Coinbase Cetak Rugi Kuartalan Ketiga Berturut-turut, Kripto Winter Belum Usai
Baca dalam 60 detik
- Coinbase membukukan kerugian bersih 359,5 juta dolar AS pada kuartal II-2023, tertekan oleh penurunan volume perdagangan di tengah kripto winter yang berkepanjangan.
- Pendapatan transaksi bursa kripto terbesar AS itu merosot 21% menjadi 599 juta dolar AS, sementara pendapatan dari langganan dan jasa juga terkoreksi 12,2%.
- Analis menilai adopsi stablecoin dan kejelasan regulasi menjadi kunci pemulihan, namun Coinbase dinilai tertinggal dalam inovasi tokenized equities dan perpetual futures.

Coinbase Global kembali mencatatkan kerugian kuartalan untuk periode April–Juni 2023, menandai tiga bulan beruntun bursa kripto terbesar di Amerika Serikat itu gagal membukukan laba di tengah lesunya pasar aset digital. Kerugian bersih mencapai 359,5 juta dolar AS, atau 1,36 dolar AS per saham, berbanding terbalik dengan laba bersih 1,43 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun lalu. Pengumuman tersebut langsung mendorong harga saham Coinbase turun 5,3% dalam perdagangan setelah jam reguler.
Pasar kripto sepanjang kuartal kedua berada dalam tekanan akibat investor yang menghindari aset berisiko di tengah ketidakpastian suku bunga AS, ketegangan geopolitik, serta arus keluar dana dari produk investasi kripto. Kondisi ini memperpanjang penurunan dari rekor tertinggi yang sempat diraih pada Oktober 2022. Pendapatan transaksi Coinbase pun merosot 21% menjadi 599 juta dolar AS, dari 764 juta dolar AS pada kuartal yang sama tahun sebelumnya.
Analis Third Bridge Jacob Zuller menilai musim dingin kripto yang dalam dan lamban terus menekan Coinbase, sementara kejelasan regulasi tak kunjung hadir. Menurutnya, tokenized equities dan perpetual futures bisa menjadi penopang untuk mengompensasi volume perdagangan spot, namun Coinbase justru tertinggal dalam kedua inovasi tersebut. Tanpa perubahan arah pasar kripto, Zuller memperkirakan Coinbase akan mengandalkan adopsi stablecoin yang lebih cepat.
Coinbase bukan satu-satunya platform yang merasakan dampak perlambatan. Robinhood Markets, pesaing yang lebih kecil dalam jumlah token yang ditawarkan, juga melaporkan penurunan pendapatan transaksi kripto kuartal kedua sebesar 38%. Hal ini mengonfirmasi bahwa volume perdagangan di seluruh pasar sedang lesu.
Di sisi regulasi, Coinbase menggantungkan harapan pada Clarity Act yang diperkenalkan pada Mei 2022. Undang-undang ini diharapkan memberikan kepastian hukum bagi platform perdagangan aset digital. Pekan lalu, Senat AS dari Partai Republik merilis versi revisi dari undang-undang tersebut, dengan negosiasi yang masih alot menjelang reses Agustus. CEO Coinbase Brian Armstrong menyatakan optimisme bahwa legislasi tersebut akan mencapai pemungutan suara penuh di Senat. "Ada banyak negosiasi menit-menit terakhir, yang bagi saya merupakan tanda bahwa semua pihak berinvestasi untuk menyelesaikannya," ujarnya dalam panggilan dengan analis.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa volatilitas pasar kripto global berdampak langsung pada ekosistem aset digital di dalam negeri. Meski regulasi kripto di Indonesia sudah lebih maju melalui Bappebti, sentimen negatif dari bursa utama dunia seperti Coinbase bisa memengaruhi kepercayaan investor lokal. Di sisi lain, adopsi stablecoin yang didorong oleh konsorsium Visa, Mastercard, dan Coinbase pada Juni lalu bisa membuka peluang baru bagi transaksi digital di Indonesia, terutama jika regulator memberikan ruang yang memadai.
Ke depan, pemulihan Coinbase sangat bergantung pada dua faktor: kenaikan harga kripto secara umum dan kepastian regulasi di AS. Jika Clarity Act gagal disahkan, bukan tidak mungkin bursa kripto akan semakin kesulitan menarik investor institusional. Pertanyaan besarnya, akankah kripto winter segera berakhir, atau justru semakin dalam?



