AI Menggerus Kualitas Belajar: Survei Ungkap 36% Mahasiswa Menyerahkan Tugas Terjemahan Hasil Generatif Tanpa Revisi
Baca dalam 60 detik
- Hampir empat dari sepuluh mahasiswa mengaku menyerahkan tugas berbahasa asing yang diterjemahkan AI tanpa mengubah sepatah kata pun, menurut survei 2025.
- Para pengajar menilai kebiasaan ini mengikis kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah, serta berpotensi menurunkan daya tahan mental mahasiswa.
- Fenomena ini menuntut adaptasi metode evaluasi di perguruan tinggi, termasuk di Indonesia, agar tidak sekadar menguji hasil akhir tetapi juga proses belajar.

Maraknya penggunaan kecerdasan buatan (AI) generatif di kalangan mahasiswa memunculkan persoalan baru yang mengkhawatirkan para pendidik: semakin banyak tugas kuliah yang diserahkan apa adanya tanpa proses berpikir kritis. Sebuah survei yang dilakukan pada 2025 terhadap 535 mahasiswa universitas mengungkap fakta mengejutkanโsekitar 36 persen responden mengaku pernah menyerahkan hasil terjemahan otomatis untuk tugas bahasa asing tanpa melakukan perubahan apa pun.
Fenomena ini bukan sekadar soal kemalasan akademik, melainkan cermin pergeseran cara belajar generasi digital. Para dosen dan tutor melaporkan bahwa sebagian mahasiswa kini cenderung menerima jawaban atau kode program yang dihasilkan AI tanpa benar-benar memahaminya. Akibatnya, proses pembelajaran menjadi dangkal dan kehilangan esensi pengembangan keterampilan.
Lebih jauh, para peneliti memperingatkan bahwa ketergantungan berlebihan pada AI dapat menggerus kemampuan kognitif dasar. Kebiasaan menyerahkan pekerjaan pada mesin berisiko menurunkan ketekunan, kemampuan memecahkan masalah, aktivitas otak, dan konsentrasi. Ini menjadi ironi di tengah gencarnya kampanye pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Di Indonesia, persoalan serupa mulai terasa di berbagai jenjang pendidikan. Sejumlah pengajar di perguruan tinggi mengaku kerap menemukan tugas yang pola kalimatnya tidak lazim, ciri khas hasil terjemahan mesin. Namun, belum ada data resmi yang memetakan skala masalah ini di dalam negeri. Yang jelas, tanpa pengawasan dan desain tugas yang tepat, AI bisa menjadi 'jalan pintas' yang merusak fondasi akademik.
Para ahli pendidikan menilai, kunci menghadapi tantangan ini bukanlah melarang penggunaan AI, melainkan mengubah cara evaluasi. Tugas yang menuntut analisis, sintesis, dan refleksi pribadi lebih sulit digantikan oleh mesin. Selain itu, penguatan integritas akademik dan literasi digital menjadi prasyarat agar mahasiswa memanfaatkan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti proses berpikir.
"Yang kita hadapi bukan sekadar masalah teknologi, tetapi juga masalah pedagogi. Dosen harus merancang pembelajaran yang mendorong mahasiswa untuk berpikir, bukan sekadar menghasilkan produk," ujar seorang pengamat pendidikan yang enggan disebut namanya.
Ke depan, perguruan tinggi di Indonesia perlu segera beradaptasi. Apakah akan lahir kebijakan khusus tentang penggunaan AI dalam perkuliahan? Atau justru muncul inovasi metode penilaian yang lebih tahan terhadap intervensi mesin? Pertanyaan-pertanyaan ini menuntut jawaban nyata dari para pemangku kebijakan pendidikan, sebelum generasi yang terbiasa 'menyerahkan' pekerjaan pada AI benar-benar kehilangan kemampuan berpikir mandiri.



