Tuchel, Pelatih Galak yang Bikin Pemain Inggris ‘Melek’ demi Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Pelatih asal Jerman itu tak segan membentak pemain saat latihan demi menjaga standar tinggi timnas Inggris di Piala Dunia.
- Djed Spence, bek Tottenham yang dipanggil ke skuad, menganggap teguran Tuchel sebagai hal biasa dari pelatih elite bermental juara.
- Pendekatan disiplin Tuchel diyakini menjadi kunci untuk membawa Inggris meraih gelar Piala Dunia pertama sejak 1966.

Thomas Tuchel, pelatih timnas Inggris yang baru menjabat sejak Januari 2025, dikenal tidak segan membentak pemainnya demi menjaga intensitas latihan. Hal itu diungkapkan striker Aston Villa, Ollie Watkins, saat tim sedang bersiap menghadapi laga kedua Piala Dunia melawan Ghana di Kansas City.
“Dia tidak takut untuk berteriak pada Anda. Dia selalu menuntut dan memastikan Anda fokus setiap hari,” ujar Watkins. Dalam sesi latihan, Tuchel terekam meneriaki bek Tottenham Hotspur, Djed Spence, agar “bangun” setelah pemain itu melakukan kesalahan dalam sebuah drill. Watkins mengaku lega karena bukan dirinya yang menjadi sasaran amarah pelatih berusia 51 tahun tersebut.
Spence sendiri tidak mempermasalahkan sikap keras Tuchel. Menurutnya, teguran semacam itu sudah lumrah dari pelatih sekelas Tuchel yang pernah memenangi Liga Champions bersama Chelsea serta gelar liga di Paris Saint-Germain dan Bayern Munich. “Dia pelatih elite yang menuntut kualitas tertinggi, dan kami ingin memberikannya kembali. Ini sangat normal dalam latihan,” kata Spence kepada BBC Radio 5 Live.
Tuchel memang dikenal sebagai pelatih disiplin, namun di luar lapangan ia bisa santai. Watkins menggambarkan Tuchel sebagai pribadi yang “sangat menuntut” saat berlatih, tetapi “sangat rileks dan tenang” di base camp. “Itulah yang Anda butuhkan jika targetnya memenangi Piala Dunia,” tambahnya.
Spence, yang masuk sebagai pemain pengganti di 10 menit akhir laga melawan Kroasia, mengaku memiliki hubungan baik dengan Tuchel. “Dia sering bicara dengan saya sebelum dan sesudah latihan, mengingatkan apa yang harus saya lakukan, menit bermain saya, dan kualitas yang saya miliki. Saya rasa dia manajer yang hebat,” ujarnya.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, pendekatan tegas Tuchel ini bisa menjadi pelajaran berharga. Di tengah gencarnya pembinaan usia muda di Tanah Air, sosok pelatih yang mampu menyeimbangkan antara ketegasan dan kedekatan personal dinilai penting untuk mencetak pemain bermental juara. Timnas Indonesia sendiri masih terus berbenah menuju Piala Dunia 2026, dan gaya kepemimpinan seperti Tuchel bisa menjadi referensi bagi pelatih lokal.
Dengan mentalitas “pemenang” yang ditularkan Tuchel, Inggris optimistis bisa mengakhiri puasa gelar Piala Dunia sejak 1966. Pertanyaan besarnya: akankah metode keras ala Jerman ini membawa The Three Lions bersinar di Amerika Serikat? Atau justru memicu gesekan di ruang ganti? Hanya waktu yang bisa menjawab.



