Dari Jualan Es di Era Kolonial, Pria Ini Kumpulkan Harta Rp10 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Tasripin, pengusaha pribumi asal Semarang, mengakumulasi kekayaan setara Rp9,7 triliun dari bisnis es pada awal 1900-an.
- Pada masa kolonial, es menjadi komoditas langka dan mahal karena belum ada teknologi pendingin, membuka peluang bisnis yang sangat menguntungkan.
- Kisah Tasripin dan pengusaha es lainnya seperti Kwa Wan Hong menunjukkan bahwa inovasi dan keberanian mengambil risiko dapat mengubah nasib, bahkan di tengah keterbatasan.

Bisnis es pada era kolonial Hindia Belanda bukan sekadar usaha kecil-kecilan. Seorang pribumi bernama Tasripin membuktikan bahwa komoditas sederhana ini bisa menjadi tambang emas, dengan kekayaan yang diperkirakan mencapai hampir Rp10 triliun jika dikonversi ke nilai saat ini. Kisahnya menjadi cermin bagaimana kelangkaan dan inovasi mampu melahirkan konglomerasi di masa lalu.
Tasripin, yang lahir pada 1834, memulai usahanya dari pabrik es di Ungaran, Semarang, pada awal 1900-an. Delapan tahun kemudian, ia mendirikan pabrik es di Petelan, Semarang, yang disebut sebagai yang terbesar di kawasan tersebut. Pada masa itu, es menjadi barang mewah karena belum ada lemari pendingin. Harganya tinggi dan selalu laris, sehingga margin keuntungan sangat besar. Menurut laporan De Nieuwe Vorstenlanden (1919), saat meninggal, harta Tasripin mencapai 45 juta gulden. Dengan harga beras saat itu 6 sen per liter, ia bisa membeli 750 juta liter beras. Jika harga beras kini sekitar Rp13.000 per liter, nilai kekayaannya setara Rp9,7 triliun.
Tak hanya bergantung pada es, Tasripin juga melakukan diversifikasi bisnis ke rumah penjagalan dan jual-beli kulit hewan. Pendapatan bulanannya mencapai 30-40 ribu gulden, memungkinkannya memiliki banyak rumah dan tanah di Semarang. Kisah ini menunjukkan bahwa pada masa kolonial, pengusaha pribumi mampu bersaing dan meraih sukses besar, meskipun sistem ekonomi saat itu didominasi oleh pihak kolonial dan etnis Tionghoa.
Selain Tasripin, ada Kwa Wan Hong yang dijuluki "raja es" pertama di Indonesia. Pada 1895, ia mendirikan pabrik es Hoo Hien di Semarang, menggunakan campuran garam dan amonia untuk memproduksi es secara kimiawi. Menurut sejarawan Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya (1999), inovasi Kwa membuat es lebih terjangkau dan mengubah kebiasaan masyarakat menikmati minuman dingin. Ia juga menjadi cikal bakal industri es krim di Indonesia. Meski kekayaannya tidak setinggi Tasripin, Kwa memiliki banyak tanah, rumah, dan pabrik es di berbagai daerah.
Di Magelang, Robert Chevalier menjalankan bisnis es melalui NV Magelangsche Ijs en Mineralwater Fabriek sejak 1920. Ia memiliki tiga pabrik es dan meraih kesuksesan, sebelum akhirnya bangkrut saat pendudukan Jepang pada 1942. Kisah Chevalier mengingatkan bahwa bisnis es sangat bergantung pada stabilitas politik dan teknologi.
Bagi pembaca Indonesia, kisah para pengusaha es ini relevan untuk memahami sejarah kewirausahaan di tanah air. Mereka membuktikan bahwa peluang besar bisa muncul dari kebutuhan dasar yang belum terpenuhi. Di era modern, analogi serupa bisa ditemukan pada bisnis logistik rantai dingin atau distribusi barang mudah rusak. Pertanyaannya, mampukah pengusaha Indonesia saat ini menangkap peluang serupa dengan inovasi dan ketekunan seperti Tasripin dan Kwa?



