Polisi Malaysia Usut Anggotanya yang Viral Hina Warga China: Investigasi Disiplin Diluncurkan
Baca dalam 60 detik
- Seorang personel Polisi Kerajaan Malaysia diselidiki secara disiplin usai video dirinya diduga menghina warga setempat saat bertugas di China menjadi viral.
- Kapolri Malaysia menegaskan bahwa personel tersebut tetap bertugas aktif hingga hasil investigasi tuntas, dan pelanggaran hukum akan ditindak tegas.
- Kasus ini memicu perhatian media asing dan menjadi pengingat pentingnya etika aparat, termasuk saat berada di luar negeri.

Polisi Kerajaan Malaysia (PDRM) resmi membuka penyelidikan disiplin terhadap salah satu anggotanya yang diduga melontarkan hinaan kepada warga setempat saat berada di China. Video aksi personel yang juga dikenal sebagai influencer media sosial itu viral dan menuai kecaman luas, termasuk dari media internasional.
Inspektur Jenderal Polisi Tan Sri Mohd Khalid Ismail mengonfirmasi bahwa personel tersebut masih aktif bertugas sementara proses investigasi berlangsung. "Saya meminta semua pihak tetap tenang. Polisi akan melakukan penyelidikan menyeluruh. Selain aspek disiplin, tindakan hukum juga akan diambil jika terbukti ada pelanggaran," ujarnya di Kuala Lumpur, Selasa (23/6).
Kontroversi bermula saat personel tersebut diduga meneriakkan kata-kata tidak pantas sambil menutup hidung di area publik di China. Tindakan itu dianggap menghina warga setempat dan langsung menyebar luas di media sosial. PDRM pun bergerak cepat dengan membuka penyelidikan internal.
Mohd Khalid menekankan bahwa setiap anggota polisi wajib menjaga perilaku di mana pun berada, termasuk saat di luar negeri. "Mereka tetap terikat pada peraturan dan prosedur operasi standar kepolisian, meskipun tidak berseragam," tegasnya.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya etika aparat keamanan yang bertugas atau bepergian ke luar negeri. Dengan meningkatnya mobilitas personel TNI/Polri dalam misi internasional atau kunjungan resmi, standar perilaku yang ketat mutlak diperlukan untuk menjaga citra institusi dan hubungan bilateral.
Di sisi lain, dalam kesempatan yang sama, Mohd Khalid juga menyoroti kesejahteraan pensiunan polisi. Ia berharap pemerintah Malaysia meninjau ulang tunjangan "pejuang" (warrior's allowance) yang belum berubah sejak 2009. Tunjangan ini diberikan kepada penerima penghargaan Seri Pahlawan Gagah Perkasa (SP) dan Pingat Gagah Berani (PGB).
"Kenaikan biaya hidup sudah sangat terasa. Sudah 17 tahun tunjangan ini tidak dievaluasi. Kami berharap ada perhatian serius dari pemerintah," ujar Mohd Khalid, mengutip keluhan yang disampaikan oleh Ketua Asosiasi Purnawirawan Perwira Senior Polisi Malaysia (Respa), Datuk Meor Chek Hussein Mahayuddin.
Kasus viral ini menjadi ujian bagi kredibilitas institusi kepolisian Malaysia. Akankah investigasi berjalan transparan dan memberikan efek jera? Atau justru akan meredup ditelan isu kesejahteraan yang juga mendesak? Publik menanti langkah konkret PDRM.



