Selat Hormuz Lumpuh, Nilai Kapal dan Kargo Rp2.000 Triliun Terjebak di Teluk Persia
Baca dalam 60 detik
- Sekitar 1.150 kapal kargo dengan nilai total US$125 miliar masih tertahan di Teluk Persia pasca konflik yang melumpuhkan Selat Hormuz.
- Allianz mencatat pergeseran tatanan maritim global dari efisiensi biaya menuju ketahanan, dengan premi risiko yang melonjak.
- Meski jumlah kecelakaan kapal menurun 37% dalam lima tahun terakhir, ancaman tradisional seperti kerusakan mesin dan kebakaran masih dominan.

Selat Hormuz, jalur minyak paling vital di dunia, masih belum pulih sepenuhnya. Data Allianz Research menunjukkan sekitar 1.150 kapal kargo dengan nilai gabungan kapal dan kargo mencapai US$125 miliar—setara lebih dari Rp2.000 triliun—masih mengambang di Teluk Persia menunggu kepastian keamanan untuk melanjutkan pelayaran. Situasi ini tidak hanya menguji ketahanan rantai pasok global, tetapi juga menandai lahirnya tatanan maritim baru yang lebih rapuh dan mahal.
Menurut laporan Safety and Shipping Review terbaru Allianz Commercial, konflik Timur Tengah yang melumpuhkan Selat Hormuz menjadi puncak dari serangkaian gangguan yang melanda pelayaran niaga. Jalur yang biasanya dilintasi hingga 140 kapal per hari itu kini hanya beroperasi di bawah ancaman ranjau dan serangan. Bahkan jika gencatan senjata antara AS dan Iran bertahan, para analis meragukan lalu lintas dapat kembali normal tanpa jaminan keamanan yang solid dari komunitas internasional.
Thomas Lillelund, CEO Allianz Commercial, menegaskan bahwa industri pelayaran telah berubah secara fundamental. Dari kondisi yang relatif stabil selama puluhan tahun, kini pelayaran dihadapkan pada volatilitas tinggi yang memaksa pemilik kapal menyeimbangkan antara efisiensi, geopolitik, dan ketahanan. “Biaya ketidakpastian sedang membentuk ulang industri ini,” ujarnya.
Bagi Indonesia, yang sangat bergantung pada jalur pelayaran internasional untuk ekspor komoditas dan impor energi, situasi ini menjadi peringatan dini. Selat Hormuz adalah jalur transit bagi sekitar 20% minyak mentah dunia. Gangguan berkepanjangan dapat mendongkrak biaya pengiriman dan premi asuransi kargo, yang pada akhirnya membebani harga barang di dalam negeri. Kepala Riset Konsultan Kelautan Allianz, Kapten Rahul Khanna, mengingatkan bahwa dunia harus beralih dari rantai pasok “just-in-time” ke “just-in-case”, dengan prioritas pada ketahanan ketimbang efisiensi biaya.
Di sisi lain, laporan Allianz juga mencatat tren positif: jumlah kapal yang hilang total menurun 37% dalam lima tahun terakhir, dari rata-rata 111 per tahun (2016–2020) menjadi 70 per tahun (2021–2025). Pada 2025, tercatat 43 kapal hilang, sebagian besar berbobot di atas 500 GT. Insiden pelayaran global juga turun 16% menjadi 2.818 kasus dibanding 3.353 pada 2024. Namun, kerusakan mesin masih menjadi penyebab utama (1.505 insiden), disusul tabrakan (260). Kebakaran di kapal besar seperti kontainer dan pengangkut mobil juga masih menjadi momok, dengan lebih dari 200 insiden pada 2025.
Ukuran kapal yang semakin besar turut mendorong klaim “general average”—di mana pemilik kapal dan pemilik kargo berbagi kerugian saat darurat. Kontribusi bisa mencapai 50% dari nilai kargo; untuk kapal pengangkut ribuan mobil listrik, klaim bisa menembus US$100 juta. Justus Heinrich, Global Product Leader Marine Hull Allianz, menekankan bahwa perusahaan kini harus memahami keterkaitan risiko. “Peran kami sebagai asuransi adalah menjadi mitra ketahanan, bukan sekadar penanggung risiko,” ujarnya.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: seberapa cepat Selat Hormuz bisa kembali berfungsi normal, dan apakah dunia siap membayar premi ketahanan yang lebih mahal? Bagi Indonesia, jawabannya akan menentukan stabilitas pasokan energi dan daya saing ekspor di tengah tatanan maritim yang kian tidak pasti.



