Naira Terpuruk ke N1.370, Volume Transaksi Antar Bank Anjlok 43%
Baca dalam 60 detik
- Nilai tukar naira terhadap dolar AS jatuh ke level N1.370 per dolar di pasar resmi, terendah dalam sepekan terakhir.
- Volume transaksi valas antarbank merosot 43% menjadi hanya USD 39,9 juta, menandakan tekanan likuiditas yang kian parah.
- Kenaikan harga minyak Brent ke USD 80,57 per barel akibat gagalnya perundingan AS-Iran belum mampu menopang naira.

Naira Nigeria kembali terperosok ke level terlemahnya dalam sepekan terakhir, ditutup pada N1.370,4556 per dolar AS di pasar valuta asing resmi (NFEM) pada Jumat (28/3). Penurunan ini terjadi di tengah merosotnya volume transaksi antarbank yang anjlok hingga 43%, menandakan kian mengeringnya pasokan dolar di pasar domestik.
Berdasarkan data harian Bank Sentral Nigeria (CBN), nilai tukar naira melemah dari posisi N1.363,4050 pada hari sebelumnya. Sepanjang sesi perdagangan Jumat, naira bergerak fluktuatif di kisaran N1.365 hingga N1.374 per dolar. Intervensi CBN yang melambat dalam beberapa pekan terakhir menjadi salah satu pemicu utama tekanan likuiditas di jendela resmi.
Volume transaksi valas antarbank tercatat hanya USD 39,897 juta dari 59 deal, anjlok dibandingkan USD 69,918 juta pada hari sebelumnya. Angka ini merupakan yang terendah dalam lima hari perdagangan terakhir. Para pelaku pasar menilai penurunan suplai dolar AS dan meningkatnya permintaan untuk pembayaran luar negeri menjadi faktor dominan yang mendorong pelemahan naira sepanjang pekan ini.
Di sisi lain, harga minyak mentah Brent mencatat kenaikan tipis 0,9% menjadi USD 80,57 per barel setelah perundingan antara Amerika Serikat dan Iran di Swiss batal mendadak. Pembatalan ini menambah ketidakpastian atas upaya mengubah kesepakatan sementara menjadi perdamaian permanen. West Texas Intermediate (WTI) juga menguat 1,23% ke USD 77,54 pada Jumat sore. Meski demikian, kenaikan harga minyak—yang menjadi andalan ekspor Nigeria—belum mampu mengimbangi tekanan likuiditas valas di dalam negeri.
Bagi Nigeria, pelemahan naira yang berkelanjutan berpotensi memperburuk inflasi impor dan meningkatkan beban utang luar negeri. Pemerintah dan CBN dihadapkan pada dilema: memperketat intervensi untuk menopang naira atau membiarkan mekanisme pasar berjalan dengan risiko volatilitas yang lebih tinggi. Para analis memperkirakan tekanan terhadap naira akan berlanjut dalam jangka pendek, terutama jika aliran dolar dari sektor minyak dan investasi asing tidak segera pulih.
Ke depan, pasar akan mencermati langkah CBN dalam mengelola likuiditas valas, termasuk kemungkinan penyesuaian suku bunga atau kebijakan makroprudensial lainnya. Pertanyaan besarnya, akankah kenaikan harga minyak yang didorong ketegangan geopolitik cukup kuat untuk mengimbangi arus keluar modal dan permintaan dolar yang tinggi?


