Putra Tunggal Konglomerat Malaysia Tolak Warisan Rp89 Triliun, Pilih Hidup Sebagai Biksu
Baca dalam 60 detik
- Ven Ajahn Siripanyo, putra miliarder Ananda Krishnan, memilih menjadi biksu Buddha sejak usia 18 tahun, meninggalkan kekayaan US$5 miliar.
- Keputusan ini mencerminkan pergeseran nilai generasi miliarder Asia yang mulai memprioritaskan spiritualitas di atas materialisme.
- Kisah Siripanyo menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu identik dengan harta, relevan bagi pembaca Indonesia di tengah tekanan sosial ekonomi.

Seorang putra tunggal konglomerat Malaysia memilih meninggalkan warisan senilai Rp89 triliun demi menjalani kehidupan sebagai biksu Buddha. Keputusan yang diambil Ven Ajahn Siripanyo sejak usia 18 tahun itu menjadi bukti bahwa kebahagiaan tidak selalu berbanding lurus dengan kekayaan.
Siripanyo adalah anak laki-laki satu-satunya dari Ananda Krishnan, pendiri kerajaan bisnis yang membentang dari telekomunikasi, satelit, minyak, properti, hingga media. Kekayaan Krishnan diperkirakan mencapai US$5 miliar atau sekitar Rp89 triliun. Namun, alih-alih meneruskan imperium bisnis sang ayah, Siripanyo justru memilih jalan spiritual yang kontras dengan kemewahan masa kecilnya.
Keputusan itu dihormati penuh oleh keluarga. Dalam pernyataan yang dikutip dari South China Morning Post, keluarga menegaskan bahwa pilihan Siripanyo sepenuhnya berasal dari dirinya sendiri. Ia tidak pernah dipaksa, dan keluarga mendukung penuh perjalanan spiritualnya.
Siripanyo tidak hanya lahir dari keluarga superkaya, tetapi juga memiliki darah bangsawan Thailand dari pihak ibu, Momwajarongse Suprinda Chakraban. Ia tumbuh di London bersama dua saudara perempuannya, menempuh pendidikan di Inggris, dan menguasai sedikitnya delapan bahasa. Pengalaman lintas budaya itu disebut membentuk cara pandangnya yang unik terhadap dunia dan memperdalam pemahamannya tentang ajaran Buddha.
Awalnya, Siripanyo hanya mengikuti retret keagamaan di Thailand untuk sementara. Namun, pengalaman itu berubah menjadi panggilan seumur hidup. Selama lebih dari dua dekade, ia hidup sebagai biksu hutan di Biara Dtao Dum, dekat perbatasan Thailand dan Myanmar. Kehidupannya kini sangat sederhana: meninggalkan materialisme, bergantung pada kemurahan hati masyarakat, dan menjalankan ajaran Buddha yang menekankan kesederhanaan.
Meski memilih jalan monastik, Siripanyo tetap menjaga hubungan dengan keluarga. Ia sesekali mengunjungi sang ayah, namun tetap berpegang pada prinsip-prinsip Buddha yang menghargai ikatan keluarga tanpa terikat pada harta. Kisahnya sering dibandingkan dengan tokoh fiksi Julian Mantle dalam novel The Monk Who Sold His Ferrari, tetapi perjalanan Siripanyo adalah nyata.
"Pilihan Ajahn Siripanyo sepenuhnya adalah pilihannya sendiri, dan itu dihormati dalam keluarga," tulis laporan yang dikutip dari South China Morning Post (SCMP) melalui Economic Times.
Bagi pembaca Indonesia, kisah ini relevan di tengah tekanan sosial yang sering mengukur kesuksesan dari materi. Fenomena anak muda meninggalkan karier demi spiritualitas mulai terlihat, meski belum sebanyak di Thailand atau Myanmar. Siripanyo menjadi contoh bahwa kebahagiaan bisa ditemukan di luar gemerlap harta, sebuah pengingat bagi generasi milenial dan Gen Z yang kerap dilanda kecemasan akan masa depan finansial.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah tren meninggalkan warisan demi spiritualitas akan meningkat di Asia Tenggara, atau justru tetap menjadi pengecualian langka di tengah hiruk-pikuk materialisme? Yang jelas, pilihan Siripanyo telah membuka diskusi tentang makna kekayaan dan kebahagiaan yang sesungguhnya.



