Joan Jett Tegaskan Tak Akan Hapus Lagu Gary Glitter: Beda Konteks, Beda Makna
Baca dalam 60 detik
- Musisi rock Joan Jett menolak menghapus lagu 'Do You Wanna Touch Me' dari setlist meski penciptanya, Gary Glitter, terpidana kasus pelecehan anak.
- Jett berargumen bahwa interpretasinya atas lagu tersebut memiliki lirik dan konteks yang berbeda, serta menyoroti standar ganda di industri musik.
- Keputusan ini memicu perdebatan tentang pemisahan karya seni dari pelaku, relevan pula bagi industri musik Indonesia yang kerap menghadapi dilema serupa.

Joan Jett, ikon rock yang dikenal lewat lagu 'I Love Rock 'n' Roll', menegaskan bahwa ia tidak akan menghapus lagu 'Do You Wanna Touch Me (Oh Yeah)' dari pertunjukannya, meskipun lagu tersebut ditulis oleh Gary Glitterโseorang musisi yang telah divonis bersalah atas serangkaian kejahatan seksual terhadap anak. Pernyataan ini disampaikan Jett dalam wawancara dengan The Telegraph, memicu diskusi hangat tentang etika, seni, dan tanggung jawab moral di industri hiburan.
Bagi Jett, lagu yang ia rekam ulang pada 1981 untuk album solo perdananya 'Bad Reputation' telah menjadi bagian dari identitas artistiknya. Ia mengakui bahwa isu ini mengganggunya, namun menolak untuk menghapus lagu tersebut semata-mata karena latar belakang penciptanya. "Tentu itu mengganggu saya. Tapi itu bukan konteks di mana saya menyanyikannya," ujar Jett. Ia juga menunjuk pada standar ganda yang berlaku di industri musik, dengan menyebut lagu Rolling Stones 'Star Star' yang secara eksplisit bercerita tentang remaja berusia 15 tahun. "Saya tidak membenarkan itu sama sekali," tegasnya.
Jett menambahkan bahwa versi yang ia bawakan memiliki lirik yang berbeda dari versi asli Glitter. "Jika Anda mendengarkan kata-kata yang saya nyanyikan, saya menyanyikan kata-kata yang berbeda dari apa yang dia katakan. Saya mencoba menjadikannya milik saya sendiri," jelasnya. Ia pun menantang kritik dengan pernyataan, "Jika orang ingin menyerang saya karena itu, silakan. Saya sudah pernah diserang untuk hal yang lebih."
Keputusan Jett ini tidak terlepas dari pengalamannya sebagai anggota The Runaways, band yang berusaha memberi suara pada perempuan muda yang tidak terwakili. Dalam wawancara dengan MOJO, ia mengungkapkan frustrasinya terhadap ketidakadilan yang ia hadapi. "Gadis remaja memikirkan seks, gadis remaja membicarakan seks, dan hanya karena itu membuat masyarakat tidak nyaman bukan berarti mereka akan berhenti," katanya. Jett menekankan pentingnya memberi ruang bagi perempuan untuk mengekspresikan diri, sama seperti laki-laki yang telah lama melakukannya. "Mick Jagger bisa naik ke atas panggung dengan penis tiup... Bukan berarti saya harus keluar dengan vagina tiup, tapi saya hanya mengatakan saya harus bisa melakukannya," ujarnya.
Di Indonesia, perdebatan serupa kerap muncul ketika karya seniman yang terlibat kontroversi masih dinikmati publik. Misalnya, kasus musisi yang terjerat hukum atau moralitas seringkali memicu pertanyaan: apakah kita bisa memisahkan karya dari pembuatnya? Perspektif Jett menawarkan sudut pandang bahwa konteks dan interpretasi ulang dapat menjadi pembeda. Namun, tidak sedikit pula yang berpendapat bahwa mendukung karya berarti mendukung pelaku, terutama dalam kasus kejahatan seksual.
Ke depan, pernyataan Jett kemungkinan akan terus memicu diskusi tentang etika dalam seni. Apakah publik akan semakin kritis terhadap latar belakang pencipta lagu, atau justru semakin terbuka pada interpretasi ulang yang mengubah makna asli? Di tengah gerakan #MeToo dan meningkatnya kesadaran akan keadilan, keputusan Jett menjadi ujian bagi keseimbangan antara penghargaan terhadap seni dan tanggung jawab moral.



