Jerman Kunci Tiket Fase Gugur Piala Dunia, Pelatih Pantai Gading Sesali Minimnya Pengalaman
Baca dalam 60 detik
- Kekalahan 2-1 dari Jerman membuat Pantai Gading gagal lolos ke babak knockout Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 2014.
- Pelatih Emerse Fae menilai kurangnya pengalaman menjadi faktor krusial di momen-momen kritis, meski timnya sempat unggul lebih dulu.
- Fokus Pantai Gading kini beralih ke laga kontra Curacao, dengan keyakinan bahwa nasib mereka masih di tangan sendiri.

Kegagalan Pantai Gading mempertahankan keunggulan atas Jerman di laga pamungkas Grup E Piala Dunia 2026 membuat pelatih Emerse Fae mengakui bahwa faktor pengalaman menjadi pembeda utama. Tim berjuluk The Elephants harus mengakui keunggulan Der Panzer dengan skor 2-1 di Toronto, Kamis (20/6), meski sempat unggul lebih dulu melalui gol Franck Kessie.
Jerman akhirnya memastikan tiket ke babak gugur untuk pertama kalinya sejak edisi 2014 berkat dwigol striker tajam Deniz Undav. Pantai Gading sebenarnya tampil impresif dengan membuka skor di babak pertama melalui penyelesaian apik Kessie memanfaatkan rebound tembakan Amad Diallo. Namun, ketidakmampuan menambah gol di saat dominasi membuat mereka harus membayar mahal.
"Kami merasa frustrasi karena mampu unggul lebih dulu atas tim sekuat Jerman," ujar Fae dalam konferensi pers seusai pertandingan. "Perbedaan pengalaman terlihat jelas saat kami memiliki peluang di akhir laga, tetapi ragu-ragu untuk mencetak gol."
Bagi Pantai Gading, kekalahan ini menjadi pukulan telak mengingat mereka hanya butuh hasil imbang untuk lolos. Statistik menunjukkan bahwa tim asuhan Fae hanya melepaskan tiga tembakan tepat sasaran sepanjang laga, bandingkan dengan Jerman yang mencatatkan delapan. Kegagalan memanfaatkan momentum setelah unggul menjadi catatan kritis yang harus segera dibenahi.
Meski kecewa, Fae enggan larut dalam penyesalan. Ia memilih menjadikan kekalahan ini sebagai bahan evaluasi untuk pertandingan selanjutnya. "Kami akan menggunakan laga ini sebagai pelajaran untuk memperbaiki kesalahan dan kekurangan yang masih ada. Ini akan membantu kami melaju sejauh mungkin," tegasnya.
Kini perhatian Pantai Gading beralih ke duel hidup-mati melawan Curacao. Fae mengaku penasaran dengan kemampuan anak asuhnya menghadapi tekanan. "Kami ingin melihat mentalitas mereka yang sesungguhnya. Saya yakin mereka akan bertarung habis-habisan," katanya. Ia menambahkan, "Nasib kami masih di tangan kami sendiri, atau di kaki kami."
Bagi Indonesia, perjalanan Pantai Gading di Piala Dunia ini bisa menjadi cermin. Timnas Garuda, yang juga kerap dihuni pemain muda berbakat, sering kali kesulitan menghadapi tim-tim besar karena minimnya pengalaman di panggung internasional. Pelajaran dari Toronto: keunggulan sesaat tidak berarti tanpa ketenangan dan pengalaman di momen krusial. Pertanyaan besarnya, apakah Pantai Gading mampu bangkit dan membuktikan bahwa mereka layak bersaing di level tertinggi?



