Menghindari 3 Faktor Risiko di Usia Paruh Baya Bisa Menambah 13 Tahun Hidup Bebas Demensia
Baca dalam 60 detik
- Studi ARIC terhadap 12.409 orang menunjukkan kaitan kuat antara kesehatan pembuluh darah di usia 46–70 tahun dengan penundaan demensia hingga lebih dari satu dekade.
- Perokok, penderita diabetes, dan hipertensi di usia paruh baya memiliki risiko demensia 2,69 kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang bebas ketiga faktor tersebut.
- Temuan ini menegaskan bahwa intervensi dini pada tekanan darah, gula darah, dan kebiasaan merokok dapat menjadi strategi kunci pencegahan demensia, termasuk di Indonesia.

Menjaga tekanan darah tetap normal, tidak merokok, dan terhindar dari diabetes di usia paruh baya ternyata dapat memperpanjang masa hidup tanpa demensia hingga 13 tahun. Temuan ini berasal dari riset terbaru yang dipublikasikan di jurnal Neurology Open Access oleh peneliti NYU Langone Health, dan membuka harapan baru dalam upaya pencegahan penyakit neurodegeneratif yang selama ini dianggap tak terhindarkan.
Studi yang menganalisis data 12.409 partisipan dari Atherosclerosis Risk in Communities (ARIC) ini mengikuti perkembangan kesehatan mereka selama rata-rata 26,3 tahun. Hasilnya, mereka yang tidak memiliki tiga faktor risiko utama—merokok, diabetes, dan hipertensi—memiliki risiko demensia paling rendah. Sebaliknya, mereka yang memiliki ketiganya berisiko 2,69 kali lebih tinggi mengalami demensia. Lebih lanjut, perawatan kesehatan pembuluh darah yang baik di usia paruh baya dikaitkan dengan tambahan 12,6 tahun hidup bebas demensia.
Menurut Dung Trinh, MD, internis dari MemorialCare Medical Group yang tidak terlibat dalam penelitian, temuan ini menegaskan hubungan erat antara kesehatan jantung dan otak. "Tekanan darah tinggi, diabetes, dan merokok dapat merusak pembuluh darah, meningkatkan peradangan, dan mengurangi ketahanan otak seiring waktu," jelasnya. Namun, ia juga mengingatkan bahwa studi observasional ini tidak membuktikan hubungan sebab-akibat secara pasti. Angka 13 tahun tersebut merupakan perbandingan antara kelompok tanpa faktor risiko dengan kelompok yang memiliki ketiganya, dan mencerminkan interaksi antara waktu munculnya demensia dan harapan hidup secara keseluruhan.
Penelitian ini juga mengungkap perbedaan demografis yang menarik. Partisipan kulit hitam cenderung mengalami demensia lebih cepat dibandingkan kulit putih, dan mereka yang membawa gen APOE-e4—faktor risiko genetik yang dikenal—juga berisiko lebih tinggi. Sementara itu, perempuan rata-rata hidup lebih lama tanpa demensia dibandingkan laki-laki, namun karena usia harapan hidupnya lebih panjang, risiko demensia seumur hidup mereka justru lebih tinggi, mencapai 40 persen dibandingkan 33 persen pada laki-laki.
Josef Coresh, MD, PhD, peneliti senior studi ini, menekankan pentingnya mengenali faktor risiko sejak dini. "Kenali tekanan darah dan A1c Anda sejak usia 40-an, dan bertujuanlah untuk mencegah, bukan hanya mengobati," sarannya. Ia juga menyoroti bahwa diabetes yang didiagnosis sebelum usia 60 tahun membawa risiko demensia yang jauh lebih besar dibandingkan diabetes yang muncul di usia 65 tahun ke atas. Oleh karena itu, menunda onset diabetes memiliki nilai protektif yang signifikan.
Selain ketiga faktor utama tersebut, peneliti juga menyoroti komponen lain dari Life's Essential 8, seperti aktivitas fisik, pola makan, tidur, berat badan, dan kolesterol. Komisi Lancet 2024 bahkan mengidentifikasi 14 faktor modifikasi yang berkontribusi pada sekitar 45 persen kasus demensia, termasuk gangguan pendengaran, penglihatan, isolasi sosial, dan depresi. Trinh menambahkan bahwa pendekatan pencegahan yang paling kuat adalah dengan mengatasi kombinasi risiko vaskular, gaya hidup, sensorik, sosial, dan lingkungan sepanjang perjalanan hidup, bukan hanya satu perilaku tunggal.
Bagi Indonesia, temuan ini memiliki relevansi yang mendalam. Prevalensi hipertensi dan diabetes di Tanah Air terus meningkat, sementara kebiasaan merokok masih menjadi tantangan besar. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa sekitar satu dari tiga orang dewasa Indonesia menderita hipertensi, dan prevalensi diabetes mencapai 10,9 persen. Dengan populasi yang menua, beban demensia diproyeksikan meningkat tajam. Oleh karena itu, intervensi dini pada faktor risiko vaskular—melalui deteksi dini tekanan darah dan gula darah, promosi gaya hidup sehat, serta pengendalian tembakau—menjadi langkah strategis yang tidak bisa ditunda.
Pesan utama dari studi ini adalah peluang, bukan kepastian atau stigma. "Risiko demensia seringkali dapat dikurangi, tetapi tidak dapat dihilangkan, dan orang yang mengembangkan demensia tidak boleh disalahkan," tegas Trinh. Ia juga mengingatkan bahwa pilihan sehat sangat bergantung pada akses terhadap layanan kesehatan primer, obat-obatan terjangkau, makanan bergizi, tempat olahraga yang aman, dan layanan berhenti merokok. Dengan demikian, melindungi jantung dan pembuluh darah di usia paruh baya bukan hanya tentang memperpanjang hidup, tetapi juga menjaga kualitas kognitif di masa tua. Pertanyaannya kini: apakah sistem kesehatan Indonesia siap untuk mengadopsi strategi pencegahan ini secara masif?



