Dari Nonton di Kampung ke Final Piala Dunia: Kisah Christian Karembeu
Baca dalam 60 detik
- Christian Karembeu mengaku pertandingan Brasil vs Prancis di Piala Dunia 1986 adalah momen yang membentuk kariernya.
- Ia menonton laga itu bersama satu kampung di Kaledonia Baru, hanya dengan satu televisi.
- 12 tahun kemudian, ia menjadi bagian dari tim Prancis yang mengalahkan Brasil di final 1998.

Christian Karembeu, mantan gelandang timnas Prancis, membawa pendengar FIFA Podcast bernostalgia ke dua pertandingan Piala Dunia yang mengubah hidupnya: satu saat ia masih bocah di Kaledonia Baru, dan satu lagi saat ia menjadi juara dunia. Keduanya melawan Brasil.
Karembeu, yang kini berusia 55 tahun, mengaku bahwa laga perempat final Piala Dunia 1986 antara Prancis dan Brasil adalah pertandingan favoritnya sepanjang masa. Saat itu ia baru berusia 15 tahun dan duduk terpaku di depan satu-satunya televisi di kampung halamannya di Kaledonia Baru, wilayah seberang laut Prancis di Pasifik Selatan.
โBrasil lawan Prancis di Meksiko โ berakhir dengan adu penalti,โ kenang Karembeu kepada presenter Mikael Silvestre. โBagi saya, itu luar biasa, seperti final. Ada pertandingan yang lebih indah, tapi yang ini berdampak besar saat saya kecil.โ
Suasana menonton saat itu sangat berbeda dengan sekarang. Karembeu menceritakan bagaimana ia harus berebut tempat di depan layar bersama seluruh warga desa. โDi Kaledonia Baru waktu itu hanya ada satu TV, dan saya di belakang karena harus memberi tempat untuk tamu. Semua orang di depan saya. Saya hanya bisa bertanya, โSiapa yang mencetak gol?โ, โSiapa yang melakukan ini?โ Kenangan yang fantastis,โ ujarnya.
Karena Kaledonia Baru adalah wilayah Prancis, turnamen tersebut menyedot perhatian publik secara luas. โKami semua bangun jam dua atau tiga pagi saat Prancis bermain,โ kata Karembeu. โSemua desa, semua suku, semua kota menonton pertandingan.โ
Yang luar biasa, bocah pengagum Platini itu kemudian benar-benar bermain melawan Brasil di final Piala Dunia 1998. Karembeu, yang saat itu membela Real Madrid, menjadi bagian dari lini tengah Prancis yang mendominasi Dunga, Leonardo, dan Rivaldo. Prancis menang telak 3-0 di Stade de France.
Menurut Karembeu, kemenangan itu bukan sekadar gelar juara. โItu adalah momen indah bagi Prancis, bagi rekan setim, dan bagi sejarah tim nasional. Benar-benar perayaan besar atas keberagaman masyarakat kami,โ katanya. Ia menekankan bahwa Piala Dunia mampu menyatukan orang-orang dari latar belakang berbeda, seperti yang ia alami sendiri dari kampung terpencil hingga panggung terbesar sepak bola.
Kisah Karembeu menjadi pengingat bahwa Piala Dunia bukan hanya ajang olahraga, tetapi juga jembatan budaya. Bagi Indonesia, negara dengan keragaman suku dan budaya, semangat persatuan melalui sepak bola bisa menjadi inspirasi. Momen seperti Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada diharapkan kembali menghadirkan cerita-cerita yang melampaui batas geografis.
FIFA Podcast sendiri, yang dipandu Christian Vieri dan Mikael Silvestre, akan terus menghadirkan wawancara eksklusif dengan legenda dan bintang sepak bola selama turnamen mendatang. Akankah ada lagi pemain dari pelosok dunia yang mengulang jejak Karembeu?



