Lamine Yamal: Sang Pemimpin Muda yang Mengubah Wajah Spanyol di Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Lamine Yamal mencetak gol perdananya di Piala Dunia saat Spanyol menghancurkan Arab Saudi 4-0, membalikkan performa buruk di laga sebelumnya.
- Remaja 18 tahun itu menjadi pemain termuda kedua yang membuka skor di Piala Dunia setelah Pele (1958), dan yang termuda sejak 1966 yang terlibat langsung dalam tiga gol dalam 25 menit pertama.
- Dengan manajemen cedera yang ketat, Yamal diprediksi menjadi kunci Spanyol melaju ke final, namun tantangan menjaga konsistensi dan kerendahan hati tetap mengintai.

Lamine Yamal kembali membuktikan bahwa ia bukan sekadar bakat menjanjikan, melainkan pemimpin sesungguhnya di lapangan. Dalam laga kedua Grup B Piala Dunia 2026, pemain sayap Barcelona itu menjadi pusat perhatian saat Spanyol menghancurkan Arab Saudi 4-0 di Atlanta, Kamis (12/6) waktu setempat. Gol pembuka yang ia cetak pada menit ke-12 tidak hanya mengakhiri paceklik gol Spanyol, tetapi juga menegaskan bahwa generasi emas baru La Furia Roja telah lahir.
Penampilan Yamal kontras dengan laga sebelumnya melawan Cape Verde, di mana ia hanya bermain 19 menit dan Spanyol bermain imbang tanpa gol. Pelatih Luis de la Fuente sengaja mengatur menit bermain Yamal karena ia masih dalam masa pemulihan cedera hamstring yang diderita pada April lalu. Namun, saat diturunkan sebagai starter, dampaknya langsung terasa. Ribuan penggemar yang mengenakan kostum bernomor 10 miliknya menciptakan atmosfer stadion yang bergemuruh, bahkan sebelum bola disentuh.
Yamal tidak hanya memanaskan tribun, tetapi juga mengubah permainan. Dengan kecepatan, keberanian, dan kepercayaan diri tinggi, ia melewati bek lawan dengan mudah dan menghidupkan serangan Spanyol. Mantan rekan setimnya di timnas, Cesar Azpilicueta, memuji kemampuannya membaca permainan. "Dia tahu kapan harus merebut bola, kapan harus menggiring, dan di mana harus berada. Dia tumbuh di setiap pertandingan," ujar Azpilicueta kepada Match of the Day.
Gol pertama Yamal di Piala Dunia tercipta setelah ia menyambar umpan silang rendah di tiang jauh. Stadion Atlanta meledak dalam sorak-sorai. Pencapaian ini menempatkannya dalam jajaran elit: ia menjadi pemain ketujuh dalam sejarah yang mencetak gol di Piala Dunia sebelum berusia 19 tahun, dan yang kedua seusianya yang membuka skor dalam suatu pertandingan setelah Pele (17 tahun) pada 1958. Ia juga memecahkan rekor Lionel Messi yang mencetak gol pertama di Piala Dunia saat berusia 19 tahun kurang dua pekan—Yamal melakukannya dua pekan lebih muda.
Wayne Rooney, legenda Inggris, memuji mentalitas Yamal yang berani memikul beban sebagai pemain utama. "Yang mengesankan adalah ketika Messi masuk ke Barcelona, ada pemain top seperti Ronaldinho. Tapi Yamal masuk ke Barcelona dan timnas Spanyol, dan ini menjadi timnya. Semua orang melihatnya untuk menang," kata Rooney. Ia berharap Yamal bisa menjaga konsistensi seperti Messi dan Cristiano Ronaldo yang masih tampil di Piala Dunia ini. Namun, Rooney juga mengingatkan pentingnya dukungan tim di sekelilingnya agar ia tetap rendah hati.
Pelatih Brentford, Thomas Frank, yang juga menjadi pengamat, menyoroti tantangan mental yang dihadapi Yamal. "Dia selalu menginginkan bola. Tekad dan aplikasinya untuk bermain di level tertinggi luar biasa. Tapi bagaimana dia bisa tetap rendah hati ketika semua orang memujanya sebagai superstar baru? Itu akan menjadi hal besar," ujar Frank.
Spanyol kini memuncaki Grup B dengan empat poin, unggul selisih gol atas Uruguay yang akan menjadi lawan terakhir mereka. Yamal ditarik keluar pada babak pertama sebagai langkah pencegahan cedera. De la Fuente menegaskan bahwa manajemen kebugaran Yamal akan terus dilakukan secara hati-hati. Jika ia bisa tampil penuh, potensi Spanyol untuk melaju jauh—bahkan hingga final—semakin terbuka. Pertanyaan besarnya: akankah Yamal menjadi alasan Spanyol mengangkat trofi? Atau justru cedera yang menghadang langkahnya?



