Tim Sepak Bola Wanita Afghanistan Bersatu di Selandia Baru: Simbol Perlawanan di Tengah Pengasingan
Baca dalam 60 detik
- FIFA mengakui tim wanita Afghanistan di pengasingan, memungkinkan mereka bertanding secara resmi tanpa persetujuan Taliban.
- 23 pemain yang tersebar di berbagai negara akhirnya berkumpul di Selandia Baru untuk menjalani kamp latihan dan laga uji coba.
- Keputusan ini membuka peluang bagi mereka untuk tampil di ajang internasional seperti Olimpiade dan Piala Dunia, sekaligus menjadi simbol harapan bagi perempuan Afghanistan.

Dua puluh tiga pemain sepak bola wanita Afghanistan yang kini hidup dalam pengasingan akhirnya merasakan kembali atmosfer pertandingan. Mereka berkumpul di Auckland, Selandia Baru, untuk menjalani kamp latihan dan dua laga uji coba melawan Kepulauan Cook. Ini adalah kali pertama mereka bermain bersama sejak FIFA, pada April lalu, memutuskan bahwa mereka dapat mewakili negara mereka di pertandingan resmi di masa depan.
Keputusan FIFA itu menjadi titik balik setelah bertahun-tahun tim nasional wanita Afghanistan harus bubar akibat larangan Taliban yang kembali berkuasa pada 2021. Sebelumnya, mereka membutuhkan persetujuan Federasi Sepak Bola Afghanistan, yang mustahil didapat di bawah rezim yang melarang perempuan berolahraga. Kini, dengan status baru sebagai tim pengungsi, Afghan Women United dapat berupaya lolos ke kompetisi bergengsi seperti Olimpiade dan Piala Dunia.
Perjalanan menuju pengakuan ini tidak mudah. Para pemain yang tersebar di Australia, Inggris, Portugal, dan negara lain harus berjuang mengurus dokumen perjalanan untuk bisa berkumpul. Bagi banyak dari mereka, sepak bola bukan sekadar olahraga, melainkan alasan untuk bertahan hidup. Manozh Noori, misalnya, harus menyembunyikan kariernya dari keluarganya sendiri. Ia bahkan mengubur medali dan trofinya di halaman rumah sebelum melarikan diri dari Afghanistan, berharap suatu hari bisa mengambilnya kembali.
Kisah serupa datang dari Mursal Sadat, yang kini bekerja sebagai pelatih dan advokat hak-hak perempuan. Ia menegaskan bahwa tanpa sepak bola, ia mungkin masih berada di Afghanistan, menjadi salah satu dari jutaan perempuan yang tidak diizinkan belajar atau menentukan masa depannya sendiri. Sementara itu, Najma Arefi, bek yang kini tinggal di Inggris, mengenang masa-masa berlatih di bawah terik matahari 45 derajat Celsius karena perempuan sering mendapat jadwal latihan yang tidak diinginkan. Kemenangan timnya di Herat pernah mengubah cara pandang masyarakat terhadap olahraga wanita, dengan papan reklame yang menampilkan mereka di seluruh kota.
Pengakuan FIFA ini tidak lepas dari perjuangan Khalida Popal, pendiri tim nasional wanita Afghanistan, yang selama bertahun-tahun melobi agar para pemain di pengasingan tetap diakui. Menurut Arefi, status resmi ini adalah sejarah, karena mereka mendapat pengakuan tanpa persetujuan Taliban. Sementara itu, juru bicara Taliban untuk olahraga, Ahmadullah Wasiq, menolak berkomentar mengenai dukungan FIFA terhadap tim wanita, tetapi menyatakan ingin FIFA kembali mendukung sepak bola di Afghanistan secara umum. FIFA sendiri sebelumnya menegaskan bahwa dukungan hanya akan dilanjutkan jika perempuan diizinkan bermain.
Bagi Indonesia, kisah ini menjadi cermin pentingnya inklusivitas dalam olahraga. Meski Indonesia tidak mengalami situasi ekstrem seperti Afghanistan, perjuangan para pemain ini mengingatkan bahwa olahraga dapat menjadi alat pemberdayaan perempuan dan perekat sosial. Di tengah upaya pemerintah mendorong partisipasi perempuan di berbagai bidang, termasuk olahraga, kisah Afghan Women United menunjukkan bahwa dukungan dan kebijakan yang tepat dapat membawa perubahan besar.
Dua kekalahan di Auckland tidak mengurangi makna pertandingan tersebut. Bagi para pemain, tampil di lapangan adalah bukti bahwa mereka tidak hilang, meski diasingkan dan terpisah dari keluarga. Mereka telah menunjukkan bahwa semangat dan tekad tidak dapat dibungkam oleh rezim mana pun. Pertanyaannya kini, akankah pengakuan FIFA ini menjadi langkah awal menuju kesetaraan yang lebih luas bagi perempuan Afghanistan, atau hanya menjadi simbol sesaat yang terlupakan?



