Kipas Angin Darurat Dipasang di Chinatown Complex, Pedagang Waswas Belum Tuntas
Baca dalam 60 detik
- Tujuh lapak di pusat jajanan Chinatown Complex Singapura mengalami kerusakan sistem pembuangan panas selama sepekan, membuat suhu kerja tak tertahankan.
- Dewan Kota Jalan Besar memasang kipas sementara pada Rabu (24/6), namun sejumlah pedagang meragukan efektivitas solusi jangka pendek ini.
- Perbaikan permanen diperkirakan memakan waktu dua bulan karena keterbatasan suku cadang, memicu kekhawatiran kelangsungan usaha dan kesehatan pedagang.

Setelah lebih dari sepekan berjualan di tengah terik yang menyengat akibat kerusakan sistem pembuangan udara, para pedagang di Chinatown Complex Food Centre, Singapura, akhirnya mendapatkan sedikit kelegaan. Pada Rabu (24/6), teknisi listrik mulai memasang kipas angin sementara di dua dari tujuh lapak yang terdampak, namun langkah ini disambut skeptis oleh sebagian pedagang yang meragukan ketahanan solusi darurat tersebut.
Sistem pembuangan panas yang berfungsi menyedot udara panas dari area memasak dilaporkan mati total sejak 17 Juni. Akibatnya, suhu di dalam lapak naik drastis. “Begitu masuk ke dalam lapak, beberapa detik saja langsung berkeringat,” ujar Melvin Chew, pemilik Jin Ji Teochew Braised Duck and Kway Chap. Tham Hin Kwok (68), pemilik Hao Dong Kitchen, mengaku tak punya pilihan selain bertahan meskipun panas menyengat. “Panas sekali, tapi usaha harus terus berjalan,” katanya.
Kekhawatiran awal pedagang adalah lamanya waktu perbaikan. Staf Dewan Kota Jalan Besar sempat menyebutkan bahwa perbaikan permanen bisa memakan waktu hingga dua bulan karena sulitnya mendapatkan suku cadang. Namun, pada awal pekan ini mereka mendapat kabar bahwa solusi sementara akan dipasang pada Rabu. Tiga teknisi terlihat memasang kipas kecil di tudung masak Chew untuk menyedot panas ke saluran pembuangan, lalu beralih ke lapak di sebelahnya. Salah satu pemilik lapak meminta teknisi kembali lagi di siang hari agar tidak mengganggu jam makan siang.
Dewan Kota Jalan Besar, dalam pernyataan resminya, mengonfirmasi telah menerima laporan kerusakan pada 18 Juni dan tengah mempercepat proses perbaikan. “Kami telah melakukan pemeriksaan yang diperlukan dan mempercepat pekerjaan perbaikan untuk mengembalikan sistem secepat mungkin,” kata juru bicara dewan. Mereka juga menyebut tengah menjajaki “langkah sementara” lain untuk meningkatkan ventilasi dan mengurangi akumulasi asap. Namun, pernyataan itu belum mampu meredam kekhawatiran para pedagang. “Siapa yang akan melakukan pemeriksaan kualitas pada sistem sementara ini? Kalau rusak atau tidak memadai, kami harus menunggu lagi,” sindir Chew.
Kondisi ini memaksa Chew menutup lapaknya hingga Sabtu untuk beristirahat setelah bekerja dalam tekanan panas yang menguras tenaga. Pusat jajanan itu juga tutup pada Senin dan Selasa untuk pembersihan. Sementara itu, pedagang lain seperti Tong Yi Qin, pemilik Tai Hwa Traditional Coffee, lebih menerima keadaan. “Selama kipas sementara berfungsi, saya oke. Kalau tidak, panas akan terkonsentrasi di satu sudut dan bisa sangat menyengat,” ujarnya. Di tengah ketidakpastian, calon pedagang baru bernama Chia yang sedang merenovasi lapaknya dan berencana buka pekan depan dengan menu nasi lemak dan bihun, mengaku tidak bisa menunda pembukaan. “Kalau ditunda, sewa tetap berjalan,” katanya pasrah.
Kejadian ini menyoroti kerentanan infrastruktur di pusat jajanan legendaris Singapura. Bagi Indonesia, kisah ini menjadi pengingat pentingnya pemeliharaan sistem ventilasi di pasar tradisional dan pusat kuliner, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, atau Bandung yang memiliki iklim tropis serupa. Kegagalan sistem pembuangan panas tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berpotensi menimbulkan risiko kesehatan bagi pedagang dan menurunkan produktivitas. Pertanyaan yang tersisa: akankah solusi sementara ini cukup bertahan hingga perbaikan permanen selesai, atau justru menjadi awal dari masalah baru yang lebih panjang?



