Luis Figo Minta Gianni Infantino Mundur: Krisis Kepercayaan FIFA Makin Dalam
Baca dalam 60 detik
- Legenda Portugal, Luis Figo, secara terbuka menyerukan pengunduran diri Gianni Infantino dari kursi presiden FIFA, menambah daftar panjang kritik terhadap kepemimpinan pria Swiss itu.
- Seruan ini muncul di tengah kontroversi rencana FIFA menjual saham Piala Dunia kepada investor swasta, yang ditolak keras oleh UEFA, Concacaf, dan AFC.
- Jika tekanan terus menguat, posisi Infantino menjelang Piala Dunia 2026 berpotensi menjadi tidak stabil, dengan implikasi besar bagi distribusi pendapatan dan tata kelola sepak bola global.

Luis Figo, salah satu ikon sepak bola dunia, secara terang-terangan meminta Gianni Infantino meletakkan jabatannya sebagai Presiden FIFA. Dalam pernyataan yang diunggah melalui akun media sosialnya, Kamis (12/2), Figo menilai Infantino telah mengkhianati kepercayaan publik dan merusak martabat organisasi yang seharusnya dijunjung tinggi.
Serangan verbal dari mantan bintang Barcelona dan Real Madrid itu bukan sekadar kritik biasa. Figo menuduh Infantino melakukan kebohongan, tipu daya, dan memperkaya diri sendiri dengan mengorbankan kepentingan olahraga yang seharusnya ia layani. Pernyataan ini muncul di tengah gelombang penolakan terhadap rencana FIFA yang sempat ingin menjual saham Piala Dunia kepada pihak swastaโsebuah gagasan yang memicu kemarahan sejumlah konfederasi benua, termasuk UEFA, Concacaf, dan AFC.
Figo, yang kini berkiprah sebagai pengamat dan mantan kandidat presiden FIFA pada 2015, menegaskan bahwa Infantino telah kehilangan dukungan dari staf senior, penasihat dekat, dan bahkan penerima Penghargaan Perdamaian FIFA. "Sudah terlambat untuk menyelamatkan martabatnya, namun belum terlambat untuk menyelamatkan sepak bola. Ia harus mundur. Sekarang juga," tulis Figo, mengutip pernyataan yang ia bagikan di platform X.
Konteks Indonesia: Bagi pengamat sepak bola Tanah Air, kisruh ini bukan sekadar drama internal FIFA. Indonesia, yang tengah giat membenahi infrastruktur dan prestasi sepak bola, sangat bergantung pada dukungan FIFA, baik dari sisi pendanaan maupun pembinaan. Ketidakstabilan di pucuk pimpinan FIFA dapat berdampak pada program pengembangan yang sedang berjalan, termasuk potensi kerja sama dengan PSSI. Selain itu, keputusan FIFA soal komersialisasi turnamen global akan memengaruhi alokasi dana untuk federasi-federasi berkembang seperti Indonesia.
Figo juga menyoroti bahwa Infantino telah "menghinakan" jabatan yang sebelumnya ia janjikan akan diangkat derajatnya. Tuduhan ini mengingatkan pada janji-janji reformasi yang digaungkan Infantino saat pertama kali terpilih, namun sejumlah pihak menilai implementasinya jauh dari harapan. Kritik serupa sebelumnya juga dilontarkan oleh federasi-federasi Eropa yang merasa kebijakan FIFA terlalu sentralistik dan kurang transparan.
Rencana penjualan saham Piala Dunia yang memicu kontroversi ini sebenarnya telah dibatalkan setelah mendapat penolakan luas. Namun, langkah tersebut meninggalkan luka kepercayaan yang dalam. Figo menilai bahwa tindakan Infantino yang "mencoba memperkaya diri sendiri" adalah puncak dari serangkaian kebijakan yang mengutamakan kepentingan pribadi di atas kepentingan sepak bola global.
"Infantino telah merendahkan jabatan yang seharusnya ia muliakan. Ia telah berbohong, menipu, dan berusaha mengisi kantongnya sendiri dengan mengorbankan permainan yang seharusnya ia layani." โ Luis Figo
Tekanan terhadap Infantino diperkirakan akan terus meningkat, terutama menjelang Kongres FIFA berikutnya. Pertanyaan besarnya kini: akankah seruan Figo mendapat dukungan luas dari federasi-federasi anggota, atau justru menjadi angin lalu di tengah solidnya basis kekuasaan Infantino? Yang jelas, krisis kepercayaan ini tidak akan hilang dalam semalam, dan masa depan tata kelola sepak bola dunia berada di persimpangan jalan.



