Infantino Tetap Bertahan di Puncak FIFA di Tengah Badai Kritik dan Rencana Investasi yang Gagal
Baca dalam 60 detik
- Dewan FIFA dalam pertemuan darurat di Rabat menyatakan tetap mendukung penuh Gianni Infantino, meski mengakui adanya kesalahan dalam rencana investasi swasta yang menuai kontroversi.
- UEFA dan sejumlah asosiasi anggota, termasuk Wales dan Inggris, kehilangan kepercayaan dan mengancam langkah hukum, memperdalam perpecahan di tubuh FIFA menjelang kongres 2027.
- Kegagalan skema FIFA Forward Enterprise dan tudingan janji final Piala Dunia 2030 kepada Maroko menambah daftar panjang kontroversi yang membayangi masa depan kepemimpinan Infantino.

Gianni Infantino dipastikan tetap menjabat sebagai Presiden FIFA setelah mendapatkan dukungan dari para eksekutif senior dalam pertemuan darurat di Rabat, Maroko, Rabu (30/10). Meski demikian, badan sepak bola dunia itu secara terbuka mengakui telah melakukan sejumlah "kesalahan" dalam proses penggalangan dana investasi swasta yang memicu gelombang kritik tajam dari berbagai pihak.
Pertemuan yang digelar di kantor FIFA untuk kawasan Afrika itu berlangsung sekitar empat jam sebelum akhirnya merilis pernyataan resmi yang menegaskan kembali kepercayaan terhadap Infantino. Langkah ini diambil di tengah tekanan yang meningkat, terutama dari UEFA yang pekan lalu menyatakan kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan pria asal Swiss tersebut. UEFA bahkan menyebut rencana FIFA Forward Enterprise (FFE) sebagai "kesepakatan buruk, di belakang layar, dan tidak transparan".
Kritik tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam tubuh FIFA sendiri. Sekretaris Jenderal Mattias Grofstrom, yang turut hadir dalam pertemuan tersebut, sebelumnya mengirim memo internal pada Selasa (29/10) yang menyebut situasi ini sebagai "rangkaian peristiwa yang menyedihkan dan tercela". Namun, setelah pertemuan, Grofstrom dan jajaran manajemen justru menyatakan "dukungan penuh" kepada Infantino.
Sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan, FIFA mengakui bahwa kesalahan juga terjadi setelah rencana FFE bocor ke media. The Times pertama kali mengungkap rencana ini pada 28 Juli lalu. FIFA telah mengirim surat permintaan maaf kepada dewan dan asosiasi anggota, berkomitmen untuk tidak mengulangi kesalahan serupa, dan akan melakukan tinjauan menyeluruh. Namun, dalam pernyataan yang sama, FIFA juga menegaskan akan "tidak lagi menoleransi serangan terhadap integritas, tata kelola yang baik, dan proses yang semestinya".
Kontroversi lain yang ikut mencuat adalah tudingan bahwa Infantino menjanjikan Maroko menjadi tuan rumah final Piala Dunia 2030 sebagai imbalan dukungan. FIFA dengan tegas membantah klaim tersebut dan menyebutnya sebagai "berita palsu dan menyesatkan". Keputusan mengenai lokasi final, yang juga akan melibatkan Spanyol dan Portugal, akan diumumkan kemudian.
Di tengah dukungan yang diperoleh Infantino, kritik keras terus berdatangan. Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, yang negaranya menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026 bersama AS dan Meksiko, menyatakan tidak lagi percaya pada Infantino. Legenda sepak bola Portugal, Luis Figo, yang pernah mencalonkan diri melawan pendahulu Infantino, Sepp Blatter, pada 2015, menyerukan Infantino untuk segera mundur. "Infantino telah merendahkan jabatan yang dia janjikan untuk diangkat. Sudah terlambat untuk menyelamatkan martabatnya, tetapi belum terlambat untuk menyelamatkan sepak bola," ujar Figo.
Bagi Indonesia, dinamika internal FIFA ini patut dicermati. Sebagai salah satu dari 211 asosiasi anggota, PSSI memiliki hak suara yang sama dalam kongres mendatang. Ketika kontroversi melanda FIFA, posisi Indonesia dalam percaturan sepak bola global bisa menjadi lebih strategis, terutama jika terjadi pergeseran kekuatan antara UEFA dan FIFA. Keputusan Indonesia untuk mendukung atau tidak akan memengaruhi arah kebijakan FIFA, termasuk potensi alokasi dana pembangunan infrastruktur sepak bola yang selama ini menjadi andalan negara berkembang.
Langkah FIFA untuk mengakui kesalahan dan berjanji melakukan perbaikan mungkin tidak cukup untuk meredakan kemarahan UEFA. Dengan ancaman tindakan hukum dan semakin banyaknya asosiasi yang menarik dukungan, Infantino menghadapi ujian terbesar dalam kariernya. Pertanyaannya, apakah dukungan dari dewan eksekutif kali ini cukup untuk mengamankan masa depannya, atau justru menjadi awal dari perpecahan yang lebih dalam di tubuh FIFA?



