Olivia Rodrigo: Sukses Bukan Soal Puncak Tangga Lagu, Tapi Kebanggaan Berkarya
Baca dalam 60 detik
- Olivia Rodrigo mengaku masih mencari jati diri sebagai musisi di tengah popularitas yang melesat.
- Bintang pop 23 tahun itu menolak mengejar tren demi tangga lagu, lebih memilih karya yang autentik.
- London dan Manchester disebut sebagai kota yang memicu kreativitasnya, dengan cuaca hujan yang mendorongnya menulis.

Olivia Rodrigo, penyanyi pop yang namanya melesat dalam beberapa tahun terakhir, mengaku masih bergulat dengan satu pertanyaan mendasar: menjadi artis seperti apa dirinya sebenarnya? Di tengah sorotan publik dan tekanan industri, pelantun Drivers License itu justru memilih jalan yang tidak biasa—menolak mengejar angka di tangga lagu.
Dalam wawancara dengan Pitchfork, Rodrigo yang baru saja merilis album terbaru You Seem Pretty Sad for a Girl So in Love pada awal bulan ini, mengungkapkan bahwa ia belum sepenuhnya menemukan identitas artistiknya. “Saya harus benar-benar memikirkan tipe artis seperti apa yang ingin saya jadi. Semakin dewasa, semakin jelas, tapi saya rasa saya bukan tipe artis yang bisa selalu hadir di tengah arus utama dan membuat sesuatu yang mudah dikonsumsi,” ujarnya.
Pernyataan itu menjadi penegasan bahwa Rodrigo tidak tertarik menjadi mesin hits. Ia lebih memilih karya yang bercerita dan membuatnya bangga. “Saya lebih suka membuat album yang menceritakan kisah yang benar-benar saya banggakan, yang mengungkapkan sesuatu yang sudah lama ingin saya keluarkan dari dada,” katanya. “Tujuan utamanya adalah membuat sesuatu yang Anda banggakan—segala sesuatu yang lain terasa hampa jika tidak ada itu.”
Pilihan Rodrigo ini menarik jika dikaitkan dengan fenomena serupa di Indonesia. Beberapa musisi tanah air, seperti Nadin Amizah atau Hindia, juga mulai berani merilis karya yang lebih personal dan tidak melulu mengejar viralitas. Mereka membuktikan bahwa pendengar Indonesia ternyata haus akan konten yang otentik, bukan sekadar lagu yang mudah dicerna. Ini menjadi sinyal bahwa industri musik global dan lokal tengah bergerak ke arah yang sama: menghargai substansi di atas popularitas instan.
Selain soal arah karier, Rodrigo juga menyoroti peran kota dalam proses kreatifnya. Ia mengaku menjadi “versi terbaik dari dirinya” saat berada di London. Sebagian besar album barunya ditulis di ibu kota Inggris itu. “Mungkin karena di sana sering hujan, jadi yang bisa dilakukan hanya di dalam rumah dengan gitar dan menulis,” ujarnya kepada Dazed. Ia juga terinspirasi oleh Manchester, kota kelahiran band-band legendaris seperti Oasis, The Smiths, Joy Division, dan The Stone Roses. “Beberapa tahun lalu saya menghabiskan waktu di Manchester, dan hujannya deras sekali. Saya langsung berpikir, ‘Pantas saja banyak band hebat berasal dari sini!’”
Bagi musisi Indonesia, cuaca tropis mungkin tidak memberikan efek serupa. Namun, semangat yang sama bisa ditemukan di kota-kota seperti Yogyakarta atau Bandung, yang dikenal sebagai tempat lahirnya musisi-musisi dengan karya yang dalam dan eksperimental. Lingkungan, baik fisik maupun sosial, memang kerap menjadi katalis kreativitas yang tak ternilai.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah pendekatan Rodrigo ini menjadi tren baru di industri musik global? Atau justru ia akan tetap menjadi pengecualian di tengah mesin industri yang terus mendorong artis untuk menghasilkan hits instan? Yang jelas, langkah Rodrigo menunjukkan bahwa di era di mana data dan algoritma begitu dominan, masih ada ruang bagi seniman yang memilih untuk setia pada visi pribadinya.



