Blok M Jakarta: Desain Belanda, Kebangkitan, dan Permainan Kekuasaan Perkotaan
Baca dalam 60 detik
- Berikut terjemahan berita tersebut ke dalam Bahasa Indonesia dengan mempertahankan nada jurnalistik dan seluruh informasi: Para arsitek Belanda membayangkan Blok M sebagai…
- Desain aslinya mencakup jalan-jalan lebar, pasar sentral, dan alun-alun publik—fitur yang menjamin kemandirian.
- Visi ini menciptakan cetak biru perencanaan kota modern yang masih dimanfaatkan Jakarta hingga kini.

Para arsitek Belanda membayangkan Blok M sebagai lingkungan percontohan dengan ruang komersial, hunian, dan rekreasi yang terintegrasi. Desain aslinya mencakup jalan-jalan lebar, pasar sentral, dan alun-alun publik—fitur yang menjamin kemandirian. Visi ini menciptakan cetak biru perencanaan kota modern yang masih dimanfaatkan Jakarta hingga kini.
Pengabaian pasca-kemerdekaan dan perubahan demografi mendorong Blok M ke dalam kondisi 'seperti mati' yang berkepanjangan. Sektor informal mendominasi, sementara infrastruktur memburuk dan angka kriminalitas meningkat. Kawasan ini kehilangan pamornya sebagai destinasi utama, kalah bersaing dengan kawasan baru seperti Sudirman dan SCBD.
Revitalisasi yang dipimpin pemerintah sejak 2020 telah membalikkan kemunduran ini, dengan fokus pada pedestrianisasi, ruang hijau, dan zona ekonomi kreatif. Blok M kini menarik minat perusahaan rintisan, galeri seni, dan usaha kuliner, yang mengundang baik warga lokal maupun wisatawan. Kebangkitan ini mencerminkan tren global dalam merenovasi kawasan bersejarah untuk penggunaan modern.
Langkah Strategis: Kebangkitan Blok M membuktikan bahwa pengelolaan warisan perkotaan yang strategis dapat melampaui pembangunan lahan hijau. Langkah besar Jakarta selanjutnya: menghubungkan Blok M dengan jaringan MRT untuk mengalirkan komuter ke pusat yang bangkit kembali ini, memperkuat statusnya sebagai aset properti dan pariwisata utama.
Artikel ini disunting dengan bantuan AI untuk keterbacaan. Baca disini (link asli).



