DSSA Paling Dibuang Asing, Net Sell Tembus Rp904 Miliar dalam Sepekan
Baca dalam 60 detik
- Investor asing mencatat penjualan bersih Rp904,1 miliar di bursa saham Indonesia pada pekan ketiga Juni 2026, dengan DSSA sebagai emiten paling tertekan.
- Aksi jual besar-besaran terjadi di tengah penguatan IHSG sebesar 2,82%, menandakan divergensi antara sentimen pasar domestik dan asing.
- Tekanan jual asing diprediksi masih berlanjut seiring ketidakpastian global, namun kapitalisasi pasar tetap tumbuh 2,51% menjadi Rp10.788 triliun.

Investor asing kembali menunjukkan sikap hati-hati dengan membukukan penjualan bersih (net sell) senilai Rp904,1 miliar di seluruh pasar saham Indonesia sepanjang perdagangan 15β19 Juni 2026. Aksi lepas saham ini dipimpin oleh PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang mencatat net sell terbesar, mencapai Rp838,6 miliar.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), total nilai beli asing mencapai Rp44,64 triliun, sementara nilai jualnya Rp45,55 triliun. Meskipun IHSG menguat 2,82% ke level 6.177,14 secara mingguan, arus modal asing justru keluar, menandakan adanya perbedaan persepsi antara investor lokal dan asing terhadap prospek pasar Indonesia.
Setelah DSSA, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menjadi sasaran jual asing berikutnya dengan net sell Rp646,4 miliar. Posisi ketiga ditempati PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang dilepas sebesar Rp554,5 miliar. Emiten berkapitalisasi besar seperti PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) juga tidak luput dari tekanan, masing-masing mencatat net sell Rp372,4 miliar dan Rp279,7 miliar.
Fenomena ini menarik karena terjadi di saat IHSG justru mencatat kinerja positif. Penguatan indeks sebesar 2,82% bahkan menempatkan Indonesia sebagai bursa dengan kinerja terbaik ketiga di Asia Tenggara, setelah Filipina (naik 3,81%) dan Singapura (menguat 3,32%). Namun, aksi jual asing yang terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar menunjukkan bahwa investor global masih waspada terhadap risiko geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global.
Di sisi lain, transaksi besar di pasar negosiasi turut mewarnai pekan ini. PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) mencatat net buy asing senilai Rp3,9 triliun, yang sebagian besar terjadi di luar pasar reguler. Hal ini mengindikasikan adanya investor institusi yang melakukan akumulasi saham secara terstruktur, meskipun secara keseluruhan arus dana asing masih negatif.
Bagi investor domestik, data ini menjadi sinyal untuk mencermati pergerakan saham-saham yang banyak dilepas asing. Tekanan jual pada DSSA, AMMN, dan BUMI bisa menjadi peluang jika fundamental perusahaan tetap kuat, namun juga bisa menjadi batu sandungan jika sentimen negatif berlanjut. Rata-rata nilai transaksi harian yang turun tipis 1,02% menjadi Rp24,81 triliun, serta frekuensi transaksi yang menyusut 10,33%, menandakan likuiditas pasar sedikit mengendor.
Ke depan, pasar akan mencermati data ekonomi global, terutama kebijakan suku bunga bank sentral AS dan perkembangan harga komoditas, yang sangat memengaruhi minat investor asing terhadap aset berisiko seperti saham Indonesia. Pertanyaan besarnya, akankah aksi jual asing ini hanya bersifat sementara atau menjadi awal tren penarikan dana yang lebih besar?



