Cerundolo Taklukkan Paul di Final Terpanjang Queen's Club, Ukir Sejarah untuk Argentina
Baca dalam 60 detik
- Francisco Cerundolo mengalahkan Tommy Paul dalam final tiga jam dua menit, merebut gelar ATP 500 pertamanya sekaligus menjadi juara Argentina pertama di Queen's Club.
- Petenis 27 tahun itu melewati empat dari lima pertandingan di set penentuan, total menghabiskan sekitar 12 jam di lapangan rumput London.
- Kemenangan ini memperkuat dominasi Amerika Selatan di tenis putra dan memberi sinyal kebangkitan petenis Argentina jelang Wimbledon.

Francisco Cerundolo menorehkan namanya dalam sejarah tenis setelah menaklukkan Tommy Paul di final Queen's Club Championships, Minggu (21/6), dalam pertarungan sengit selama tiga jam dua menit—final terlama dalam sejarah turnamen pramusim Wimbledon tersebut. Unggulan ketujuh asal Argentina itu menang 6-7(4), 6-4, 6-3, sekaligus mempersembahkan gelar ATP 500 perdana bagi negaranya di ajang bergengsi ini.
Pertandingan yang berlangsung di lapangan rumput Queen's Club, London, itu menyajikan duel baseline penuh intensitas. Paul, juara bertahan Queen's 2024, sempat unggul setelah memenangi tiebreak set pertama dan mematahkan servis Cerundolo saat petenis Argentina itu hendak memastikan set. Namun, performa Paul menurun di set kedua, dan Cerundolo memanfaatkannya untuk memaksakan set penentuan.
Cerundolo nyaris kehilangan momentum di set ketiga saat tiga match point menguap pada servis Paul yang tertinggal 2-5. Salah satunya karena net cord yang beruntung. Namun, petenis berusia 27 tahun itu tetap tenang dan menuntaskan laga pada gim servis berikutnya dengan smash keras, lalu ambruk di lapangan melepas beban. Ini menjadi gelar rumput kedua baginya setelah Eastbourne 2023, yang juga diraih dengan mengalahkan Paul di final.
Momen spesial lainnya adalah kehadiran ayah Cerundolo, Alejandro, yang untuk pertama kalinya menyaksikan putranya bertanding di luar negeri karena sebelumnya memiliki fobia terbang. "Dia hanya pernah menonton saya di Buenos Aires dan Piala Davis. Saya pikir mereka tiba saat saya unggul 5-3 di set ketiga," ujar Cerundolo kepada BBC. Sang ibu juga hadir, tiba di tengah final. "Saya sangat bahagia dan bangga pada diri sendiri. Tidak pernah membayangkan bisa menang di turnamen bersejarah seperti ini," tambahnya.
Bagi Indonesia, prestasi Cerundolo menjadi pengingat bahwa petenis dari negara berkembang tenis—seperti Argentina—masih mampu bersaing di level tertinggi. Hal ini relevan dengan upaya Persatuan Lawn Tennis Indonesia (PELTI) yang tengah mendorong pembinaan petenis muda di turnamen rumput, meski Indonesia belum memiliki turnamen ATP. Keberhasilan Cerundolo juga menunjukkan pentingnya ketahanan fisik dan mental, kualitas yang kerap menjadi kelemahan petenis Asia Tenggara di ajang internasional.
Dengan kemenangan ini, Cerundolo naik ke peringkat 20 besar dunia dan menjadi ancaman serius di Wimbledon yang akan dimulai pekan depan. Sementara Paul, yang sebelumnya juara Queen's 2024, harus puas sebagai runner-up. Pertanyaan besarnya: mampukah Cerundolo mempertahankan performa di lapangan rumput All England Club, atau justru Paul yang akan bangkit di Grand Slam berikutnya?



