Yen Melonjak, Kecurigaan Intervensi Jepang Menguat: Dolar AS Tertekan Data Inflasi
Baca dalam 60 detik
- Yen menguat tajam lebih dari 1% dalam sehari, memicu spekulasi intervensi otoritas Jepang tanpa konfirmasi resmi.
- Data inflasi AS yang melambat dan GDP kuartal II di bawah ekspektasi menekan dolar, memperkuat ekspektasi Fed tidak akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
- Bank of Japan diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga 1% pada Jumat, namun ada tekanan untuk mempercepat kenaikan di tengah inflasi akibat perang Iran.

Lonjakan nilai tukar yen terhadap dolar AS pada Kamis (30/7) langsung memicu spekulasi bahwa pemerintah Jepang telah turun tangan untuk menopang mata uangnya yang terus terpuruk. Pergerakan tajam ini terjadi di tengah pelemahan dolar secara global setelah data menunjukkan inflasi Amerika Serikat mulai mendingin, sementara bank sentral AS (The Fed) memilih untuk tidak menaikkan suku bunga.
Yen tercatat menguat lebih dari 1% dalam perdagangan intraday, sebuah pergerakan yang oleh para analis dianggap tidak wajar tanpa adanya intervensi. "Yen adalah aset yang biasanya stabil. Ketika dalam satu hari perubahannya mencapai hampir 2%, itu menandakan adanya intervensi," ujar Juan Perez, Direktur Senior Perdagangan di Monex USA. Meski demikian, Kementerian Keuangan Jepang belum memberikan konfirmasi resmi mengenai langkah tersebut.
Intervensi ini terjadi hanya sehari sebelum Bank of Japan (BOJ) mengumumkan keputusan suku bunganya pada Jumat. Para ekonom memperkirakan BOJ akan mempertahankan suku bunga di level 1%, namun laporan terbaru menunjukkan bahwa para pejabat bank sentral mulai mempertimbangkan percepatan kenaikan suku bunga untuk mengendalikan inflasi yang dipicu oleh melonjaknya harga energi akibat perang Iran.
Pelemahan dolar AS diperkuat oleh rilis data ekonomi yang mengecewakan. Departemen Perdagangan AS melaporkan bahwa indeks harga PCE, yang menjadi acuan inflasi The Fed, hanya naik 3,7% secara tahunan pada Juni, lebih rendah dari bulan sebelumnya. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi kuartal kedua hanya mencapai 1,5%, jauh di bawah perkiraan 2,1%. "Ada bukti bahwa harga-harga mulai mereda, tetapi pertumbuhan yang lemah menjadi kekhawatiran baru," kata Perez. Ia menambahkan bahwa jika The Fed harus lebih khawatir terhadap pertumbuhan daripada inflasi, hal itu akan sangat negatif bagi dolar.
Keputusan The Fed yang membiarkan suku bunga tidak berubah pada pertemuan pekan ini menambah ketidakpastian pasar. Ketua The Fed Kevin Warsh berjanji untuk tetap berkomitmen menurunkan inflasi, namun pernyataannya justru membingungkan pelaku pasar tentang langkah selanjutnya. Imbal hasil obligasi AS pun bergerak turun, semakin menekan dolar.
Di sisi lain, poundsterling juga menguat setelah Bank of England mempertahankan suku bunga, meskipun ada satu anggota dewan yang mendukung kenaikan karena tekanan inflasi akibat perang Iran. Sementara itu, bitcoin naik 2% ke $64.772, menunjukkan minat investor terhadap aset kripto masih tinggi di tengah ketidakpastian mata uang tradisional.
Bagi Indonesia, pergerakan yen dan dolar ini memiliki implikasi langsung. Penguatan yen dapat membuat barang impor dari Jepang menjadi lebih mahal, sementara pelemahan dolar berpotensi menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar dalam jangka pendek. Bank Indonesia perlu mencermati dinamika ini untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mengantisipasi dampak inflasi impor. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah BOJ benar-benar menaikkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan, dan bagaimana respons The Fed terhadap perlambatan ekonomi AS?



