Yoga ala Barat Dinilai Terlalu Fisik, Pakar India Desak Perubahan
Baca dalam 60 detik
- Varun Veer, pakar yoga asal India, mengkritik praktik yoga di Barat yang terlalu fokus pada postur fisik dan mengabaikan dimensi mental serta spiritual.
- Menurut Veer, yoga di Barat 95% hanya berupa asana, sementara elemen pernapasan dan meditasi nyaris diabaikan, berbeda dengan tradisi India yang mengintegrasikan ketiganya.
- Ia mendesak pengawasan ketat terhadap sertifikasi instruktur yoga global dan mengingatkan bahwa praktik yang dangkal dapat merusak esensi budaya yoga.

Di tengah perayaan Hari Yoga Internasional, seorang pakar yoga asal India melontarkan kritik tajam terhadap cara yoga diajarkan dan dipraktikkan di dunia Barat. Varun Veer, yang telah mengajar yoga di berbagai negara seperti Yunani, Prancis, Kanada, Amerika Serikat, dan Hong Kong, menilai bahwa yoga di Barat telah kehilangan esensi aslinya.
Menurut Veer, yoga di Barat terlalu direduksi pada aspek fisik, yaitu sekitar 95% hanya berfokus pada postur atau asana, sementara elemen pernapasan dan meditasi hampir tidak mendapat tempat. Padahal, dalam tradisi India, yoga adalah praktik holistik yang melibatkan tubuh, napas, dan pikiran secara seimbang.
“Dalam tradisi India, kami bekerja pada tubuh, napas, dan pikiran,” ujar Veer dalam sebuah wawancara. Ia menambahkan bahwa sejarah yoga telah berusia lebih dari 10.000 tahun, dan bentuk paling tradisional, hatha yoga, adalah yang pertama kali menyebar luas di Barat. Namun, seiring waktu, muncullah metode-metode baru seperti Iyengar, Ashtanga, dan Sivananda yang semuanya tetap berakar pada hatha yoga.
Veer, yang mulai berlatih yoga pada usia sembilan tahun atas bimbingan ayahnya, menyambut baik antusiasme global terhadap yoga. Namun, ia mengingatkan bahwa praktik yoga di luar India seringkali melupakan akar budayanya. “Jika Anda melihat budaya India, tradisi, dan nilai-nilai keluarga, kami diajarkan meditasi sejak awal,” katanya. Ia mencontohkan penggunaan kata “dhyan” (meditasi) dalam percakapan sehari-hari, seperti “dhyan se khao” (makan dengan fokus) atau “dhyan se chalo” (berjalan dengan kesadaran).
Bagi Indonesia, kritik Veer relevan mengingat yoga juga semakin populer di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Bali. Banyak studio yoga di Indonesia mengadopsi gaya Barat yang menekankan postur fisik, sementara aspek meditasi dan pernapasan kerap dianggap opsional. Padahal, menurut Veer, yoga yang utuh seharusnya mencakup ketiganya. Ia berharap agar pelatihan instruktur yoga diatur lebih ketat secara global, termasuk di Indonesia, untuk menjaga kualitas dan esensi yoga.
Veer, yang merupakan murid dari filsuf Sri Aurobindo, mengkritik maraknya sertifikasi yoga instan yang tidak melalui dedikasi yang cukup. “Ini tidak baik untuk budaya yoga, tidak baik untuk guru, tidak baik untuk murid, dan tidak baik untuk kemanusiaan,” tegasnya. Ia sendiri merekrut instruktur yang lulus dari universitas yoga di India, tempat pelatihan berlangsung bertahun-tahun.
Setelah lebih dari 40 tahun berlatih, Veer mendesak Barat untuk mengevaluasi kembali cara mereka melatih dan mengajar yoga. Pertanyaannya, akankah tren yoga global mulai mengembalikan keseimbangan antara tubuh, napas, dan pikiran?



