Mengelola 30 Restoran dan Tiga Anak: Strategi Datuk Najib Jaga Keseimbangan Keluarga-Bisnis
Baca dalam 60 detik
- Datuk Mohd Najib dan istrinya Qistina sukses menjalankan Serai Group yang mengelola 30 restoran, termasuk dua cabang di London, sambil membesarkan tiga anak.
- Pasangan ini menerapkan pola asuh yang melibatkan anak-anak dalam dunia kuliner, mengikuti jejak keluarga besar yang juga berkecimpung di bisnis restoran.
- Meski dikenal workaholic, Najib kini memprioritaskan waktu keluarga dengan rutin mengantar anak sekolah, liburan tahunan, dan membawa keluarga saat perjalanan bisnis.

Di tengah hiruk-pikuk industri kuliner Malaysia, Datuk Mohd Najib Abdul Hamid dan istrinya, Datin Qistina Taff, membuktikan bahwa mengelola 30 restoran bukanlah halangan untuk menjadi orangtua yang hadir penuh bagi ketiga anak mereka. Pasangan yang menjabat direktur di Serai Group ini menjalani keseharian yang unik: anak-anak mereka, Arya Iman (10), Arman Noah (8), dan Arif Azeez (5), tumbuh besar di antara meja-meja restoran, akrab dengan staf, dan bahkan ikut serta dalam ekspansi bisnis hingga ke London.
Bagi Najib, membesarkan anak di lingkungan restoran bukanlah hal asing. Ia sendiri tumbuh di Sabah dengan ayah yang gemar memasak dan akhirnya memiliki restoran sendiri. Kenangan membantu ayahnya menjajakan nasi lemak dan mie goreng di kantor-kantor pemerintah saat liburan sekolah menjadi fondasi kecintaannya pada dunia kuliner. Qistina pun memiliki latar serupa: ibunya, Rina Abdullah, mendirikan restoran Serai Thai pertama pada 1990 di Shah Alam. “Saya dan Qistina secara tidak sadar menciptakan kembali lingkungan restoran yang akrab seperti masa kecil kami,” ujar Najib.
Keseharian keluarga ini berpusat pada makanan. Saat makan di luar, pilihan mereka selalu jatuh pada restoran milik sendiri. Anak-anak, menurut Najib, sudah sangat paham seluk-beluk kuliner meski usia mereka masih belia. Arya, sang sulung, bahkan sudah berani membantu di dapur dan mengaku bangga karena “restoran membuat kami punya uang.” Namun di balik kelucuan itu, ada pesan serius: Najib dan Qistina ingin menanamkan nilai kerja keras dan kebersamaan sejak dini.
Perjalanan bisnis pasangan ini dimulai setelah mereka menikah pada 2010. Najib, yang sebelumnya bekerja 16 jam sehari di Melbourne, Australia, memutuskan pulang ke Malaysia dan bersama Qistina mengembangkan Serai Group. Mereka memulai dari nol: Najib memasak, Qistina menjadi kasir. Kini, grup tersebut menaungi merek-merek seperti Serai, Super Blonde, Jibby & Co, dan Meet Bros yang bekerja sama dengan Menate Steak Hub di London. Tak kurang dari 1.000 karyawan bekerja di bawah naungan Serai Group, dengan rencana pembukaan cabang Meet Bros ketiga di Manchester.
Kesibukan yang padat membuat Najib sadar akan pentingnya waktu keluarga setelah kelahiran anak ketiganya. Ia kini mengatur ulang jadwal: setiap pagi ia mengantar anak-anak ke sekolah, akhir pekan ia sisihkan khusus untuk mereka, dan setahun dua kali ia mengajak seluruh keluarga berlibur tanpa gangguan pekerjaan. “Saya masih sibuk Senin sampai Jumat, tapi saya pastikan akhir pekan untuk mereka,” kata Najib. Bahkan saat proyek restoran di London membutuhkan perhatian penuh, ia memboyong seluruh keluarga tinggal di sana selama empat bulan agar tidak terpisah.
Najib mengakui bahwa istrinya, Qistina, adalah pilar utama dalam pengasuhan anak. Setiap pagi, Qistina menyiapkan bekal sekolah untuk anak-anak. “Dia melakukan 90 persen pekerjaan membesarkan anak. Jika dia tidak berada di industri yang sama, mungkin saya pulang ke rumah kosong,” ujarnya sambil tertawa. Meski demikian, Najib bertekad tidak mengulangi kesalahan yang ia lihat pada kerabatnya yang terlalu sibuk bekerja hingga anaknya terus-menerus menelepon. “Saya tidak mau melewatkan momen. Setiap tahun saya pastikan ada liburan keluarga di mana saya benar-benar bersama anak-anak,” tegasnya.
Kisah Najib dan Qistina menjadi contoh bagaimana pengusaha restoran skala besar tetap bisa menjalankan peran orangtua secara aktif. Di tengah tekanan ekspansi bisnis dan persaingan industri F&B, mereka membuktikan bahwa keseimbangan antara karier dan keluarga bukanlah mitos. Pertanyaannya, mampukah model ini bertahan ketika jumlah restoran terus bertambah dan anak-anak mulai memasuki usia remaja yang membutuhkan perhatian lebih?

