Tergerus Layanan Bike-Sharing, Penyewa Sepeda Singapura Beralih ke Tur dan Acara Korporat
Baca dalam 60 detik
- Penyewaan sepeda tradisional di Singapura kehilangan 80-90% pelanggan karena dominasi bike-sharing Anywheel dan HelloRide.
- Para pengusaha kini beralih ke sepeda premium, tur berpemandu, dan acara korporat untuk bertahan hidup.
- Tanpa inovasi model bisnis, industri ini diprediksi mengalami penurunan struktural dalam 5-10 tahun ke depan.

Layanan penyewaan sepeda konvensional di Singapura tengah menghadapi tekanan eksistensial. Maraknya operator bike-sharing seperti Anywheel dan HelloRide yang menawarkan tarif murah dan fleksibilitas tinggi telah memangkas pendapatan pengusaha rental hingga 90 persen, memaksa mereka untuk mencari sumber pendapatan alternatif atau menutup usaha.
Fenomena ini bukanlah hal baru. Sejak 2017, ketika operator dockless seperti oBike, Ofo, dan Mobike masuk, pasar rental sepeda tradisional mulai goyah. Meski sempat pulih saat pandemi, kini persaingan kembali memanas. Anywheel dan HelloRide, yang menguasai sekitar 60.000 unit sepeda di seluruh pulau, terus memperluas area operasi ke kawasan pemukiman, transportasi umum, dan destinasi rekreasi. Akibatnya, toko-toko rental di kawasan wisata seperti East Coast Park dan Punggol Beach kehilangan pelanggan secara drastis.
Joe Chua, pemilik Jomando di Punggol Beach, menuturkan bahwa pendapatannya anjlok hingga 80-90 persen. Ia bahkan harus merogoh kocek pribadi untuk membayar sewa tempat. "Di luar liburan sekolah, sewa sepi. Saya bisa bilang, setiap hari nol," ujarnya. Ia telah menjual sebagian besar armadanya dan kini hanya mengandalkan sepeda premium serta acara kelompok besar untuk tetap beroperasi. Hal serupa dialami Kamal Ishnin dari The Bicycle Hut di North Bridge Road, yang mencatat penurunan pelanggan hingga 35 persen dan menganggap tahun ini sebagai penentu kelangsungan usahanya.
Para akademisi menilai bahwa model bisnis rental tradisional memang rapuh. Walter Theseira dari Singapore University of Social Sciences menjelaskan bahwa toko rental bergantung pada kondisi permintaan khusus, seperti wisatawan dan pesepeda rekreasi, bukan pengguna harian. "Biaya transaksi yang tinggi membuat harga sewa tidak kompetitif untuk penggunaan sehari-hari," katanya. Inovasi dockless bike-sharing berhasil menekan biaya transaksi, sehingga membuka pasar yang lebih luas. Namun, kehadiran mereka juga menghancurkan struktur biaya lama yang tidak bisa bersaing.
Di tengah gempuran ini, sebagian pengusaha mencoba bertahan dengan menggeser fokus ke segmen premium. Jasper Guo dari Dualcircles, yang menyewakan sepeda balap kelas atas dengan tarif S$30 hingga S$400 per hari, mengaku 80 persen pelanggannya kini adalah turis yang mencari performa tinggi. "Mereka ingin sepeda terbaik untuk mengelilingi pulau sejauh 80 kilometer," katanya. Ia juga menekankan layanan personal sebagai nilai jual utama. Sementara itu, beberapa toko lain mulai menawarkan tur berpemandu dan paket acara korporat untuk menambah pemasukan.
Namun, para pengamat mengingatkan bahwa langkah-langkah tersebut mungkin tidak cukup. Lynda Wee dari Nanyang Technological University menyarankan agar pengusaha beralih ke model berlangganan atau keanggotaan, serta memanfaatkan platform digital untuk mengurangi ketergantungan pada pelanggan yang datang langsung. George Wong dari Singapore Management University juga merekomendasikan ekspansi ke area yang belum terjangkau bike-sharing, seperti Pulau Ubin, serta menonjolkan aspek keselamatan dengan menyediakan helm gratis.
Bagi Indonesia, kisah ini menjadi pelajaran berharga. Di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung, layanan bike-sharing juga mulai menjamur. Jika tidak diantisipasi, para penyewa sepeda tradisional di Indonesia bisa bernasib sama. Pemerintah dan pelaku usaha perlu mendorong inovasi model bisnis, misalnya dengan integrasi layanan pariwisata atau kemitraan dengan platform digital, agar sektor ini tetap relevan.
Pertanyaannya, akankah para pengusaha rental sepeda di Singapura mampu beradaptasi sebelum terlambat? Ataukah mereka akan menjadi saksi bisu dari transformasi mobilitas perkotaan yang tak terbendung?



