Dari Pelatihan Brutal ke Panggung Global: Kisah XG, Girl Band Jepang yang Mendobrak Batas
Baca dalam 60 detik
- XG, grup pop Jepang beranggotakan tujuh orang, menjalani enam tahun pelatihan ketat sebelum debut pada 2022, termasuk tinggal di asrama dan latihan dari pagi hingga malam.
- Melalui single viral 'Galz Xypher' dan penampilan di Coachella 2025, XG berhasil menembus pasar global, menjadi satu-satunya aksi Jepang di festival tersebut.
- Anggota termuda, Cocona, mengumumkan diri sebagai transgender maskulin dan non-biner pada Desember 2024, mendapat dukungan penuh dari anggota lain dan penggemar, mengubah makna nama grup menjadi 'Xtraordinary Genes'.

Tujuh perempuan muda berdiri melingkar, bergandengan tangan, sebelum melontarkan teriakan 'Hesono' ke udara. Ritual panggung grup pop Jepang XG ini bukan sekadar tradisi—ia melambangkan ikatan yang mereka sebut 'tali pusar', sebuah metafora untuk nasib dan persatuan yang tak terputus. Di balik sorotan lampu panggung Wembley Stadium, perjalanan mereka dari sistem pelatihan keras hingga panggung global menjadi kisah tentang ketahanan, identitas, dan transformasi.
XG—singkatan yang kini berarti 'Xtraordinary Genes'—terbentuk pada 2016 setelah menyaring ribuan kandidat di Jepang. Hanya 21 orang yang lolos ke tahap pelatihan, tinggal bersama di asrama dan menjalani jadwal padat dari subuh hingga malam: menyanyi, menari, dan belajar bahasa asing. Dokumentasi masa itu menunjukkan para trainee dimarahi karena mengunggah foto di media sosial, bahkan dipaksa melakukan squat hingga jatuh sakit atau menangis. 'Itu pertempuran melawan diri sendiri, fisik dan mental,' kenang Maya, salah satu anggota.
Namun, dari kerasnya pelatihan itulah solidaritas lahir. Chisa, anggota tertua, menyebut masa itu sebagai 'survival murni'. Saat kandidat dibagi ke dalam tim, persaingan berubah menjadi dukungan. 'Kami mulai sering berkumpul, menonton film horor sambil berpelukan di bawah selimut,' tambah Hinata. 'Rasanya seperti saudara kandung.' Ikatan ini menjadi fondasi XG, yang kemudian mereka wujudkan dalam konsep 'Hesono-o'—tali pusar yang menghubungkan takdir.
Debut mereka pada 2022 lewat 'Tippy Toes' langsung menegaskan ambisi global. Liriknya yang percaya diri—'Understand that we didn't come to play, here to dominate'—diikuti gebrakan 'Galz Xypher' yang memadukan tiga bahasa dan sampel lagu Aretha Franklin serta Rosalía. Kesuksesan ini membawa XG ke panggung Coachella 2025, sebuah pencapaian langka bagi artis Jepang. 'Saya masih merinding saat menonton rekamannya,' ujar Maya. 'Saya akan bekerja keras untuk bisa kembali ke panggung itu.'
Di tengah sorotan, anggota termuda Cocona mengambil langkah berani. Pada Desember 2024, di ulang tahunnya yang ke-20, ia mengumumkan dirinya sebagai transgender maskulin dan non-biner melalui Instagram. 'Saya lahir dan dianggap perempuan, tapi label itu tidak pernah mewakili siapa saya sebenarnya,' tulisnya. Pengakuan ini hampir tak pernah terjadi di industri J-pop yang ketat, namun anggota XG justru mendukung penuh. Jurin memotret bekas operasi top surgery Cocona, sementara Chisa meriasnya. Para penggemar pun merespons dengan cinta. 'Saya sangat bersyukur,' kata Cocona. 'Semoga melalui ini, orang lain merasa ada harapan.'
Setelah pengumuman itu, XG mengubah makna nama mereka dari 'Xtraordinary Girls' menjadi 'Xtraordinary Genes', menegaskan pesan bahwa menjadi diri sendiri adalah hal luar biasa. 'Mematahkan ide tetap dan prasangka adalah bagian besar dari konsep kami,' kata Jurin. Semangat ini tertuang dalam album terbaru mereka, The Core, yang meninggalkan gaya R&B retro untuk suara yang lebih ekspansif. Lagu 'Hypnotise' misalnya, mengambil inspirasi dari piano house CeCe Peniston, sementara 'O.R.B'—dengan pesan 'bro solidarity'—ditafsirkan sebagai dukungan untuk Cocona.
Bagi penggemar di Indonesia, perjalanan XG menawarkan cerminan tentang industri hiburan Asia yang mulai merangkul keberagaman. Meski belum ada jadwal manggung di Tanah Air, tur dunia mereka yang akan singgah di Wembley Arena London pada September 2025 bisa menjadi momentum untuk memperluas basis penggemar di Asia Tenggara. Dengan musik yang memadukan hip-hop, R&B, dan rock, serta pesan inklusivitas, XG membuktikan bahwa ikatan sejati—seperti tali pusar—tak pernah putus. Pertanyaannya, akankah industri musik Indonesia juga berani mengikuti jejak mereka dalam merayakan perbedaan?



