Perang Drone Ukraina Bongkar Ketergantungan Eropa pada Komponen China
Baca dalam 60 detik
- Komisi Eropa mengizinkan Ukraina membeli komponen drone dari China melalui pengecualian aturan, menunjukkan posisi Beijing yang sulit digantikan dalam rantai pasok.
- Analis menilai keunggulan China bukan pada teknologi tunggal, melainkan ekosistem manufaktur terintegrasi yang mampu memproduksi murah, cepat, dan dalam skala besar.
- Diversifikasi rantai pasok Eropa diperkirakan memakan waktu bertahun-tahun dan terhambat oleh ketergantungan pada material mentah serta komponen kritis yang dikuasai China.

Komisi Eropa pada April lalu menyetujui pengecualian yang memungkinkan Ukraina menggunakan dana pinjaman pertahanan Uni Eropa untuk membeli drone dengan komponen dari luar negara pemasok yang disetujui, sebuah keputusan yang menurut laporan Financial Times pada 15 Juli memungkinkan Kyiv membeli komponen drone dari China. Langkah ini secara gamblang memperlihatkan betapa dalamnya posisi Beijing dalam rantai pasok industri drone global, sekaligus menjadi pengingat bahwa Eropa belum mampu memproduksi komponen kunci secara mandiri dalam skala dan kecepatan yang dibutuhkan medan perang modern.
Keputusan ini lahir dari desakan kebutuhan operasional. Lebih dari empat tahun invasi Rusia, drone telah menjadi alat tempur utama kedua belah pihak, digunakan untuk pengintaian dan serangan dalam jumlah besar. Namun, tingkat kehilangan dan kebutuhan modifikasi yang cepat membuat mekanisme pengadaan konvensional kewalahan. Komisi Eropa pada 30 Juni mengakui bahwa keunggulan militer Ukraina bergantung pada perolehan produk kritis "dalam jumlah yang dibutuhkan dan dalam jangka waktu yang sangat singkat". Paket pengadaan drone senilai sekitar 6 miliar euro, dengan pembayaran pertama 3,9 miliar euro, menjadi bagian dari pinjaman dukungan Ukraina senilai 90 miliar euro yang dibentuk pada Februari.
Pengecualian yang diberikan pada 1 April itu mengizinkan drone yang dibeli di bawah program tersebut mengandung lebih dari 35 persen komponen dari luar negara pemasok yang disetujui. Ukraina beralasan bahwa produsen Ukraina dan Eropa tidak mampu memasok produk dalam jumlah cukup atau dalam jangka waktu yang diminta. Laporan FT menyebut keputusan itu "memungkinkan Kyiv membeli komponen China tertentu yang tidak cukup tersedia di Eropa", meskipun jenis komponen spesifik dan nilai pendanaannya tidak diungkapkan.
Fenomena ini menggarisbawahi realitas yang lebih luas: Eropa mungkin memiliki keahlian teknis untuk membuat suku cadang drone, tetapi belum mampu menandingi kemampuan China dalam memproduksinya dengan cepat, murah, dan dalam skala besar. Hao Nan, fellow Nuclear Futures di Ploughshares Fund, menilai keunggulan China tidak terletak pada satu komponen, melainkan pada ekosistem manufaktur yang terbangun selama puluhan tahun. "Fondasi komersial itu kemudian memiliki nilai strategis karena memberi China kapasitas lebih besar untuk meningkatkan produksi, mempercepat iterasi, dan memengaruhi rantai pasok yang tidak bisa dengan cepat digantikan ekonomi lain, terutama saat perang," ujarnya.
