Gencatan Senjata Lebanon Runtuh di Tengah Perundingan Iran-AS: Selat Hormuz Ditutup
Baca dalam 60 detik
- Iran menutup Selat Hormuz dan menuduh AS gagal menegakkan gencatan senjata di Lebanon, mengancam pasokan energi global.
- Pertempuran antara Israel dan Hizbullah kembali pecah setelah gencatan senjata singkat, dengan korban jiwa di pihak Lebanon.
- Perundingan di Swiss antara Iran dan AS berlangsung di tengah ketidakpastian, sementara Indonesia berpotensi terdampak kenaikan harga minyak.

Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menutup Selat Hormuz pada Sabtu (21/6), bertepatan dengan dimulainya perundingan damai antara Teheran dan Washington di Swiss. Langkah ini diambil sebagai respons atas serangan Israel di Lebanon yang dinilai Iran melanggar klausul gencatan senjata dalam kesepakatan sementara 14 poin kedua negara.
Keputusan Iran menutup jalur strategis yang dilalui sepertiga pasokan minyak dunia langsung memicu kekhawatiran global. Presiden AS Donald Trump melalui media sosial menyatakan bahwa tidak akan ada pungutan tol bagi kapal yang melintas selama gencatan senjata 60 hari, namun membuka kemungkinan pengenaan biaya jika perundingan gagal. Trump menyebut pungutan itu sebagai "imbalan atas jasa sebagai malaikat pelindung negara-negara Timur Tengah".
Di Lebanon, gencatan senjata yang baru diumumkan AS dan Qatar pada Jumat (20/6) langsung terusik. Militer Israel melancarkan serangan udara ke sekitar 20 lokasi di Lebanon selatan, menewaskan sedikitnya 23 orang, termasuk 16 di daerah Nabatieh. Hizbullah membalas dengan lebih dari 50 proyektil ke posisi Israel, dan mengklaim berhasil menggagalkan upaya infiltrasi Israel di Bukit Ali Taher.
Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Mohammad Mokhber, menuduh AS gagal mengimplementasikan klausul pertama kesepakatan yang mewajibkan gencatan senjata di semua lini, termasuk Lebanon. "Selama perjanjian hanya di atas kertas, aliran energi Timur Tengah akan tetap terhenti," tulisnya di platform X. Sikap keras ini menempatkan perundingan Swiss di ambang kegagalan, meskipun delegasi teknis dari kedua negara sudah hadir.
Bagi Indonesia, eskalasi ini menjadi alarm kenaikan harga minyak dunia. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap gangguan di Selat Hormuz berpotensi membebani anggaran subsidi energi dan mendorong inflasi. Pemerintah Indonesia perlu mengantisipasi gejolak pasar dengan memperkuat cadangan strategis dan diversifikasi sumber impor. Selain itu, konflik yang melibatkan Hizbullahโyang memiliki jaringan simpatisan di Indonesiaโdapat memicu polarisasi opini publik.
Di lapangan, warga Lebanon kembali hidup dalam ketakutan. Fadi Zayat, pengungsi dari Tayr Debba, mengaku baru kembali ke desanya beberapa hari lalu namun sudah menyiapkan tas untuk mengungsi lagi. "Kami menunggu keputusan serius untuk mengakhiri perang agar bisa kembali ke kehidupan normal," katanya. Sementara itu, Duta Besar Israel untuk AS, Yechiel Leiter, bersikukuh bahwa Hizbullah yang melanggar gencatan senjata dan Israel hanya membela diri.
Perundingan Swiss dijadwalkan berlangsung dua bulan untuk membahas isu-isu yang belum terselesaikan, termasuk program nuklir Iran. Namun, dengan saling tuding dan pertempuran yang masih berlangsung, prospek perdamaian masih jauh dari kata pasti. Pertanyaannya, akankah AS dan Iran mampu mengendalikan sekutu-sekutu mereka di lapangan sebelum konflik ini meluas menjadi perang regional?



