Gina Rodriguez Buka Suara soal Depresi Pascapersalinan: Saya Butuh Bantuan, tapi Tak Takut Memintanya
Baca dalam 60 detik
- Aktris Gina Rodriguez mengaku sempat mengalami depresi pascapersalinan setelah kelahiran anak keduanya, namun kini merasa jauh lebih baik.
- Dukungan suaminya, Joe LoCicero, yang telah menjalani perjalanan kesehatan mental selama satu dekade, menjadi kunci pemulihannya.
- Kisah ini menyoroti pentingnya dukungan sosial dan profesional bagi ibu baru, sebuah isu yang juga relevan di Indonesia.

Aktris Gina Rodriguez, yang dikenal lewat perannya dalam serial "Jane the Virgin", mengungkapkan bahwa ia sempat bergulat dengan depresi pascapersalinan setelah melahirkan anak keduanya tahun lalu. Pengakuan ini disampaikan dalam wawancara dengan Us Weekly, membuka tabir pengalaman pribadi yang jarang dibicarakan secara terbuka oleh publik figur.
Bintang berusia 42 tahun itu melahirkan putrinya, Lucille, pada 2024. Rodriguez, yang juga memiliki putra bernama Charlie dari pernikahannya dengan Joe LoCicero, menceritakan bahwa perjalanan pascapersalinannya kali ini sangat berbeda dengan pengalaman pertamanya. "Saya bahkan tidak tahu apa yang sedang terjadi. Bagaimana mungkin saya mengetahuinya?" ujarnya, menggambarkan kebingungan yang ia rasakan saat itu.
Yang menarik, Rodriguez menekankan peran penting "kampung" atau lingkaran terdekatnya dalam membantunya melewati masa sulit tersebut. "Mereka yang datang membantu membuat segalanya jauh lebih mudah. Saya butuh bantuan, dan saya tidak takut untuk memintanya," tuturnya. Kini, dengan usia putrinya yang menginjak sembilan bulan, Rodriguez merasa telah keluar dari fase kelam itu. "Melihat ke belakang, saya bahkan tidak tahu apa yang terjadi, tapi yang paling saya ingat adalah orang-orang yang membantu saya," kenangnya.
Selain dukungan teman dan keluarga, Rodriguez mengapresiasi sikap suaminya yang dinilai sangat suportif. LoCicero, yang telah menjalani perjalanan kesehatan mentalnya sendiri selama sepuluh tahun terakhir, justru menjadi sosok yang peka terhadap kondisi istrinya. "Dia bilang, 'Sayang, saya pikir kamu butuh bantuan tambahan,' dan bukan dengan nada menyalahkan, melainkan dengan cara yang menunjukkan bahwa dia ingin mendukung saya dengan cara yang terbaik," cerita Rodriguez. Sang suami bahkan menginisiasi untuk mencarikan terapis dan mengumpulkan para ibu lain yang bisa berbagi pengalaman, sebuah langkah yang menurut Rodriguez sangat berarti.
Kisah Rodriguez menyoroti isu kesehatan mental yang kerap dianggap tabu, terutama di kalangan ibu baru. Di Indonesia, kesadaran akan depresi pascapersalinan masih rendah. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan sekitar 50-70% ibu di Indonesia mengalami baby blues, dan sebagian kecil di antaranya berkembang menjadi depresi pascapersalinan. Sayangnya, banyak yang tidak terdiagnosis dan tidak mendapat penanganan yang memadai. Pengakuan publik seperti yang dilakukan Rodriguez diharapkan dapat mendorong lebih banyak ibu untuk berani mencari bantuan.
Para ahli kesehatan jiwa menilai bahwa dukungan keluarga, terutama pasangan, memegang peranan krusial dalam pemulihan. Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Dr. Rose Mini, menekankan bahwa suami perlu dilatih untuk mengenali gejala depresi pada istri dan mengambil langkah proaktif, seperti yang dilakukan LoCicero. "Peran suami tidak hanya sebagai pendukung, tetapi juga sebagai 'penjaga gerbang' yang bisa mengarahkan istri pada profesional," ujarnya. Namun, tantangan terbesar di Indonesia adalah minimnya akses layanan kesehatan mental, terutama di daerah terpencil.
Ke depan, kisah Rodriguez membuka ruang diskusi yang lebih luas tentang pentingnya kesehatan mental ibu. Apakah pengakuan para selebritas ini akan cukup untuk mengubah kebijakan dan layanan kesehatan mental di Indonesia? Atau justru menjadi momentum bagi pemerintah dan masyarakat untuk lebih serius menangani isu yang selama ini tersembunyi? Yang jelas, keberanian Rodriguez untuk berbicara telah memberikan harapan bagi banyak ibu yang mungkin merasa sendirian dalam perjuangan mereka.



