Tekanan Mencekik: Starmer di Persimpangan Mundur atau Bertahan
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menghadapi tekanan internal partai untuk mundur setelah rivalnya Andy Burnham memenangkan kursi parlemen.
- Kegagalan mengerek pertumbuhan ekonomi dan memperbaiki layanan publik menjadi pemicu utama krisis kepemimpinan, diperparah oleh kebijakan kontroversial seperti penunjukan duta besar.
- Jika Starmer lengser, Inggris akan mencatatkan perdana menteri keenam yang hengkang dalam satu dekade, menandai instabilitas politik yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer berada di ambang titik nadir karier politiknya: antara bertahan menghadapi pemberontakan internal atau menyerahkan tampuk kekuasaan kepada rival satu partainya, Andy Burnham. Tekanan dari kubu Partai Buruh kian deras setelah Burnham, mantan Wali Kota Manchester Raya, memenangkan kursi di House of Commons melalui pemilihan sela pekan lalu.
Menteri Bisnis Peter Kyle, dalam wawancara dengan BBC, mengakui bahwa Starmer tengah "meluangkan waktu untuk merenungkan realitas politik, tantangan, dan peluang yang dihadapinya." Namun Kyle menepis spekulasi pengunduran diri sebagai kabar tak berdasar. Sementara itu, Starmer menghabiskan akhir pekan di Chequers, kediaman resmi perdana menteri, bersama keluarga tanpa memberikan isyarat publik tentang langkah selanjutnya selain ucapan Hari Ayah di media sosial.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump ikut campur dengan pernyataan di Truth Social yang mengaitkan potensi lengsernya Starmer dengan kegagalan di bidang imigrasi dan energi. "Keir Starmer akan mengundurkan diri sebagai Perdana Menteri Inggris. Ia gagal total pada dua isu penting—IMIGRASI DAN ENERGI (BUKA LAUT UTARA UNTUK MINYAK!). Saya doakan yang terbaik!" tulis Trump. Hubungan kedua pemimpin yang sempat hangat memburuk dalam beberapa bulan terakhir, antara lain karena Inggris tidak ikut serta dalam perang Iran.
Ketidakpuasan terhadap Starmer telah membuncah selama berbulan-bulan. Sejak kemenangan gemilang Partai Buruh pada Juli 2024, ia gagal memenuhi janji pertumbuhan ekonomi, memperbaiki layanan publik yang bobrok, dan meredakan biaya hidup. Kesalahan demi kesalahan, seperti penunjukan Peter Mandelson—teman Jeffrey Epstein yang bermasalah—sebagai duta besar untuk AS, semakin menggerus kepercayaan. Partai Buruh juga kehilangan suara liberal ke Partai Hijau yang tumbuh, sementara Reform UK terus memuncaki jajak pendapat.
Burnham, yang baru dilantik sebagai anggota parlemen, langsung menempatkan dirinya sebagai penantang. Dalam pidato kemenangannya, ia menyatakan, "Semua orang tahu politik tidak berjalan dengan baik. Semua orang merasakan negara ini tidak berada di tempat yang seharusnya. Malam ini bisa, hanya bisa, menjadi titik balik." Namun, jika Starmer mundur, belum jelas apakah Burnham akan menghadapi kandidat lain. Wes Streeting, yang mengundurkan diri sebagai menteri kesehatan bulan lalu, telah menyatakan siap bertarung dalam kontes kepemimpinan.
Starmer sendiri bersikukuh akan bertahan. "Saya akan maju, saya akan berdiri," ujarnya usai memberi selamat kepada Burnham pada Jumat. Namun, Charlie Falconer, anggota senior Partai Buruh di House of Lords, menilai Starmer sudah "kehilangan otoritas sepenuhnya." Ia mendesak adanya proses transisi yang disepakati antara Starmer dan Burnham. Pertanyaan besarnya kini: akankah Partai Buruh mampu menghindari perpecahan lebih dalam, atau justru mempercepat siklus pergantian pemimpin yang sudah menjadi tradisi baru di Inggris?



