Jejak Karbon Infantino: 10 Kota dalam Seminggu, Emisi Setara 55 Warga Prancis
Baca dalam 60 detik
- Presiden FIFA Gianni Infantino menggunakan jet pribadi untuk menghadiri 10 pertandingan Piala Dunia 2026 dalam tujuh hari, memicu kritik dari pegiat lingkungan.
- Perusahaan karbon Greenly memperkirakan emisi dari jet pribadi Infantino selama turnamen mencapai 300-500 ton CO2, setara jejak tahunan 35-55 warga Prancis.
- Model turnamen yang tersebar di tiga negara (AS, Kanada, Meksiko) dinilai menciptakan paradoks keberlanjutan, dengan beban karbon dialihkan ke tuan rumah dan penggemar.

Presiden FIFA Gianni Infantino kembali menjadi sorotan setelah catatan perjalanan udaranya selama Piala Dunia 2026 terungkap. Dalam tujuh hari, pria berpaspor Italia-Swiss itu mengunjungi sepuluh kota berbeda—dari Mexico City hingga Vancouver—dengan jet pribadi Qatar Airways, memicu pertanyaan serius tentang komitmennya terhadap perubahan iklim.
Data yang dihimpun dari berbagai sumber menunjukkan Infantino telah hadir di tribun penonton sebanyak sepuluh kali dalam sepekan. Kebiasaan ini bukan hal baru; pada September 2024, media investigasi Josimar mengungkap bahwa ia telah menempuh 600.000 kilometer dalam tiga tahun terakhir menggunakan pesawat sewaan yang sama. Namun, format Piala Dunia 2026 yang diperluas—48 tim, 104 pertandingan, tersebar di tiga negara—memperparah dampak lingkungan dari gaya hidup sang presiden.
Greenly, perusahaan asal Prancis yang mengkhususkan diri pada penilaian jejak karbon, menyebut satu jam penerbangan jet pribadi Infantino menghasilkan emisi setara dengan emisi tahunan rata-rata satu manusia. Jika ia terus berpindah kota dua kali sehari hingga babak 16 besar dan menghadiri delapan pertandingan tersisa, Greenly memperkirakan total emisi dari jet pribadinya mencapai 300 hingga 500 ton CO2 sepanjang turnamen. Angka itu setara dengan jejak karbon tahunan 35 hingga 55 warga Prancis.
FIFA membela kebiasaan Infantino dengan menyatakan bahwa eksekutifnya memilih antara penerbangan komersial dan pribadi "berdasarkan efisiensi dan efektivitas biaya" dan bahwa organisasi menanggung semua biaya perjalanan. Namun, kritikus menilai pembelaan itu tidak menjawab persoalan inti. David Gogishvili, ahli geografi dari Universitas Lausanne, menyebut FIFA telah menciptakan "paradoks keberlanjutan". "Dengan menggunakan kembali stadion NFL yang sudah ada namun tersebar secara geografis di seluruh benua, FIFA menciptakan model yang secara struktural bergantung pada perjalanan udara dengan emisi tinggi," katanya kepada AFP. "Ketika pimpinan memberi contoh dengan melompat antar pertandingan menggunakan jet pribadi, itu mencerminkan pendekatan sistemik yang lebih luas."
John Hocevar, Direktur Kampanye Laut Greenpeace AS, menambahkan bahwa tindakan eksekutif yang terbang setiap hari dengan jet pribadi tidak mengirimkan pesan bahwa FIFA mengakui penyebab perubahan iklim atau tanggung jawabnya untuk menjadi bagian dari solusi. Pola ini diprediksi akan berulang di Women's World Cup 2027 di Brasil, yang dipilih FIFA pada 2024 mengalahkan tawaran Belgia-Belanda-Jerman yang 100% dapat diakses kereta api. Lebih ekstrem lagi, Piala Dunia pria 2030 yang merayakan seabad turnamen akan digelar di Maroko, Portugal, dan Spanyol, dengan tiga pertandingan di Amerika Selatan—ditambah wacana ekspansi menjadi 64 tim.
Bagi Indonesia, berita ini relevan mengingat posisi negara sebagai salah satu pasar sepak bola terbesar di Asia. Meski tidak menjadi tuan rumah, pola penyelenggaraan FIFA yang mengabaikan aspek keberlanjutan dapat memengaruhi cara federasi sepak bola nasional dan sponsor lokal memandang tanggung jawab lingkungan. Di tengah meningkatnya kesadaran akan perubahan iklim di Indonesia, publik mungkin mulai mempertanyakan apakah acara olahraga besar harus terus mengorbankan lingkungan demi hiburan.
Pertanyaan yang tersisa: akankah FIFA mengubah model penyelenggaraannya di masa depan, atau justru akan terus memperluas jejak karbon seiring ambisi komersialnya? Dengan rencana ekspansi menjadi 64 tim pada 2030, jawabannya tampaknya belum akan berpihak pada bumi.



