terkoreksi lebih dari lima persen pada perdagangan Kamis, dipimpin oleh aksi jual besar-besaran di kedua raksasa chip tersebut. Tokyo pun tak luput: Nikkei merosot sekitar dua persen, dengan Kioxia ambles lebih dari sepuluh persen dan Tokyo Electron turun tujuh persen. SoftBank, yang dijadwalkan merilis laporan keuangan pada hari yang sama, kehilangan enam persen nilainya.
Koreksi ini menegaskan bahwa pasar masih rapuh dan sentimen terhadap AI sangat fluktuatif. Setelah aksi jual massal sepanjang Juni-Juli yang memangkas miliaran dolar valuasi perusahaan teknologi, aksi bargain hunting memang sempat terjadi. Namun, pendapatan yang mengecewakan dari SanDisk dan Western Digitalโdua pemain utama di sektor penyimpanan dataโkembali mengingatkan investor bahwa biaya pengembangan AI sangat besar, sementara kepastian pendapatan masih jauh dari harapan.
Di tengah tekanan tersebut, bursa lain seperti Hong Kong, Wellington, dan Taipei ikut melemah. Namun, Shanghai, Sydney, dan Singapura justru mencatatkan penguatan. Di Wall Street, Dow Jones Industrial Average masih mampu mencetak rekor penutupan tertinggi untuk hari ketiga berturut-turut, meski indeks lainnya kompak menghijau. Pemisahan kinerja ini menunjukkan investor mulai selektif, beralih ke sektor yang dianggap lebih aman seperti barang konsumen dan energi.
Selain faktor AI, pasar juga mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Harga minyak mentah sempat turun awal pekan setelah ada sinyal meredanya ketegangan antara AS dan Iran, terutama soal pembukaan kembali Selat Hormuz. Namun, pada Kamis, harga minyak kembali naik setelah Iran mengumumkan telah menyepakati rute pelayaran dengan Oman dan tengah merampungkan pengaturan pengelolaan bersama. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan bahwa pembukaan kembali selat tersebut bergantung pada komitmen AS untuk mengakhiri blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran. "Faktor-faktor yang membuat Selat Hormuz tidak aman masih ada dari pihak Amerika Serikat, terutama blokade angkatan laut dan tindakan agresif lainnya," ujarnya seperti dikutip IRNA.
Bagi pasar Indonesia, koreksi ini menjadi pengingat akan keterkaitan erat dengan sentimen global. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memang masih relatif stabil, tetapi investor domestik perlu mewaspadai potensi capital outflow jika gejolak di pasar Asia berlanjut. Sektor teknologi dalam negeri, meski tidak sebesar Korea atau Jepang, tetap rentan terhadap perubahan persepsi risiko global. Selain itu, fluktuasi harga minyak akibat ketegangan di Selat Hormuz dapat berdampak pada anggaran energi nasional dan nilai tukar rupiah.
Pelaku pasar kini menanti data tenaga kerja AS yang akan dirilis Jumat (7/8). Data nonfarm payrolls ini menjadi penentu arah kebijakan suku bunga The Fed. Jika angka pengangguran naik signifikan, pasar mungkin berekspektasi The Fed akan melonggarkan kebijakan moneter lebih cepat. Namun, jika data tetap kuat, kekhawatiran inflasi bisa kembali menekan aset berisiko. Sementara itu, musim laporan keuangan perusahaan teknologi masih berlangsung, dan setiap kejutan negatif berpotensi memicu aksi jual baru.
Pertanyaan besarnya kini: apakah koreksi ini hanya koreksi teknis atau awal dari tren penurunan yang lebih dalam? Dengan valuasi yang masih tinggi di sektor AI, pasar tampaknya akan terus bergejolak hingga ada bukti nyata bahwa investasi besar tersebut mampu menghasilkan laba. Investor disarankan untuk tetap waspada dan mempertimbangkan diversifikasi portofolio di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.



