Bersama Guncang Panggung Politik Malaysia: Partai 'Anggaran Rendah' Siap Rebut Hati Pemilih Kecewa
Baca dalam 60 detik
- Parti Bersama Malaysia (Bersama) yang dipimpin mantan menteri Rafizi Ramli dan Nik Nazmi menggunakan model rekrutmen digital terbuka untuk menjaring kader, menawarkan alternatif bagi pemilih yang jenuh dengan politik tradisional.
- Partai ini diproyeksikan menjadi 'spoiler' dalam pemilu mendatang, terutama menggerus suara Pakatan Harapan (PH) di daerah perkotaan, namun analis meragukan daya tahannya tanpa mesin partai yang solid.
- Kesuksesan Bersama bergantung pada kemampuannya menarik segmen pemilih muda, profesional, dan kelompok non-Melayu, bukan sekadar menjadi wadah bagi pendukung PKR yang kecewa.

Partai yang sempat tak terdengar di panggung politik Malaysia, Parti Bersama Malaysia (Bersama), kini mencuri perhatian dengan strategi rekrutmen digital yang tak lazim—membuka pendaftaran calon legislatif seperti melamar pekerjaan di perusahaan rintisan. Di tengah kejenuhan publik terhadap koalisi mapan, partai bentukan dua mantan menteri ini berambisi menjadi 'maskapai anggaran' yang mampu bersaing dengan 'maskapai premium' dalam meraih suara rakyat.
Bersama, yang baru saja dihidupkan kembali oleh mantan Menteri Ekonomi Rafizi Ramli dan mantan Menteri Sumber Daya Alam Nik Nazmi Nik Ahmad, mengklaim telah menerima ribuan pendaftar dari berbagai latar belakang—dari aktivis, akademisi, hingga mantan pegawai negeri. Proses seleksinya ketat: pendaftar harus mengungkapkan aset, menjalani wawancara video daring, dan lolos pemeriksaan latar belakang. "Dengan metode tradisional, kami mungkin tidak akan pernah menemukan banyak dari mereka," ujar Nik Nazmi kepada CNA.
Model ini menjadi angin segah di tengah politik Malaysia yang sarat intrik internal dan birokrasi partai. Nik Nazmi menganalogikan partainya seperti maskapai bertarif rendah: biaya operasional kecil, tapi dampaknya bisa setara dengan partai besar. "Kami bisa sampai ke tujuan dengan sama baiknya," katanya. Namun, para analis memperingatkan bahwa popularitas awal Bersama lebih didorong oleh kekecewaan terhadap Pakatan Harapan (PH) dan Partai Keadilan Rakyat (PKR) daripada daya tarik platform partai itu sendiri.
Menurut Charles Santiago, mantan anggota parlemen DAP, Bersama adalah gejala dari kegagalan gerakan reformasi memenuhi harapan publik. "PH tidak menepati janji-janjinya, dan sebagian pemilih akan melihat Bersama sebagai cara untuk menyampaikan pesan," ujarnya. Data menunjukkan bahwa sejak diluncurkan kembali pada pertengahan Mei, sekitar 27.000 orang telah mendaftar sebagai anggota—47 persen di antaranya sebelumnya tidak terafiliasi dengan partai mana pun. Namun, 27 persen lainnya adalah mantan anggota PKR, yang memperkuat citra Bersama sebagai partai pecahan.
Hisommudin Bakar dari Ilham Centre menilai PH paling rentan kehilangan suara ke Bersama, terutama di daerah perkotaan dan semi-perkotaan yang selama ini menjadi basis PH. Ia membandingkan potensi Bersama dengan Parti Warisan di Sabah yang berhasil merebut enam kursi perkotaan dari DAP pada pemilu 2025. "Jika Bersama berhasil memposisikan diri sebagai penyalur alternatif bagi pemilih yang kecewa, dampaknya tidak perlu memenangkan banyak kursi—cukup menggerus 3-8 persen suara di kursi marjinal untuk mengubah hasil akhir," ujarnya. Dalam skenario itu, keuntungan bisa jatuh ke Barisan Nasional (BN) atau Perikatan Nasional (PN), tergantung komposisi pemilih.
Nik Nazmi membantah tuduhan bahwa partainya sekadar 'spoiler' yang akan memecah suara PH. "Kami bekerja keras untuk mendapatkan dukungan, dan saya harap PH juga melakukan hal yang sama," tegasnya. Ia menunjuk pada penurunan partisipasi pemilih Tionghoa perkotaan di Sabah sebagai bukti bahwa PH tidak bisa lagi menganggap enteng basis mereka. Bersama, menurutnya, justru menawarkan rumah baru bagi mereka yang merasa ditinggalkan oleh politik tradisional.
Dalam konteks Indonesia, fenomena Bersama mengingatkan pada kemunculan partai-partai baru seperti Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang mengusung pendekatan digital dan anak muda. Namun, pengalaman PSI yang gagal menembus ambang batas parlemen pada 2024 menunjukkan bahwa strategi digital saja tidak cukup tanpa basis akar rumput yang kuat. Bagi pengamat politik Indonesia, uji coba Bersama di Johor dan Negeri Sembilan akan menjadi laboratorium menarik untuk melihat apakah model 'partai rintisan' bisa bertahan di tengah mesin politik tradisional yang mapan.
Untuk jangka pendek, target Bersama sederhana: tidak kehilangan deposit. Di Malaysia, calon harus meraih minimal 12,5 persen suara agar deposit RM10.000 (parlemen) atau RM5.000 (negara bagian) tidak hangus. Namun, Nik Nazmi sudah berpandangan jauh ke depan: pada Pemilu Umum ke-16 (GE16) yang harus digelar paling lambat Februari 2028, ia menargetkan perolehan kursi yang 'cukup signifikan' untuk dijadikan pijakan. Partai berencana bertarung secara independen dan tidak akan bergabung dengan pemerintahan mana pun, bahkan jika terjadi parlemen gantung. "Skenario terburuk kami adalah memberikan perjanjian dukungan dan pasokan (confidence and supply) asalkan pemerintah berkomitmen pada reformasi besar," ujarnya.
Para analis mengingatkan bahwa jalan Bersama masih panjang. Hisommudin menekankan bahwa kekuatan awal partai ini terletak pada narasi, bukan pada mesin politik atau organisasi akar rumput. "Sejarah politik Malaysia penuh dengan partai yang awalnya menarik perhatian, tapi kemudian goyah karena kelemahan organisasi, inkonsistensi pesan, dan keterbatasan dana," katanya. Syaza Shukri dari IIUM menambahkan bahwa jika Bersama terlalu mengandalkan data dan mengabaikan emosi serta rasa memiliki, akan sulit memenangkan hati rakyat. "Saya berharap mereka bertahan dalam jangka panjang dan tumbuh menjadi gerakan akar rumput," ujarnya.
Nik Nazmi mengakui tantangan itu. Ia dan Rafizi telah merancang partai untuk bisa bertahan tanpa mereka. "Kami tidak melihat diri kami masih melakukan ini di usia 60-an. Politik adalah alat untuk mencapai tujuan, bukan tujuan itu sendiri," katanya. Pertanyaan besarnya: akankah Bersama mampu bertransformasi dari sekadar kendaraan protes menjadi kekuatan politik yang berkelanjutan, atau akan menjadi catatan kaki lain dalam sejarah politik Malaysia yang penuh dinamika?



