US Open 2025: Clark Kokoh di Puncak, Scheffler Mengintip dari Jarak Enam Pukulan
Baca dalam 60 detik
- Wyndham Clark memimpin dengan keunggulan enam pukulan setelah ronde ketiga US Open di Shinnecock Hills, memperkuat peluangnya menjadi juara wire-to-wire pertama sejak 2014.
- Scottie Scheffler, yang bangkit dari awal buruk dengan skor 69, menjadi ancaman terbesar meski sejarah mencatat hanya sekali keunggulan enam pukulan terbalik di major pria.
- Kondisi lapangan yang ekstrem—angin 40 mph dan green keras—membuat rata-rata skor ronde ketiga menjadi 73,61, tertinggi sepanjang turnamen.

Wyndham Clark memantapkan posisinya sebagai kandidat terkuat merebut gelar US Open keduanya setelah ronde ketiga yang penuh tekanan di Shinnecock Hills, Sabtu (14/6), dengan keunggulan enam pukulan atas Scottie Scheffler dan tiga pesaing lainnya.
Pegolf Amerika berusia 32 tahun itu mencatatkan skor level par 70 dalam kondisi lapangan yang ganas—angin bertiup hingga 40 mil per jam dan green yang semakin keras. Keunggulannya kini menjadi enam pukulan, memperbesar jarak dari empat pukulan pada awal hari. Jika ia mampu mempertahankan performa hingga ronde final, Clark akan menjadi juara wire-to-wire pertama sejak Martin Kaymer pada 2014.
Di posisi kedua, empat pegolf berada di satu-under par: Sahith Theegala, Tom Kim, Sam Stevens, dan yang paling mengancam, Scottie Scheffler. Kehadiran Scheffler—peringkat satu dunia—menjadi momok bagi Clark, meskipun sejarah major pria hanya mencatat satu kali keunggulan enam pukulan terbalik di ronde final: saat Greg Norman kalah dari Nick Faldo di Masters 1996.
Scheffler, yang merayakan ulang tahun ke-30 pada hari Minggu, memiliki motivasi ekstra. Kemenangan di US Open akan memberinya gelar major kelima sekaligus melengkapi Grand Slam karier—prestasi yang hanya dicapai enam legenda: Gene Sarazen, Ben Hogan, Gary Player, Jack Nicklaus, Tiger Woods, dan Rory McIlroy. "Turnamen ini sangat berarti bagi saya. Yang bisa saya lakukan adalah bermain bagus dan memberi diri saya kesempatan," ujar Scheffler, yang bangkit dari dua bogey di dua hole pertama dengan skor 69—satu-satunya skor di bawah par selain Emiliano Grillo (67).
Kondisi lapangan yang brutal membuat banyak pegolf elite terpuruk. Rory McIlroy sempat melesat ke dua-under setelah tiga birdie beruntun, termasuk putt sejauh 66 kaki, namun lima bogey di sembilan hole terakhir menggagalkan peluangnya. Matt Fitzpatrick, juara US Open 2022, memulai ronde dengan tiga bogey beruntun dan finis delapan pukulan di belakang Clark. "Ini adalah ujian ketahanan mental yang sesungguhnya," komentar seorang analis golf.
Bagi pegolf di satu-under, satu-satunya harapan adalah bermain rendah pada hari Minggu dan berharap Clark melakukan kesalahan. Tommy Fleetwood, yang memulai delapan pukulan tertinggal, bisa menjadi inspirasi: pada US Open 2018 di Shinnecock Hills yang sama, ia mencatatkan skor 63 di ronde final untuk naik dari enam pukulan menjadi hanya satu pukulan di belakang juara Brooks Koepka. "Kenangan indah di tempat ini memberi saya kepercayaan diri," kata Fleetwood.
Clark sendiri sadar bahwa sejarah berpihak padanya. Hanya tiga pegolf yang pernah finis di bawah par di Shinnecock Hills dalam US Open: Ray Floyd (1986), Retief Goosen (2004), dan Phil Mickelson (runner-up 2004). Jika ia mampu bergabung dengan mereka, trofi hampir pasti menjadi miliknya. Namun, dengan Scheffler di pairing final, tekanan akan sangat besar. Pertanyaannya: akankah Clark bertahan, atau Scheffler menulis ulang sejarah?