Andrii Tyndyk, CEO AeroMotors, produsen motor drone Ukraina, menggambarkan bagaimana di Shenzhen dan pusat manufaktur serupa, sebuah perusahaan bisa mendapatkan motor, pengontrol kecepatan, konektor, kamera, baterai, antena, dan pengontrol penerbangan dari pemasok dalam ekosistem industri yang sama. Sebaliknya, pemasok Eropa lebih terfragmentasi, beroperasi pada volume lebih rendah, dan tanpa kepastian permintaan pertahanan jangka panjang. Bryce Barros dari GLOBSEC menambahkan bahwa dalam perang yang teknologinya berubah sangat cepat, yang terpenting adalah ekosistem yang mendukung iterasi cepat, bukan pengembangan produk tunggal.
Posisi China dalam rantai pasok drone bersifat struktural, bukan transaksional. Hao menekankan bahwa China tidak ingin Eropa menganggapnya membantu Rusia, tetapi juga tidak ingin Moskow melihatnya mempersenjatai Ukraina. Tindakan Beijing baru-baru ini, seperti pembatasan ekspor drone ke AS pada 5 Agustus, menunjukkan kesediaan untuk menggunakan kendali ekspor sebagai alat politik. Namun, analis seperti Sun Yun dari Stimson Center menilai ketergantungan Eropa pada China tidak serta-merta menjadi kerentanan kritis, mengingat kedua pihak tidak mungkin berhadapan langsung dalam konflik. Meski demikian, ketergantungan itu memberi China kemampuan untuk memengaruhi agenda dan kebebasan bertindak Eropa.
Bagi Indonesia, dinamika ini relevan mengingat negara ini juga bergantung pada impor komponen pertahanan dan teknologi. Ketegangan antara Eropa dan China dalam rantai pasok drone dapat memengaruhi harga dan ketersediaan komponen serupa di pasar global. Lebih jauh, Indonesia yang tengah berupaya memperkuat industri pertahanan dalam negeri dapat belajar dari pengalaman Eropa: membangun ekosistem manufaktur tidak cukup dengan mengandalkan satu teknologi, tetapi membutuhkan investasi jangka panjang di seluruh rantai nilai, dari bahan baku hingga perakitan akhir.
Diversifikasi rantai pasok Eropa diperkirakan memakan waktu bertahun-tahun. Tantangan terbesar bukan hanya perakitan, tetapi juga produksi material khusus seperti magnet permanen dan baterai. Tyndyk menekankan bahwa memiliki deposit tanah jarang tidak otomatis menciptakan industri magnet; diperlukan rantai industri yang panjang, mulai dari pemurnian hingga manufaktur magnet berkinerja tinggi. Barros menyebut baterai sebagai salah satu hambatan industri dan teknologi terbesar, karena banyak produsen di luar China tetap bergantung pada mineral kritis atau kapasitas pemrosesan yang dikuasai China.
Hao memperkirakan pasar akan bergerak menuju "rantai pasok tersegmentasi", di mana sistem militer yang lebih sensitif menggunakan komponen dari Eropa atau mitra tepercaya, sementara komponen China yang lebih murah tetap digunakan untuk drone sekali pakai yang diproduksi dalam jumlah besar. Namun, kecepatan diversifikasi sangat bergantung pada jalannya perang. Jika operasi berintensitas tinggi berlanjut, Ukraina akan memprioritaskan volume, keterjangkauan, dan kecepatan pengiriman di atas otonomi rantai pasok. Sebaliknya, konflik berintensitas rendah memberi lebih banyak waktu untuk memenuhi syarat pemasok dan mendesain ulang sistem.
Sun Yun menegaskan tidak ada solusi sempurna bagi Eropa. "Jika Eropa ingin menghindari kerentanan, ia harus membangun rantai pasoknya sendiri, tetapi biayanya lebih tinggi dan tidak akan kebal, karena China juga memproduksi sebagian bahan mentah yang masuk ke rantai pasok itu. Tidak ada jawaban yang sempurna." Pertanyaan yang kini menggantung: mampukah Eropa dan Ukraina membangun industri drone yang mandiri di tengah tekanan perang dan persaingan geopolitik yang semakin tajam?



