Menjaga Memori Kolektif: Onlewo dan Seni Mengubah Detail Sehari-hari Singapura Menjadi Desain Kontemporer
Baca dalam 60 detik
- Desainer Mike Tay mendirikan Onlewo pada 2015 setelah 15 tahun berkarier di dunia korporat, mengubah detail arsitektur dan budaya Singapura menjadi produk kontemporer.
- Karya Onlewo, mulai dari wallpaper hingga set mahjong untuk Patek Philippe, menunjukkan bahwa desain dapat menjadi medium untuk menyampaikan narasi budaya dan emosi.
- Kehadiran Onlewo di ruang publik dan korporasi, termasuk kantor BlackRock dan Kedutaan Singapura di Seoul, menegaskan bahwa desain berakar lokal mampu menembus pasar global.

Dari kejauhan, pola-pola yang dirancang Mike Tay tampak seperti sekadar grafis elegan. Namun, saat diamati lebih dekat, setiap detailnya menyimpan kisah khas Singapura—ubin Peranakan, bunga Vanda Miss Joaquim, fasad HDB, hingga ikon-ikon kota yang dirajut dalam desain yang rumit. Bagi Tay, desainer di balik studio Onlewo, pola bukan sekadar hiasan, melainkan kendaraan untuk memantik percakapan dan membangkitkan kenangan.
Onlewo, yang berdiri sejak 2015, lahir dari kegelisahan Tay setelah 15 tahun berkutat di dunia korporat. Bersama rekannya, Eugene Yip, ia memutuskan untuk mendirikan studio yang mengangkat warisan lokal Singapura menjadi produk kontemporer—mulai dari perabot rumah, fesyen, hingga suvenir. Nama Onlewo sendiri diambil dari frasa Mandarin "an le wo" yang berarti "sarang yang damai dan bahagia", sebuah filosofi yang ingin diwujudkan melalui setiap karyanya.
Perjalanan kreatif Tay tidak dimulai dari bangku sekolah desain. Ia otodidak, belajar dari fotografi, bereksperimen dengan Photoshop, dan mendalami teknik cetak di waktu luang. Ketertarikannya pada detail-detail kecil yang sering diabaikan orang justru menjadi kekuatan utamanya. "Saya selalu tertarik pada warna, cerita, alam, dan tempat. Bahkan sebelum menjadi desainer, saya sudah terbiasa memperhatikan hal-hal yang orang lain lewatkan," ujarnya.
Salah satu momen yang membentuk arah kreatifnya adalah ketika tinggal di Tiong Bahru, kawasan dengan arsitektur Art Deco dan apartemen pra-perang yang dilestarikan. "Saat pindah ke sana, rasanya seperti kembali ke masa kecil. Tangga spiral, kisi-kisi logam, mozaik warna-warni—semua detail itu ternyata menyimpan memori dan emosi yang menjadi bagian dari identitas kolektif kita," kenang Tay. Kesadaran inilah yang menjadi fondasi Onlewo: menciptakan produk yang merayakan budaya Singapura sekaligus menangkap perasaan orang terhadap tempat tinggalnya.
Inspirasi lain datang saat berkunjung ke Hong Kong dan menemukan merek Goods of Desire. Tay melihat bagaimana fasad bangunan tua dan detail urban sehari-hari disulap menjadi produk kontemporer yang penuh warna. "Itu membuka mata saya bahwa elemen biasa di sekitar kita bisa menjadi desain ekspresif," katanya. Sekembalinya ke Singapura, ia melihat celah: suvenir memang banyak, tetapi produk homeware yang dirancang dengan cerita lokal secara kontemporer masih langka.
Portofolio Onlewo tidak hanya terbatas pada produk komersial. Tay juga menerima pesanan khusus dari klien korporat dan institusi, termasuk hadiah kenegaraan untuk instansi pemerintah dan pakaian untuk acara diplomatik. Salah satu proyek favoritnya adalah set mahjong untuk Patek Philippe dan desain kamar tamu di The Fullerton Hotel dengan wallpaper serta aksesori bernuansa Peranakan. "Saya merasa terhormat dipercaya mengerjakan proyek-proyek ini. Kami juga mewakili Singapura dalam pameran desain di luar negeri, memperkenalkan identitas kreatif kami kepada dunia," ungkap Tay.
Meski kini dikenal luas, perjalanan Onlewo tidak selalu mulus. Tay mengaku banyak yang meragukan pasar untuk wallpaper desainer bernuansa Singapura. "Banyak yang tidak percaya ada pasar untuk itu. Tapi saya memilih untuk percaya pada insting," katanya. Kini, wallpaper Onlewo menghiasi berbagai ruang, dari rumah pribadi hingga kantor perusahaan multinasional, membuktikan bahwa desain yang berakar pada lokalitas dapat diterima secara global.
Di rumahnya sendiri, Tay mengelilingi diri dengan karya-karya yang mengingatkannya pada filosofi Onlewo. Salah satu favoritnya adalah wallpaper bergambar anjing Jack Russell kesayangannya, Titus, yang telah tiada. Baginya, rumah adalah tempat perlindungan yang penuh cerita dan kenangan—sebuah "sarang yang damai" yang menjadi inspirasi awal berdirinya Onlewo. Pertanyaannya, mampukah pendekatan serupa diadopsi oleh desainer Indonesia untuk mengangkat kekayaan lokal Nusantara ke panggung global?



